Indonesia memang lulus standar global (karena lebih baik dibandingkan negara-negara Afrika), tapi masih terburuk di kawasan Asia Tenggara. Malaysia dan Thailand telah menekan angka kematian anak hingga di bawah 10 per 1.000 kelahiran hidup. Hampir separuh kematian anak di Indonesia terjadi pada fase krusial neonatus (usia 28 hari pertama). Tingginya angka kematian neonatus merupakan indikator penting dari bobroknya layanan kesehatan dasar, minimnya fasilitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta karut-marutnya sistem rujukan.
Oleh : Rizky Adriansyah*

JERNIH–Laporan UNICEF 2025 tentang Levels and Trends in Child Mortality yang dipublikasikan pada 17 Maret 2026 memicu perdebatan di kalangan pakar kesehatan anak. Dibandingkan data lima tahun terakhir, angka kematian anak di Indonesia dilaporkan tidak turun signifikan, masih di kisaran 20 per 1.000 kelahiran hidup.
Kita hanya bisa menghibur diri karena angka kematian anak di Indonesia masih melampaui target ambang batas Sustainable Development Goals (SDGs). Menurut saya, itu tak lebih dari ilusi yang menyesatkan.
Indonesia memang lulus standar global (karena lebih baik dibandingkan negara-negara Afrika), tapi masih terburuk di kawasan Asia Tenggara. Malaysia dan Thailand telah menekan angka kematian anak hingga di bawah 10 per 1.000 kelahiran hidup.
Fakta paling telanjang adalah hampir separuh kematian anak di Indonesia terjadi pada fase krusial neonatus (usia 28 hari pertama). Ini bukan takdir biologis, melainkan rapor merah kita. Tingginya angka kematian neonatus merupakan indikator penting dari bobroknya layanan kesehatan dasar, minimnya fasilitas Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta karut-marutnya sistem rujukan.
Ironisnya dalam setahun terakhir ini, di tengah krisis nyawa anak-anak kita, Menteri Kesehatan BGS sibuk dengan “gimmick populis“. Soal kematian akibat infeksi dan cacingan pada anak, kesehatan anak di daerah bencana, KLB Campak, dan masih banyak lagi, tertutupi oleh agregat angka nasional. Seolah-olah masalah kesehatan anak di Indonesia semakin membaik. Padahal faktanya masih terjadi ketimpangan akses antara Jawa dan wilayah luar Jawa (terutama Indonesia Timur).
Sebenarnya rakyat Indonesia tidak butuh perbandingan angka kematian anak dengan rata-rata dunia yang semu. Nyawa anak-anak kita harusnya diukur dengan standar kualitas tertinggi, bukan sekadar pemenuhan target minimum.
Dalam lima tahun terakhir, penurunan signifikan angka kematian anak di Indonesia hanyalah fatamorgana. Sebaiknya Menkes lebih mementingkan perbaikan fundamental keselamatan anak-anak Indonesia ketimbang pencitraan statistik. Apakah Anda setuju? [ ]
* Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Cabang Sumatera Utara