Dari bangku kuliah teknik di Jerman dan kursus film di London, Erros pulang membawa kegelisahan. “Badai Pasti Berlalu”, album yang ia garap bersama Chrisye dan Jockie Soerjoprajogo, lahir sebagai penanda. Album itu, hingga kini, disebut Rolling Stone Indonesia sebagai album terbaik sepanjang masa. Film “Tjoet Nja’ Dhien” (1988) karyanya memenangkan sembilan Piala Citra, diputar di Cannes, dan meneguhkan dirinya sebagai sutradara papan atas. Di dunia jurnalistik, Erros pernah menjadi pemimpin redaksi tabloid Detik, media yang dibredel Orde Baru pada 1994, namun justru meneguhkan reputasinya sebagai pejuang kebebasan pers. Erros sendiri sudah menuliskan warisan paling berharga: keberanian untuk menolak diam. Di tengah pragmatisme dan oportunisme, ia memilih jalan melawan dengan pena, musik, film, dan kata-kata
JERNIH–Erros Djarot—atau Sugeng Waluyo Djarot, nama lahirnya—terpatri dalam sejarah kebudayaan Indonesia bukan hanya sebagai seniman. Ia adalah komposer, sutradara, jurnalis, aktivis, dan pada titik tertentu, aktor politik. Seorang budayawan sekaligus pegiat kebebasan yang selalu menolak untuk tunduk. Dari ruang rekaman musik, panggung film, meja redaksi, hingga gelanggang politik, jejak Erros menyilang batas, namun satu garis merahnya jelas: melawan dengan kata-kata.
Ia lahir di Rangkasbitung, 22 Juli 1950. Dari bangku kuliah teknik di Jerman dan kursus film di London, Erros pulang membawa kegelisahan. “Badai Pasti Berlalu”, album yang ia garap bersama Chrisye dan Jockie Soerjoprajogo, lahir sebagai penanda. Album itu, hingga kini, disebut Rolling Stone Indonesia sebagai album terbaik sepanjang masa. Film “Tjoet Nja’ Dhien” (1988) karyanya memenangkan sembilan Piala Citra, diputar di Cannes, dan meneguhkan dirinya sebagai sutradara papan atas. Di dunia jurnalistik, Erros pernah menjadi pemimpin redaksi tabloid Detik, media yang dibredel Orde Baru pada 1994, namun justru meneguhkan reputasinya sebagai pejuang kebebasan pers.
Tak berhenti di situ. Erros adalah penulis pidato Megawati Soekarnoputri di masa-masa genting, sekaligus arsitek narasi yang mengubah sosok Megawati dari ibu rumah tangga menjadi simbol oposisi. Peran Erros di balik layar PDI dan kemudian PDIP, tak sedikit yang menyebutnya sebagai sekondan Megawati dalam menghadapi represi kekuasaan. Dari Kudatuli hingga Reformasi 1998, nama Erros Djarot selalu terhubung pada detak perubahan.
“Apa Kata Sahabat”: Sebuah Cermin
Kini, di usia 75, Erros merayakan perjalanan panjangnya dengan cara berbeda. Bukan ia yang bicara tentang dirinya, melainkan para sahabat yang menulis. Buku “Apa Kata Sahabat” menghimpun puluhan testimoni, dari sahabat masa muda hingga tokoh-tokoh bangsa. Daftarnya panjang, nyaris ensiklopedia pertemanan: Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Muhaimin Iskandar, Farid Gaban, Ganjar Pranowo, Mahfud MD, Anies Baswedan, Amien Rais, Sutiyoso, hingga Susilo Bambang Yudhoyono, Ferry Joko Juliantono, Pramono Anung, dan Theo Sambuaga, untuk menyebut sebagian saja.
Dari sekian banyak, setidaknya seratus lebih sahabat ikut menulis dalam buku itu. Namun mari kita sebut sepuluh nama besar yang paling menarik perhatian: Mahfud MD, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Hatta Rajasa, Susilo Bambang Yudhoyono, Amien Rais, Slamet Rahardjo, Christine Hakim, Jeffrey A. Winters, di antaranya.
Kehadiran nama-nama itu bukan kebetulan. Mereka datang dari latar yang beragam—politik, seni, akademisi, aktivis—dan masing-masing memberi potongan mozaik tentang siapa sebenarnya Erros Djarot.
Mahfud MD menyebut Erros bukan sekadar musisi atau sutradara, tetapi “pejuang” yang turun langsung ke gelanggang politik demi kebaikan bangsa. Hatta Rajasa menegaskan, Erros bisa saja hidup nyaman sebagai legenda musik dan film, namun memilih jalan berliku membela hak rakyat kecil.
Anies Baswedan mengenang keberanian Erros lewat Detik: “Keberanian yang disulut Mas Erros menjalari negeri ini. Kami ikut berunjuk rasa menolak pemberedelan, meski ditekan, suara-suara kami terus menyala.”
Ganjar Pranowo menyoroti peran Erros di sekitar Megawati: “Rezim berusaha melemahkan Mega, tapi Erros terus mendampinginya sebagai sekondan. Hasilnya, Megawati bertahan dan menjadi kekuatan utama dalam perubahan politik.” Jeffrey Winters, ilmuwan politik dari Northwestern University, punya pengakuan lain. Ia bercerita bagaimana menerjemahkan pidato Megawati—yang ditulis Erros—ke bahasa Inggris untuk jurnalis asing dan diplomat. Bagi Winters, Erros adalah penghubung yang membuat pesan oposisi Indonesia menembus dunia internasional.
Butet Kartaredjasa, seniman sekaligus pelawak politik, menuliskan sisi lain Erros yang sering “meledak-ledak” namun justru itu yang membuatnya otentik: gagasannya selalu membakar semangat di meja diskusi. Amien Rais menegaskan, dalam pusaran politik transisi, Erros adalah “orang yang tidak bisa diam.” Baginya, Erros adalah satu dari sedikit intelektual publik yang konsisten mempertanyakan status quo.
Susilo Bambang Yudhoyono, yang juga memberi testimoni dalam buku ini, mengenang Erros sebagai sosok yang menembus batas. Menurut SBY, Erros tidak hanya hadir sebagai budayawan, melainkan juga “jembatan antara seni dan politik”. Christine Hakim dan Slamet Rahardjo—dua sahabat sekaligus kolaborator di panggung seni—melihat Erros sebagai seniman yang tak kenal kompromi. Dari panggung film hingga diskusi tengah malam, Erros hadir sebagai pemantik ide, kerap meletupkan gagasan yang tak jarang mendahului zamannya.
Membaca “Apa Kata Sahabat” serupa membuka album sejarah Indonesia dari sudut pandang personal. Kita menemukan seorang Erros yang dipuji, dikritik, dikenang dalam keberanian, dan dirindukan ketegasannya. Ada yang melihatnya sebagai “pejuang”, ada pula yang menyebutnya “penyulut keberanian.” Semua itu berpadu menjadi cermin: Erros Djarot adalah figur yang hidupnya tak bisa dipisahkan dari denyut bangsa ini.
Buku ini bukan sekadar kumpulan testimoni. Ia adalah pengakuan kolektif, bahwa perjalanan Erros—dari “Badai Pasti Berlalu”, “Tjoet Nja’ Dhien”, Detik, hingga narasi politik Megawati—telah meninggalkan jejak dalam ingatan bangsa. Di balik semua itu, ia tetaplah seorang budayawan yang percaya pada kekuatan kata.
Pada akhirnya, Erros sendiri sudah menuliskan warisan paling berharga: keberanian untuk menolak diam. Di tengah pragmatisme dan oportunisme, ia memilih jalan melawan dengan pena, musik, film, dan kata-kata
Erros Djarot BAHAN
.
Penutup
Di usianya yang ke-75, Erros Djarot tidak lagi berada di pusat kuasa, tetapi jejaknya tetap hidup di buku Apa Kata Sahabat. Buku itu mengingatkan bahwa Erros bukan sekadar seniman atau politisi, melainkan intelektual publik yang menolak tunduk.
Seperti pernah ditulis Albert Camus, “Kebebasan hanyalah kesempatan untuk menjadi lebih baik.” Kalimat itu seolah menemukan wujudnya dalam perjalanan Erros. Ia menjadikan kebebasan bukan sekadar hak pribadi, melainkan alat untuk memperjuangkan yang lebih besar: bangsa dan kemanusiaan.
Dan begitulah Erros Djarot akan dikenang—bukan hanya karena Badai Pasti Berlalu atau Tjoet Nja’ Dhien, tetapi karena hidupnya sendiri adalah badai yang tak pernah berhenti melawan. [dsy]
