Jernih.co

Setetes Embun: Harta Terpendam

Bagaimana wujud Kerajaan Allah itu atau bagaimana kita mengenalnya?

Langkah pertama adalah menerima Yesus sebagai Allah dan Juruselamat kita, beriman kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Iman adalah harta yang sesungguhnya yang membuat seseorang rela mengorbankan apa saja untuk memilikinya dan mempertahankannya. Ada komitmen total disini.

Penulis: by P. Kimy Ndelo CSsR, ditulis ulang di Asrama Pewarta Injil Padadita Waingapu, Sumba tanpa Wa).

JERNIH-Seorang janda tua, karena miskin dan seorang diri, dibantu oleh pastor untuk menyewa rumah dan makanan. Sebetulnya dia mempunyai seorang anak yang merantau ke New York dan sukses disana. Suatu hari pastor bertanya: “Nyonya O’Leary, apakah anda pernah mendapat berita tentang putra anda?” Dengan bangga wanita itu menjawab: “Oh iya, setiap minggu dia menulis surat kepada saya, dan dalam surat dia selalu menyelipkan selembar foto”. 

Pastor penasaran ingin melihat foto yang dikirim setiap minggu. Dipikirnya bahwa itu foto keluarga, Pastor lalu meminta untuk melihat foto yang dimaksud. Janda tua ini mengambil semua foto yang diselipkan dalam kitab sucinya. Ternyata, foto-foto yang dimaksud itu adalah lembaran uang 100 dollar Amerika dengan gambar Benjamin Franklin. Janda mengira uang itu sekedar foto.

**

Yesus dalam Injil hari ini mengajarkan apa yang paling bernilai dalam hidup, yang diumpamakan sebagai mutiara atau harta terindah. Mutiara itu adalah Kerajaan Allah yang hadir di tengah dunia dan menjadi jalan keselamatan manusia. 

Pertanyaannya adalah bagaimana wujud Kerajaan Allah itu atau bagaimana kita mengenalnya?

Langkah pertama adalah menerima Yesus sebagai Allah dan Juruselamat kita, beriman kepada-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Iman adalah harta yang sesungguhnya yang membuat seseorang rela mengorbankan apa saja untuk memilikinya dan mempertahankannya. Ada komitmen total disini.

Kata-kata Paulus ini menunjukkan bagaimana Tuhan sesungguhnya merupakan mutiara tak tertandingi:

“Segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.” (Fil 3,8).

Ciri yang kedua adalah memohon dan menerima kebijaksanaan Tuhan dalam hidup. Kebijaksanaan atau SOPHIA sering diartikan sebagai Roh Allah sendiri. Allah adalah Sophia, dan memiliki kebijaksanaan berarti memiliki Allah sendiri. Sophia adalah Allah sendiri sebagai karunia bagi manusia.

Ketika Salomo berkata, “Berilah hamba-Mu hati yang pengertian untuk menghakimi umat-Mu dan untuk membedakan yang benar dari yang salah,” (1 Raj 3,9), dia sebetulnya meminta pikiran yang mampu melihat apa yang diabaikan okeh orang lain. Dia meminta hati yang penuh pengertian sehingga dia dapat memperlakukan orang dengan baik, bertindak penuh kasih dan membedakan yang benar dan yang salah. 

Dengan kata lain dia meminta hati dengan kemampuan untuk mendengarkan dengan jernih, kepekaan dalam memahami kebutuhan rakyatnya, kemampuan mengambil keputusan yang tepat sehingga  membangun masyarakat yang adil dan makmur.

Kebijaksanaan macam ini memberi kita wawasan tentang apa yang benar-benar penting dalam hidup. Sadar akan arti dan tujuan hidup, tentang apa yang benar-benar bernilai. Kebijaksanaan adalah pemahaman tentang di mana letak kesejahteraan dan kebahagiaan kita yang sebenarnya.

Sikap bijak inilah yang dipuji oleh Yesus dalam rangkaian kotbah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Yesus memuji pria dan wanita bijak yang telah mendengarkan dengan cermat, memahami, dan menanggapi pesannya. (Mat 13,44-52).

Dia tidak perlu dicari di masa lalu, dan tidak perlu diburu di masa depan. Dia ada di masa kini, saat ini dalam keseharian kita, dengan apa yang ada pada tiap detik hidup kita. Menghargai saat ini, dan bekerja bersama Tuhan saat ini adalah dasar semua kebijaksanaan. Setiap saat kita mempunyai sesuatu yang berharga dan bernilai, yang perlu diperlakukan dengan layak dan pantas.

 Kita perlu meneliti dengan baik, jangan-jangan kita juga mempunyai harta tak terhingga yang kita anggap sekedar “foto” lalu kita abaikan begitu saja.

(SETETES EMBUN, by P. Kimy Ndelo, CSsR; ditulis di Biara Santo Alfonsus-Konventu Redemptoris, Weetebula Sumba tanpa Wa).

Exit mobile version