Apakah motif Dian mengajukan program MBG untuk memperoleh hadiah nobel perdamaian 2026? Apakah dia mencari muka, agar dapat perhatian dan sanjungan Presiden Prabowo? Atau dia memuji Presiden Prabowo secara berlebihan demi memperoleh keuntungan pribadi? Atau dia melakukan panjat sosial (pansos) untuk memperoleh popularitas? Hanya Allah dan Dian yang tahu persis jawabannya.
Oleh : Ana Nadhya Abrar*

JERNIH–Agaknya theconversation.com memiliki karakter spontan. Lihatlah, pada 6 Agustus 2026, ia menurunkan berita berjudul “Apa program MBG layak dapat Nobel Perdamaian? Belajar dari World Food Programme”. Tujuan berita ini sangat jelas: memberikan pencerahan tentang kemungkinan program MBG memperoleh hadiah nobel perdamaian 2026.
Lalu pencerahan apa yang dibawa theconversation.com 6 Agustus 2026 tersebut? Ini jawabannya: “masih terlalu dini untuk menyimpulkan sejauh mana MBG menghasilkan dampak perdamaian yang dapat diukur—sebagaimana yang menjadi salah satu pertimbangan Nobel Perdamaian”.
Dua hari kemudian, persisnya 8 Agustus 2026, muncul berita di media online tentang permintaan maaf Dian Damayanti, penulis karya ilmiah yang mengajukan program MBG untuk memperoleh hadiah nobel perdamaian 2026. Selanjutnya Dian, seperti dilaporkan fajar.co.id, 8 Agustus 2026, menulis: “Dengan ini menyampaikan klarifikasi dan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, Pemerintah Republik Indonesia, Pemerintah Prancis, serta seluruh pihak yang terdampak atas publikasi artikel dan dokumen terkait”.
Apakah Dian menulis permintaan maaf itu setelah membaca theconversation.com 6 Agustus 2026? Entahlah! Yang jelas pertanyaan ini masuk akal. Soalnya, permintaan maaf Dian muncul setelah theconversation.com menyatakan belum saatnya program MBG memperoleh hadiah nobel perdamaian.
Apakah motif Dian mengajukan program MBG untuk memperoleh hadiah nobel perdamaian 2026? Apakah dia mencari muka, agar dapat perhatian dan sanjungan Presiden Prabowo? Atau dia memuji Presiden Prabowo secara berlebihan demi memperoleh keuntungan pribadi? Atau dia melakukan panjat sosial (pansos) untuk memperoleh popularitas? Hanya Allah dan Dian yang tahu persis jawabannya.
Lalu, bagaimana respons kita? Soal memaafkan, tentu saja kita terima permintaan maaf Dian. Kita hanya makhluk Allah. Kalau Allah Maha Pemaaf dan Maha Pengampun (QS. An-Nisa: 99), masak kita tidak memaafkan Dian?
Selanjutnya kita tawarkan tiga hal penting yang mesti dicatat bagi mereka yang ingin mengajukan karya atau ciptaan untuk menerima hadiah nobel. Pertama, berhati-hati ketika mengajukan karya atau ciptaan untuk menerima hadiah nobel. Ikuti segala protokol yang berlaku secara universal. Jangan lupakan pengajuan itu membawa nama baik bangsa Indonesia.
Kedua, karya atau ciptaan itu sudah selesai dengan dirinya sendiri. Artinya, karya ciptaan itu sudah membawa manfaat yang sebesar-besarnya buat masyarakat. Semua orang sudah yakin kualitas dan keindahan karya dan ciptaan itu layak diajukan untuk menerima hadiah nobel.
Ketiga, menerima hadiah nobel bukan tujuan utama membuat sebuah karya atau ciptaan. Yang menjadi tujuan utama adalah memenuhi nilai esensialnya. Nilai esensial ini tertulis dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945, yakni: (i) melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, (ii) dan untuk memajukan kesejahteraan umum, (iii) mencerdaskan kehidupan bangsa, dan (iv) ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Artinya, apa pun hasil karya dan ciptaan manusia, ia perlu memberikan kontribusi pada nilai esensial Pembukaan UUD 1945.
Kita mengerti, dalam era digitalisasi seperti sekarang ini, menjadi nasionalis menempatkan diri kita sebagai warga negara menjadi lebih berharga. Menjadikan kita tidak kehilangan elan dalam menjalani pergaulan internasional. Membuat kita selalu bersemangat dalam berinteraksi sosial. Tidak terlalu berlebih-lebihan rasanya kita perlu menempuh jalan menjadi nasionalis secara sungguh-sungguh.
Dalam pada itu, dalam menyambut hari ulang tahun ke-81 proklamasi Indonesia, rasa nasionalis kita perlu diperbarui. Bukan sekadar untuk menghormati para pahlawan yang sudah mengorbankan semua yang dimilikinya demi mencapai kemerdekaan Indonesia. Tetapi, lebih jauh dari itu, untuk menunjukkan kesadaran eksistensial kita dalam bernegara.
Nah, uraian di atas sudah menyebutkan, salah satu jalan menjadi nasionalis adalah mewujudkan nilai esensial Pembukaan UUD 1945. Mari kita hayati dan praktikkan nilai tersebut. Kalau sudah terwujud tentu kita akan mengatakan: jangan menyepelekan nilai esensial Pembukaan UUD 1945.[]
*Guru Besar Jurnalisme UGM