Kondisi psikologis Donald Trump di era kedua menunjukkan potensi kelainan yang berlebih dibanding sebelumnya. Ia punya triple kepribadian yang terbaca dari kebijakan dan keputusannya yang nyaris semua kontroversi.
WWW.JERNIH.CO – Dalam diskursus politik modern, sosok Donald Trump sering kali menjadi pusat perhatian bukan hanya karena kebijakan politiknya, tetapi juga karena gaya kepribadian yang kontras, konfrontatif, dan penuh kontroversi. Keinginan kuat untuk selalu menang, kecenderungan mengabaikan masukan dari orang lain, serta pernyataan yang kerap berubah-ubah telah memicu banyak analisis dari perspektif psikologi politik dan psikologi kepribadian.
Fenomena ini menarik perhatian karena perilaku personal seorang pemimpin dapat memengaruhi dinamika kekuasaan, komunikasi politik, dan bahkan struktur relasi sosial dalam masyarakat yang lebih luas.
Dalam kajian psikologi, terdapat batasan etis yang dikenal sebagai Goldwater Rule, yang melarang profesional kesehatan mental mendiagnosis tokoh publik tanpa pemeriksaan klinis langsung. Meski demikian, pola perilaku yang secara konsisten muncul di ruang publik tetap dapat dianalisis sebagai fenomena psikologis.
Analisis semacam ini tidak dimaksudkan sebagai diagnosis medis, melainkan sebagai upaya memahami dinamika kepribadian yang mungkin memengaruhi gaya kepemimpinan dan strategi politik seseorang.
Narsistik
Salah satu karakteristik yang paling sering disorot adalah kecenderungan untuk selalu menang dan mengalahkan pihak lain. Dalam kerangka psikologi kepribadian, pola ini sering dikaitkan dengan spektrum sifat narsistik yang kuat, bahkan kadang diasosiasikan dengan kondisi yang dikenal sebagai Narcissistic Personality Disorder (NPD).
Individu dengan kecenderungan narsistik memiliki kebutuhan yang sangat besar akan pengakuan dan kekaguman, disertai empati yang relatif rendah terhadap orang lain. Dunia sering dipandang sebagai arena kompetisi yang bersifat zero-sum, di mana kemenangan seseorang hanya dapat terjadi melalui kekalahan pihak lain.
Dalam kerangka ini, kemenangan bukan sekadar pencapaian, tetapi menjadi validasi eksistensial terhadap identitas diri. Kritik atau perbedaan pandangan pun tidak lagi dilihat sebagai masukan yang konstruktif, melainkan sebagai serangan personal yang harus dilawan atau dihancurkan.
Resistensi
Kecenderungan tersebut juga berkaitan dengan resistensi terhadap masukan dari pihak lain. Dalam konteks kepemimpinan, sikap ini dapat menciptakan apa yang disebut sebagai isolasi kognitif. Seorang pemimpin yang hanya menerima informasi yang memperkuat keyakinannya sendiri berisiko terjebak dalam fenomena Confirmation Bias, yaitu kecenderungan mencari dan mempercayai informasi yang mendukung pandangan pribadi sambil menolak informasi yang bertentangan.
Situasi ini sering diperparah oleh apa yang dikenal sebagai Dunning–Kruger Effect, di mana seseorang dengan pemahaman terbatas dalam suatu bidang justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi terhadap penilaiannya sendiri. Akibatnya, nasihat dari pakar atau penasihat sering kali diabaikan, bahkan dianggap sebagai bentuk pembangkangan terhadap otoritas pemimpin.
Di sisi lain, gaya komunikasi politik yang sering menonjolkan konflik dengan kelompok lain juga dapat dipahami melalui perspektif psikologi sosial. Menciptakan dikotomi antara “kita” dan “mereka” (in-group vs out-group) merupakan strategi yang efektif untuk memperkuat loyalitas kelompok pendukung.
Narasi tentang musuh bersama—baik itu media, imigran, atau lawan politik—dapat berfungsi untuk mengalihkan perhatian dari kegagalan pribadi, memperkuat identitas kelompok di bawah figur pemimpin yang dianggap sebagai pelindung, serta melegitimasi sikap agresif sebagai bentuk pertahanan terhadap ancaman eksternal. Walaupun strategi ini sering efektif dalam mobilisasi politik jangka pendek, dalam jangka panjang ia berpotensi memperdalam polarisasi sosial.
Inkonsisten
Karakter lain yang sering dibahas dalam analisis psikologi politik adalah inkonsistensi dalam pernyataan publik. Perubahan narasi yang cepat atau kontradiktif dapat menciptakan kebingungan dalam ruang publik. Dalam psikologi perilaku, fenomena ini kadang diasosiasikan dengan teknik manipulatif yang disebut Gaslighting, yaitu situasi ketika narasi terus diubah sehingga audiens mulai meragukan persepsi mereka sendiri terhadap realitas.
Selain itu, inkonsistensi juga dapat mencerminkan kontrol impuls yang rendah, di mana pernyataan lebih didorong oleh kebutuhan emosional atau strategi jangka pendek untuk memenangkan perdebatan daripada oleh pertimbangan konsistensi fakta atau dampak jangka panjang.
Dalam teori psikoanalisis, beberapa peneliti juga mengaitkan pola perilaku semacam ini dengan konsep Malignant Narcissism, yang diperkenalkan oleh Erich Fromm dan dikembangkan lebih lanjut oleh Otto Kernberg.
Konsep ini menggambarkan bentuk narsisme yang lebih ekstrem karena memadukan beberapa elemen sekaligus, yaitu kebutuhan akan pujian yang terus-menerus, kecenderungan antisosial yang melanggar norma tanpa rasa bersalah, penggunaan agresi atau intimidasi untuk mendominasi, serta unsur paranoia yang membuat individu merasa terus diserang oleh musuh.
Melalui kerangka ini, kritik kecil sekalipun dapat memicu apa yang disebut sebagai narcissistic injury, yaitu luka psikologis yang dirasakan sebagai ancaman terhadap identitas diri, sehingga memicu reaksi defensif yang sangat agresif.
Tiga Kepribadian
Psikologi kepribadian juga mengenal konsep Dark Triad, yaitu kombinasi tiga sifat kepribadian yang sering muncul bersamaan: Machiavellianisme, psikopati subklinis, dan narsisme. Machiavellianisme merujuk pada kecenderungan memanipulasi orang lain demi keuntungan pribadi; psikopati subklinis berkaitan dengan rendahnya empati serta impulsivitas yang tinggi; sedangkan narsisme berkaitan dengan rasa berhak yang kuat dan kebutuhan akan pengakuan.
Individu dengan kombinasi sifat ini cenderung melihat hubungan sosial sebagai permainan strategi, di mana kebenaran dan konsistensi dapat menjadi fleksibel selama narasi yang dibangun membantu mencapai tujuan politik atau pribadi.
Selain itu, terdapat pula mekanisme pertahanan diri yang dikenal sebagai splitting, yaitu kecenderungan memandang dunia secara hitam-putih. Dalam pola ini, orang atau kelompok hanya dipandang sebagai sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk. Akibatnya, sikap terhadap seseorang dapat berubah drastis tergantung apakah orang tersebut mendukung atau menentang kepentingan pemimpin pada saat tertentu.
Nuansa, ambiguitas, dan penilaian objektif menjadi sulit dipertahankan karena realitas terus disederhanakan menjadi kategori ekstrem.
Dari perspektif psikologi evolusioner tentang kepemimpinan, fenomena ini juga dapat dipahami melalui perbedaan antara dua jalur menuju kekuasaan: prestige dan dominance. Pemimpin yang memperoleh prestige biasanya dihormati karena keahlian dan kompetensi mereka, sementara pemimpin yang mengandalkan dominance memperoleh kepatuhan melalui kekuatan, intimidasi, atau tekanan psikologis.
Strategi dominasi dapat efektif dalam memobilisasi massa dalam jangka pendek, terutama ketika masyarakat sedang diliputi rasa takut atau ketidakpastian. Namun dalam jangka panjang, strategi ini berpotensi merusak stabilitas sosial karena terus-menerus memupuk konflik dan permusuhan.
Gaya kepemimpinan seperti ini juga dapat menciptakan fenomena sosiopsikologis yang dikenal sebagai shared narcissism. Para pendukung tidak hanya mengagumi pemimpin mereka, tetapi juga merasa bahwa kehebatan pemimpin tersebut merupakan cerminan dari kehebatan mereka sendiri sebagai kelompok.
Ketika pemimpin menyerang musuh politik atau kelompok tertentu, para pengikut merasa bahwa emosi dan frustrasi mereka terwakili. Hal inilah yang membuat konflik yang diproduksi dari atas sering kali menyebar secara luas dan menjadi sangat sulit diredam di tingkat masyarakat.
Jika gaya kepribadian semacam ini berada di puncak kekuasaan, beberapa konsekuensi sosial dan organisasional dapat muncul. Ketidakkonsistenan narasi dapat mengikis standar kebenaran dalam ruang publik dan menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi.
Di dalam organisasi pemerintahan, lingkungan kerja dapat berubah menjadi budaya ketakutan, karena bawahan enggan memberikan kritik atau informasi yang bertentangan dengan kehendak pemimpin. Sementara itu, retorika permusuhan yang terus diproduksi dari atas berpotensi merembes ke tingkat akar rumput dan menciptakan polarisasi sosial yang mendalam.
Secara analitis, perilaku yang ditandai oleh kehausan akan kemenangan, resistensi terhadap kritik, serta kecenderungan menciptakan konflik dapat dipahami sebagai bagian dari sistem pertahanan psikologis yang sangat agresif. Dalam konteks tertentu—misalnya dalam dunia bisnis yang kompetitif—sifat-sifat ini mungkin memberikan keuntungan strategis.
Namun pada kepemimpinan publik, pola tersebut sering kali menghasilkan instabilitas politik, polarisasi sosial, serta erosi kepercayaan terhadap institusi demokratis. Oleh karena itu, memahami dinamika psikologis di balik gaya kepemimpinan semacam ini menjadi penting agar masyarakat dapat menilai pemimpin secara lebih kritis, melampaui sekadar retorika politik yang tampak di permukaan.
Sekarang rakyat Amerika terbelah dua. Bahkan kongres pun terpecah dengan voting nyaris sama, meski yang pro Trump selisih sedikit dibandingkan yang kontra. Itulah dampak risiko memiliki presiden yang punya masalah psikologis.(*)
