Pengalaman iman dalam situasi krisis memainkan peranan penting dalam perkembangan hidup rohani dan perkembangan hidup emosional. Bahwa seperti Yohanes, walaupun sudah bertemu dan mengenal Yesus, tetap memiliki keraguan, demikian halnya kita.
Penulis: P. Kimy Ndelo CSsR;
JERNIH-Minggu Adven ketiga hari ini merupakan Minggu Gembira dengan ungkapan Gaudete in Domino semper: Bergembiralah selalu dalam Tuhan. Kegembiraan ini merupakan ekspresi sukacita karena kedatangan Yesus sebagai Penyelamat dalam hati dan dalam hidup orang beriman. Simbol yang dipakai untuk ekspresi ini adalah lilin merah yang dinyalakan dan pakaian imam yang juga berwarna merah.

Warna merah ini mengingatkan akan warna langit dan mentari pagi ketika matahari baru muncul di ufuk timur. Ini adalah simbol kehidupan baru yang terus menjadi cerah seiring dengan semakin tingginya matahari di atas horizon pandangan. Ini juga berarti hilangnya kegelapan sebagai simbol kematian.
Yang menarik, kegembiraan ini tidak hadir karena situasi yang ada memang memungkinkan kegembiraan itu, melainkan karena sebuah pengharapan. Bergembira untuk sesuatu yang akan tiba.
Bangsa Israel sedang berada dalam krisis tetapi Yesaya mengajak mereka bergembira karena saat pembebasan akan tiba, dimana Tuhan menyelamatkan mereka dari perbudakan Babilonia. Melalui tangan orang asing bahkan kafir, Raja Cyrus dari Persia, bangsa Israel diijinkan kembali ke tanah airnya setelah pembuangan selama 60 tahun.
Orang-orang Kristen sedang dalam masa sulit karena tekanan dan penganiayaan, khususnya dari kalangan Yahudi dan bangsa Romawi, tetapi Yakobus mengajak mereka berteguh dan bersukacita karena Kristus akan segera datang untuk mereka.
Yohanes Pembaptis sedang dalam penjara karena mengkritik raja Herodes, tetapi dia tetap mengikuti bagaimana karya Yesus bahkan mengutus murid-muridnya untuk memastikan identitas-Nya. Mungkin saja ada keraguan dalam hati Yohanes akan identitas mesianik Yesus karena apa yang dibuat dan dikatakan Yesus berbeda dari ekspektasi Yohanes dan orang Yahudi pada umumnya. Tapi itu tidak mengurangi keyakinannya sekaligus kegembiraannya akan Yesus yang tampil dan mempesona banyak orang. Yohanes sedang terkurung dalam jeruji besi tetapi menaruh harapan besar pada Yesus dan ajaran-Nya.
Itulah sebabnya Yesus memuji Yohanes dengan pengakuan istimewa: “Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis,” (Mat 11,11).
Disini nampak dengan jelas bagaimana pengalaman iman dalam situasi krisis memainkan peranan penting dalam perkembangan hidup rohani dan perkembangan hidup emosional. Bahwa seperti Yohanes, walaupun sudah bertemu dan mengenal Yesus, tetap memiliki keraguan, demikian halnya kita.
Jika kekecewaan merupakan syarat awal yang perlu bagi ketangguhan iman, demikian juga kita mesti terbuka bagi kemungkinan itu. Krisis, kekecewaan, putus asa, dan keraguan akan selalu ada dalam hidup kita, tetapi hendaknya hal-hal semacam ini tidak menjauhkan kita dari Kristus melainkan mendorong kita untuk semakin mendekatkan diri dan menemukan kegembiraan dan pengharapan di dalam Kristus. Karena hanya Dia-lah yang mampu mengeluarkan kita dari krisis dan kekecewaan, menghibur kita dalam keputusasaan, dan meneguhkan kita dalam keraguan kita.
*
Di Italia, beberapa Imam projo mengajak orangtuanya tinggal bersama mereka di pastoran. Daripada mereka tinggal sendirian dan dia sendiri tidak bisa membayar pembantu rumah tangga, tinggal bersama menjadi solusi bijaksana.
Suatu ketika hari minggu pagi, pastor ini tidak bangun. Ibunya mengetuk pintu perlahan-lahan tetapi tidak ada respon. Kemudian ibunya berteriak: “Bangun!!” Anaknya menjawab: “Tidak!” Ibunya berteriak lagi: “Bangun!!” Anaknya menjawab: “Kenapa harus bangun?” Ibunya menjawab: “Pertama, sarapan sudah siap. Kedua, hari ini minggu Adven III. Ketiga, engkau Pastor dan harus merayakan misa hari minggu! Jadi bangun atau aku siram air!!
(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Weetebula, Sumba tanpa Wa).