Dengan demikian, Prof. Perdana tidak hanya berbicara tentang keluarnya modal asing. Artikel tersebut sesungguhnya mengingatkan kita pada pertanyaan yang lebih besar: apakah Indonesia akan terus membangun ekonominya di atas kepercayaan investor global, ataukah membangun ekonominya di atas kepercayaan rakyat Indonesia sendiri?
Oleh : Prof. Agus Pakpahan*

JERNIH–Artikel Prof. Perdana Wahyu Santosa mengangkat fenomena yang sangat penting: menurunnya kepemilikan asing pada Surat Berharga Negara (SBN), keluarnya dana asing dari pasar saham, melemahnya rupiah, dan meningkatnya kehati-hatian investor global terhadap Indonesia.
Dalam kerangka ekonomi konvensional, fenomena ini dipahami sebagai penurunan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Modal asing keluar karena ekspektasi keuntungan menurun atau risiko meningkat. Interpretasi tersebut tidak salah.
Namun dari perspektif koperasi kuantum, terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa keluarnya sebagian investor asing dapat mengguncang sistem keuangan nasional sedemikian besar? Pertanyaan ini membawa kita kepada konsep keterjeratan (entanglement).
Dalam fisika kuantum, sistem yang sangat terjerat akan menunjukkan respons yang kuat ketika salah satu komponennya mengalami perubahan. Gangguan pada satu bagian akan segera memengaruhi bagian lainnya.
Pasar keuangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi keterjeratan yang tinggi dengan sistem keuangan global. Nilai tukar rupiah, harga obligasi, indeks saham, dan biaya pembiayaan negara sangat dipengaruhi oleh keputusan investor yang berada ribuan kilometer dari Indonesia.
Dari perspektif Koperasi Kuantum, ini merupakan bentuk keterjeratan eksternal. Masalahnya bukan keterjeratan itu sendiri. Masalahnya adalah ketika keterjeratan eksternal jauh lebih kuat daripada keterjeratan internal.
Dalam sistem yang sehat, keterhubungan ekonomi domestik harus menjadi sumber stabilitas utama. Tabungan masyarakat, koperasi, credit union, dana pensiun, koperasi desa, dan berbagai lembaga ekonomi rakyat membentuk medan sosial-ekonomi nasional yang kuat. Ketika medan internal kuat, guncangan eksternal dapat diserap. Ketika medan internal lemah, setiap perubahan sentimen global berubah menjadi krisis nasional.
Dalam bahasa Koperasi Kuantum, persoalan Indonesia bukan sekadar keluarnya modal asing. Persoalan sesungguhnya adalah rendahnya Koefisien Keterjeratan Sosial Nasional (Z). Jika sebagian besar pembiayaan pembangunan bergantung pada modal asing, maka keterjeratan utama sistem ekonomi Indonesia berada di luar Indonesia.
Akibatnya, energi sosial-ekonomi kolektif bangsa (Q) tidak berkembang secara optimal karena sebagian besar keputusan investasi ditentukan oleh pusat-pusat keuangan global. Fenomena yang digambarkan Prof. Perdana sebenarnya dapat dibaca sebagai sinyal bahwa Indonesia menghadapi pilihan strategis.
Pilihan pertama adalah terus memperkuat ketergantungan pada modal portofolio internasional dan berusaha menarik kembali dana asing yang keluar. Pilihan kedua adalah memperkuat keterjeratan internal melalui mobilisasi tabungan nasional, pengembangan koperasi terintegrasi, penguatan Credit Union, dana pensiun domestik, dan berbagai bentuk modal rakyat lainnya.
Dalam perspektif Koperasi Kuantum, pilihan kedua jauh lebih fundamental. Sebuah bangsa tidak menjadi kuat karena investor asing percaya kepadanya. Sebuah bangsa menjadi kuat ketika rakyatnya sendiri percaya kepada kemampuan mereka untuk membangun dan membiayai masa depannya.
Karena itu, eksodus modal asing seharusnya tidak hanya dibaca sebagai krisis kepercayaan pasar. Ia juga dapat dibaca sebagai undangan untuk membangun arsitektur ekonomi yang lebih mandiri. Pasal 33 UUD 1945 sesungguhnya telah memberikan arah tersebut sejak awal. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
Dalam bahasa Koperasi Kuantum, asas kekeluargaan adalah bentuk keterjeratan sosial yang paling tinggi. Semakin kuat keterjeratan sosial nasional, semakin kecil ketergantungan pada keterjeratan eksternal. Dan semakin kecil ketergantungan pada keterjeratan eksternal, semakin besar kedaulatan ekonomi yang dapat dibangun bangsa.
Dengan demikian, artikel Prof. Perdana tidak hanya berbicara tentang keluarnya modal asing. Artikel tersebut sesungguhnya mengingatkan kita pada pertanyaan yang lebih besar: apakah Indonesia akan terus membangun ekonominya di atas kepercayaan investor global, ataukah membangun ekonominya di atas kepercayaan rakyat Indonesia sendiri?
Dari perspektif Koperasi Kuantum, jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan masa depan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang. Cooperative minds are quantum minds. Dan pikiran kuantum memahami bahwa kedaulatan ekonomi tidak lahir dari besarnya modal yang datang dari luar, melainkan dari kuatnya keterjeratan sosial yang tumbuh dari dalam. []
*Prof Dr Agus Pakpahan, PhD, mantan Dirjen Perkebunan