Sajak di Beranda Luka

Dari balik meja kekuasaan yang berkilau, kau lempar kata-kata berbisa,
Kau hina aku sehina-hinanya, seolah martabatku tak punya sisa.
Ketika peluh buruh menguap di bawah terik langit kota yang gila,
Kau hina aku sehina-hinanya, sementara labamu melit bangga.
Kami membaca lembar sejarah yang koyak di ruang kelas yang sepi,
Kau hina aku sehina-hinanya, saat kami menagih janji yang kau kebiri.
Di atas tanah warisan leluhur yang kini berganti beton dan baja,
Kau hina aku sehina-hinanya, mengusir jemari tani dari sawahnya.
Suara kebenaran teredam di balik jeruji besi yang dingin dan beku,
Kau hina aku sehina-hinanya, menganggap remeh bising nuraniku.
Kau tukar keadilan dengan angka-angka di atas kertas penuh noda,
Kau hina aku sehina-hinanya, menertawakan tangis kami yang terlunta.
Di pasar-pasar kumuh tempat rakyat kecil mengais rekam mimpi,
Kau hina aku sehina-hinanya, dengan sekeranjang dusta berwajah rapi.
Matahari pun saksi bagaimana kesombonganmu merajai petang,
Kau hina aku sehina-hinanya, melupakan tanah tempatmu nanti terentang.
Kami tegak berdiri menganyam kesabaran di tengah badai tirani,
Kau hina aku sehina-hinanya, namun jiwaku takkan pernah mati.
Sebab di hadapan Tuhan, mahkota palsumu akan luruh menjadi debu,
Kau hina aku sehina-hinanya, tapi doa-doaku tetap membubung biru.(*)
BACA JUGA: Pidato Nye..Nye…Nye…





