Jernih.co

Jangan Lupa Merenung

Kelahiran homeless media bertolak dari kebosanan masyarakat pada media mainstream dan media online. Kalau kini Bakom PRI memberi peran pada homeless media, berarti ia tidak percaya pada media mainstream dan media online yang sudah beroperasi dan memperoleh sertifikasi dewan pers. Apa bukti klaim Bakom PRI ini benar? Media mainstream dan media online tersebut mempraktikkan jurnalisme yang legitimate kok!

Oleh     :  Prof.Ana Nadhya Abrar*

JERNIH–Ada kalanya manusia memerlukan menyendiri. Mereka bermenung dan meneliti dirinya sendiri. Paling tidak untuk mendapatkan umpan balik dari pribadinya dalam perjalanan hidupnya. Untuk apa? Untuk bekal selanjutnya, misalnya menyongsong Indonesia emas 2025.

Kapankah waktunya? Apakah setelah menghadapi tantangan yang sangat mengejutkan? Bagi mahasiswa, mungkin setelah menerima hasil ujian semester yang jelek. Bagi dosen, mungkin ketika menyadari artikelnya tidak diterima di jurnal internasional bereputasi. Bagi masyarakat awam, mungkin setelah mengetahui harga plastik merangkak naik dan tidak pernah turun lagi. Bagi para pejabat pemerintah, mungkin setelah Presiden Prabowo melakukan perombakan kabinet. Bagi para ekonom, mungkin setelah nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang makin jatuh sehingga dan mencapai titik terendah dalam sejarah Indonesia.

Dalam menentukan waktu renungan itu, tampak status dan profesi sangat berpengaruh. Yang jelas, hidup tanpa pernah merenung meneliti diri sendiri, bukanlah hidup yang baik.

Baik untuk apa? Terutama untuk mencapai keadilan. Keadilan ini mencakup seluruh masalah dalam kehidupan. Begitu pentingnya, sehingga almarhum Faisal Basri (2016) pernah berkata, siapa pun yang berbuat tidak adil dan mengusik rasa keadilan akan dilawan.

Lalu, adakah peristiwa atau ide yang mengusik rasa keadilan kita saat ini? Oh, banyak. Salah satunya tentang ide Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah Republik Indonesia (PRI). Tentang ini, Brief Update BDS Alliance, 7 Mei 2026 melaporkan antara lain:

Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah RI, lembaga di bawah presiden, menggandeng sekitar 40 homeless media yang mendapat wadah bernama Indonesia New Media Forum (INMF). Menurut Kepala Bakom Muhammad Qodari, kemarin, kerja sama dengan media-media tersebut penting dilakukan agar Bakom dapat menjangkau publik secara luas. Ia merilis nama-nama media tersebut, antara lain Folkative, Indozone, Dagelan, Narasi, Bapak-Bapak ID, Muslim Folks, CXO Media dan Nalar TV.

Mengapa ide ini tidak adil? Sebab, pertama, ada protes dari beberapa homeless media yang disebutkan Bakom di atas. Lihatlah, pengasuh Bapak2ID mengaku tidak terafiliasi dengan siapa pun. Pengelola Ngomongin Uang juga menyatakan tidak pernah menerima undangan, menghadiri pertemuan, maupun melakukan komunikasi, baik secara digital maupun tatap muka dengan Bakom. Pengelola Narasi mengaku tidak mengetahui, tidak terlibat, dan tidak menghadiri pertemuan maupun jumpa pess Bakom pada 6 Mei 2026 (Brief Update BDS Aliance, 7 Mei 2026).

Kedua, kelahiran homeless media bertolak dari kebosanan masyarakat pada media mainstream dan media online. Kalau kini Bakom PRI memberi peran pada homeless media, berarti ia tidak percaya pada media mainstream dan media online yang sudah beroperasi dan memperoleh sertifikasi dewan pers. Apa bukti klaim Bakom PRI ini benar? Media mainstream dan media online tersebut mempraktikkan jurnalisme yang legitimate kok!

Kalau dilihat lebih jauh, homeless media merupakan media tanpa kantor, tanpa redaksi formal dan tanpa badan hukum pers. Ia beroperasi di jalan media sosial, seperti WhatsApp, Telegram, Instgram, TikTok, YouTube pribadi. Isinya biasanya investigasi, narasi korban, dan data mentah. Modalnya hanya Hp + internet dan nekad. Akibatnya, ia gampang dituduh hoax atau menyampaikan ujaran kebencian. Ia malah tidak legitimate.

Justru karena tidak legitimate itu ia bisa memberikan “pukulan pertama” tentang ketidakbecusan yang yang terjadi tentang kinerja pejabat pemerintah dan sepak terjang oligarki. Ini akan disambut oleh media mainstream atau media online. Lalu beritanya berkembang dengan cepat.

Benarkah Bakom PRI akan membiarkan homeless media “menampol” pejabat pemerintah atau oligarki? Kalau ya, keren. Sangat keren, bahkan. Kita akan sangat senang. Homeless media berpihak kepada masyarakat. Ia akan mengkritisi bisikan oligarki dan Jokowi.

Benarkah ini akan benar-benar terjadi? Entahlah! Yang jelas, sudah jadi rahasia umum, selama ini oligarki dan Jokowi merupakan pembisik pejabat pemerintah agar menjahati rakyat. Kalau ini memang terjadi, agaknya Presiden Prabowo bisa memarahi pejabat pemerintah bersangkutan. Dia bahkan bisa memecatnya.

Kalau yang mendapat bisikan itu Presiden Prabowo, siapa yang akan menegur? Entahlah! Yang jelas soal bisik-membisik ini, Allah sudah mengingatkan manusia: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan manusia, raja manusia, dari kejahatan (setan) pembisik yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. (QS An Nas, 1-6).

Maka merenung untuk memperoleh keadilan bisa diimajinasikan, terutama untuk menemukan pembisik yang membisikkan kejahatan kepada pejabat pemerintah untuk menjahati rakyatnya. Sekaligus menyiapkan langkah-langkah kecil untuk melawannya. Bersiaplah untuk merenung. []

*Guru Besar Jurnalisme UGM

Exit mobile version