Jernih.co

Ambisi Buta Trump Menyeret AS Lebih Memalukan dari Perang Vietnam

Berjanji ogah ikut intervensi militer, Trump justru menyeret AS ke dalam pusaran konflik yang gagal total. Iran terbukti gagal didenuklirisasi, Selat Hormuz tetap mencekik pasokan minyak dunia, dan para pengamat menilai diplomasi AS tak lebih dari lips service murahan yang jadi bahan tertawaan China dan Rusia.

WWW.JERNIH.CO –  Presiden AS Donald Trump boleh mengklaim memenangkan hampir setiap pertempuran melawan Iran. Namun, tiga bulan setelah melancarkan serangan ke Republik Islam tersebut, ia kini menghadapi pertanyaan yang lebih besar: Apakah ia justru kalah dalam perang ini?

Mengingat kendali Iran atas Selat Hormuz, penolakannya untuk tunduk pada isu nuklir, dan pemerintahan teokrasinya yang sebagian besar masih utuh, keraguan kian memuncak. Banyak pihak ragu Trump mampu mengubah kesuksesan taktis militer AS menjadi sebuah kemenangan geopolitik yang meyakinkan.

Sejumlah analis menilai klaim kemenangan mutlak yang berulang kali digaungkan Trump terdengar hampa. Pasalnya, kedua belah pihak kini terjebak di antara diplomasi yang tidak pasti dan ancaman Trump yang pasang-surut untuk melanjutkan serangan—langkah yang dipastikan memicu pembalasan sengit dari Iran di seluruh kawasan.

Orasi dan narasi yang terus dibombardir Trump bahwa ia bisa melakukan apa saja kepada Iran, faktanya bualan belaka. Ucapan-ucapan Trump tidak lebih dari seorang tukang obat.

Trump kini berisiko melihat AS dan sekutu Arab Teluknya keluar dari konflik dalam kondisi yang lebih buruk. Sebaliknya, Iran—meski babak belur secara militer dan ekonomi—bisa jadi berakhir dengan posisi tawar yang lebih kuat setelah membuktikan kapasitasnya dalam melumpuhkan seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Krisis ini memang belum berakhir. Beberapa pakar melihat adanya peluang bagi Trump untuk menemukan jalan keluar yang “menyelamatkan mukanya” jika negosiasi berpihak kepadanya. Namun, sebagian lain memprediksi masa depan pascaperang yang suram bagi Trump.

“Kita sudah berjalan tiga bulan, dan perang yang awalnya dirancang sebagai panggung kemenangan singkat bagi Trump kini tampak berubah menjadi kegagalan strategis jangka panjang,” ujar Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah untuk pemerintahan Republik maupun Demokrat.

BACA JUGA: Trump Umumkan Segera Tinggalkan Iran, AS Tolak Amankan Selat Hormuz

Bagi Trump, citra adalah segalanya, terutama mengingat kepribadiannya yang sangat sensitif jika dianggap sebagai “pecundang”—ejekan yang sering ia lontarkan kepada para rivalnya. Dalam krisis Iran ini, ia mendapati dirinya sebagai panglima tertinggi dari militer terkuat di dunia yang justru tertahan oleh kekuatan kelas dua yang merasa di atas angin.

Kondisi dilematis ini, menurut para analis, berpotensi membuat Trump—yang sejauh ini belum menentukan target akhir (endgame) yang jelas—makin keras kepala. Ia kemungkinan besar akan menolak kompromi apa pun yang tampak seperti kemunduran dari posisi maksimalnya, atau yang menyerupai kesepakatan nuklir era Obama tahun 2015 yang dulu ia batalkan pada periode pertama jabatannya.

Meski begitu, juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, membantah narasi tersebut. Ia menegaskan bahwa AS telah “memenuhi atau melampaui semua tujuan militer dalam ‘Operation Epic Fury’.”

“Presiden Trump memegang semua kartu as dan dengan bijak tetap membuka semua opsi,” tambahnya mencoba membenarkan ucapan bosnya.

Saat berkampanye untuk masa jabatan kedua, Trump berjanji tidak akan melakukan intervensi militer yang tidak perlu. Namun, ia kini justru membawa AS ke dalam pusaran konflik yang dapat merusak rekam jejak kebijakan luar negeri dan kredibilitasnya di mata dunia.

Kebuntuan yang terus berlanjut ini terjadi di tengah tekanan domestik yang hebat. Trump didera lonjakan harga bensin di AS dan merosotnya angka kepuasan publik (approval rating) setelah ia memulai perang yang tidak populer ini menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections) November mendatang. Partai Republik kini harus berjuang mati-matian untuk mempertahankan kendali atas Kongres.

Akibatnya, setelah lebih dari enam minggu gencatan senjata berjalan, beberapa analis menilai Trump dihadapkan pada pilihan sulit. Menerima kesepakatan yang cacat sebagai jalur keluar (off-ramp), atau melakukan eskalasi militer dengan risiko krisis yang jauh lebih panjang.

Jika diplomasi kolaps, salah satu opsi Trump adalah meluncurkan gelombang serangan tajam namun terbatas, mengklaimnya sebagai kemenangan akhir, lalu segera mengalihkan fokus. Masalahnya Iran sudah siap dengan skenario ini, bahkan beberapa video propagandanya menyebut rakyat Irantak terkecuali siap jadi garda republik.

Analis lain melihat kemungkinan Trump akan mencoba mengalihkan perhatian publik ke Kuba demi mengubah topik pembicaraan dan mengincar kemenangan yang relatif lebih mudah. Namun, jika itu dilakukan, ia berisiko salah mengalkulasi tantangan dari Havana. Beberapa pembantu Trump bahkan secara tertutup mengakui bahwa sang presiden keliru mengira operasi Iran akan semudah penggerebekan 3 Januari lalu yang berhasil menangkap presiden Venezuela.

BACA JUGA: Trump Akui Pasok Senjata ke Demonstran Iran Lewat Kurdi, Kelompok Oposisi Membantah

Kendati dihujani kritik, Trump bukan tanpa pembela. Alexander Gray, mantan penasihat senior di periode pertama Trump yang kini menjabat CEO konsultan American Global Strategies, menolak anggapan bahwa kampanye Iran ini telah gagal.

Menurut Gray, pukulan telak terhadap kemampuan militer Iran merupakan sebuah “kesuksesan strategis”. Perang ini juga dinilai berhasil mendekatkan negara-negara Teluk dengan AS sekaligus menjauhkan mereka dari pengaruh China, sementara masa depan program nuklir Iran masih terus berproses.

Faktanya, pertemuan dengan Jinping tempo hari bagi banyak pengamat disebut hanya lips service belaka. Tidak ada konklusi yang diperoleh AS dari situ. Bahkan membuat China lebih terkesan sukses menjamu Trump. Bahkan lalu menjamu Putin pula.

Namun, tanda-tanda frustrasi Trump karena gagal mengendalikan narasi publik mulai terlihat. Ia kerap menyerang para pengkritiknya dan bahkan menuduh media berita melakukan “pengkhianatan.”

Konflik ini telah berlangsung dua kali lipat dari batas waktu maksimal enam minggu yang sempat dipatok Trump saat ia dan Israel memulai perang pada 28 Berbarian (28 Februari). Sejak saat itu, meski basis massa politiknya (MAGA) tetap setia mendukung, keretakan mulai muncul di kalangan anggota parlemen dari Partai Republik yang dulunya solid di belakangnya.

Pada awal konflik, gelombang serangan udara AS memang cepat melumpuhkan timbunan rudal balistik Iran, menenggelamkan sebagian besar angkatan lautnya, dan menewaskan banyak petinggi militer. Namun, Teheran membalas dengan memblokade Selat Hormuz—yang memicu lonjakan harga energi global—serta menyerang Israel dan negara-negara tetangga di Teluk. Trump kemudian membalas dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran, tetapi langkah itu pun gagal mendikte kemauan Teheran.

Para pemimpin Iran membalas klaim kemenangan Trump dengan propaganda mereka sendiri, yang menggambarkan kampanye militer AS sebagai “kekalahan telak”.

Awalnya, Trump menyatakan bahwa tujuannya berperang adalah menutup jalur Iran menuju senjata nuklir, mengakhiri ancamannya terhadap kawasan dan kepentingan AS dan membuka jalan bagi rakyat Iran untuk menggulingkan penguasa mereka.

Namun hingga kini, tidak ada tanda-tanda bahwa tujuan yang kerap berubah-ubah tersebut telah tercapai, dan banyak analis menilai target itu mustahil terwujud.

Jonathan Panikoff, mantan wakil pejabat intelijen nasional untuk Timur Tengah, menyebutkan bahwa meski Iran menderita kerusakan parah, para penguasanya menganggap bertahan hidup dari gempuran AS sudah merupakan sebuah kemenangan. Mereka juga belajar seberapa besar kendali yang bisa mereka mainkan atas jalur pelayaran Teluk. Iran belajar benar bagaimana tekanan berupa agresi militer mampu mereka tahan setahan-tahannya tanpa kehilangan jati diri.

“Apa yang mereka temukan adalah bahwa mereka bisa menggunakan posisi tawar tersebut dengan konsekuensi yang minim bagi mereka,” kata Panikoff, yang kini bernaung di lembaga pemikir Atlantic Council. Ia menambahkan bahwa Iran tampak percaya diri bahwa mereka mampu menahan rasa sakit ekonomi lebih lama ketimbang masa jabatan Trump.

BACA JUGA: Atas Desakan Trump, Perusahaan Satelit AS Planet Labs Umumkan Pemblokiran Gambar Perang Iran

Target utama Trump—yaitu denuklirisasi Iran—juga tetap tidak terpenuhi. Teheran menunjukkan keengganan untuk memangkas programnya secara signifikan. Timbunan uranium yang diperkaya tinggi diyakini tetap terkubur dengan aman di bawah tanah pasca-serangan udara AS dan Israel Juni lalu, dan sewaktu-waktu dapat dipulihkan untuk diproses menjadi bahan baku bom. Di sisi lain, Iran menuntut AS mengakui haknya untuk memperkaya uranium demi tujuan damai.

Situasi kian rumit setelah Pemimpin Tertinggi Iran mengeluarkan direktif yang melarang uranium dengan kadar mendekati senjata kimia dikirim ke luar negeri, menurut informasi dari dua pejabat senior Iran kepada Reuters. Beberapa analis bahkan memprediksi perang ini justru akan membuat Iran makin agresif mengembangkan senjata nuklir sebagai perisai pelindung, meniru langkah Korea Utara.

Target lain Trump untuk menghentikan dukungan Iran terhadap kelompok proksi bersenjata (armed proxy) juga gagal total. Lebih parah lagi, Trump kini harus berhadapan dengan jajaran pemimpin baru Iran yang dinilai jauh lebih bergaris keras ketimbang para pendahulu mereka yang tewas. Pascaperang, mereka diperkirakan masih memiliki cukup sisa rudal dan pesawat tanpa awak (drone) untuk terus menebar ancaman di kawasan.

Secara global, Trump harus menghadapi keretakan hubungan dengan sekutu tradisionalnya di Eropa, yang mayoritas menolak seruannya untuk membantu dalam perang yang sejak awal tidak pernah dikonsultasikan dengan mereka.

Sementara itu, China dan Rusia memetik pelajaran berharga dari kelemahan militer AS dalam menghadapi taktik asimetris Iran, serta bagaimana pasokan senjata AS mulai terkuras dalam konflik ini.

Robert Kagan, peneliti senior di lembaga pemikir Brookings Institution, berargumen bahwa hasil akhir konflik ini akan menjadi pukulan telak bagi reputasi global AS—bahkan lebih memalukan ketimbang penarikan mundur pasukan AS dari konflik panjang dan berdarah di Vietnam dan Afghanistan. Mengapa? Karena negara-negara tersebut berada jauh dari panggung utama kompetisi global.

“Tidak akan ada jalan kembali ke status quo seperti semula. Tidak akan ada kemenangan pamungkas Amerika yang mampu menghapus atau memulihkan kerusakan yang telah terjadi,” tulis Kagan.

Jadi perang ini hanyalah akal-akalan ambisi yang tidak pernah tercapai. (*)

BACA JUGA: Trump Pecahkan Rekor Presiden AS Paling Sering Diincar

Exit mobile version