Jernih.co

Kalau Menurutku Soto, Ya Soto, Meski Itu Gulai

Dalam dunia masyarakat Sunda, ada yang disebut dengan istilah “sokong jongklok”. Berdasar banyak literatur, sokong jongklok adalah mendukung tetapi buat menjerumuskan seseorang agar dirinya tetap aman. Dunia birokrasi merupakan dunia yang penuh dengan intrik dan kepentingan. Tidak sedikit anak buah yang berperilaku sokong jongklok terhadap pemimpinnya.

Oleh     :  Entang Sastraatmadja*

JERNIH–Dunia ini ibarat panggung sandiwara. Demikian lirik lagu yang pernah dilantunkan Ahmad Albar bersama God Bless di tahun 1970an. Lagu ini, pada jamannya memang enak didengar. Apalagi di sore hari sambil makan pisang goreng dan secangkir kopi pahit. Apa yang diingatkan lewat lirik lagu ini, boleh jadi membuat kita merenung setelah melihat beragam kiprah para petinggi di negeri ini.

Kata saya “soto ya soto, sekalipun gule”. Itulah terjemahan bebas dari bahasa Sunda yang akbrab di masyarakat tanah Parahyangan. Ungkapan seperti ini, secara tidak langsung menggambarkan arogansi kekuasaan. Dalam budaya pemerintahan ada yang disebut dengan istilah “sabda pandito ratu“. Apa yang diucapkan pemimpin, dianggap sebagai titah yang harus diterima.

Kalimat “ceuk uing soto nya soto“, padahal gule, sepertinya sudah biasa dalam kehidupan bernuansa karikatif di masyarakat Jawa Barat. Perilaku pemimpin yang tidak mungkin salah atau keliru dalam tutur kata dan perbuatan, mengedepan menjadi postulat dalam kesehariannya. Itu sebabnya, wajar jika banyak pemimpin yang ujung-ujungnya berhadapan dengan aparat penegak hukum.

Dalam dunia masyarakat Sunda, ada yang disebut dengan istilah “sokong jongklok“. Berdasar banyak literatur, sokong jongklok adalah mendukung tetapi buat menjerumuskan seseorang agar dirinya tetap aman. Dunia birokrasi merupakan dunia yang penuh dengan intrik dan kepentingan. Tidak sedikit anak buah yang berperilaku sokong jongklok terhadap pemimpinnya.

 Kita tentu masih ingat kejadian seorang menteri yang akhirnya mendekam di hotel pordeo. Apa yang membuat mantan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dituntut 12 tahun penjara oleh Jaksa karena didakwa korupsi sekitar Rp.44,5 miliar, boleh jadi tidak lepas dari perilaku sokong jongklok anah buahnya. SYL lupa, dalam dunia politik yang penuh tipu daya, bisa saja dalam birokrasi Kementerian Pertanian terdapat orang-orang yang mencari kesempatan atas kelengahan pemimpinnya.

Berbeda argumen dalam panggung pengadilan adalah hal biasa. Apa yang disampaikan SYL terkait tidak pernah meminta bawahannya untuk iuran bagi kepentingan tugas dan kewajibannya selaku menteri, sah-sah saja  berbeda dengan yang disampaikan anak buahnya sebagai saksi. Begitu pun jika dilanjutkan dengan pertanyaan, apakah anak buahnya telah melakukan sokong jongklok kepada pemimpinnya?

Silakan terdakwa berbeda argumen dengan jaksa. Yang pasti, untuk menentukan mana yang benar dan mana yang salah, di Pengadilan ada yang namanya Majlis Hakim. Sesuai dengan tugas dan fungsi yang digenggamnya, para Hakim inilah yang bakal menetapkan putusan akhirnya. Termasuk ada atau tidaknya niat bawahan untuk melakukan praktek sokong jongklok ke atasannya.

Pentas birokrasi, baik tingkat nasional msupun daerah, bukanlah panggung yang terbebas dari praktek kemunafikan. Sikap pemimpin yang tidak pernah mau didebat oleh bawahan atau banyaknya anak buah yang tidak mampu jujur kepada atasannya, kerap kali mewarnai dinamika borokrasi pemerintahan di negeri ini. Fatwa “ceuk uing soto nya soto, padahal gule“, bukan lagi sebuan keanehan. Itu adalah sebuah fakta kehidupan.

Soto jelas beda dengan gule. Kata soto berasal dari serapan kata Jao To atau Cau To yang artinya makanan berkuah berdasarkan bahasa peranakan Tionghoa. Makanan Jao To atau Cau Do mempunyai arti rerumputan jeroan atau jeroan berempah. Soto pada awalnya dikenal oleh masyarakat yang diperdagangan menggunakan bahan baku jeroan. Lalu, apa yang disebut dengan gule ?

Versi Wikipedia, gule adalah masakan Indonesia berbahan baku daging ayam, aneka ikan, kambing, sapi, jeroan, atau sayuran seperti nangka muda dan daun singkong, yang diolah dalam kuah bumbu rempah yang bercita rasa gurih yang berasal dari Sumatra, Indonesia. Ciri khas gulai adalah bumbunya yang kaya rempah antara lain kunyit, ketumbar, lada, lengkuas, jahe, cabai merah, bawang merah, bawang putih, adas, pala, serai, kayu manis, dan jintan.

Dalam prosesnya, bahan-bahan diatas dihaluskan, dicampur, kemudian dimasak dalam santan. Masakan ini memiliki ciri khas berwarna kuning karena pengaruh sari kunyit. Makanan ini dianggap sebagai bentuk lain dari kari, dan secara internasional sering disebut sebagai kari ala Indonesia, meskipun dalam seni kuliner Indonesia juga ditemukan yang namanya kari.

 Atas dasar pengertian ini, soto dan gule merupakan dua hal yang berbeda, baik dari rupa atau pun cita rasanya. Masalahnya, mengapa dalam dunia birokrasi, para birokrat di negara kita, umumnya tidak berani menampilkan realitas dalam mengarungi kehidupan nya. Artinya, kalau Bos mengatakan A, maka anak buahnya juga harus sama menyebut A. Tidak boleh B atau C.

Yang lebih menarik untuk dibincangkan lebih lanjut, dalam birokrasi pemerintahan kita, ternyata sangat miskin inisiatif dan inovasi. Padahal, seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan persaingan yang semakin ketat, inisiatif dan inovasi merupakan kebutuhan penting bagi perkembangan dan kemajuan birokrasi pemerintahan ke depan. Terlebih menghadapi Indonesia Emas 2045.

Kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat yang semakin tumbuh, berkembang dan berkualitas, omong kosong akan terwujud, bila kita tidak melahirkan inisiatif dan inovasi dalam kehidupan kesehariannya. Menjemput masa depan, birokrasi Pemerintahan perlu disiapkan dengan cerdas dan bernas. Bangsa ini menuntut adanya para birokrat yang kreatif dan inovatif dalam membaca isyarat jaman.

Kalimat “ceuk uing soto nya soto, sanajan gule”, sudah saatnya kita kubur dalam-dalam. Kini saat yang tepat bagi para pemimpin untuk menghilangkan sikap arogan dalam menjalankan birokrasi pemerintahannya. Rakyat sekarang, butuh perubahan yang nyata dan mendasar dalam kehidupan, bukan lagi sebuah wacana yang tak mungkin dibuktikan.

Semoga di masa depan, kita tidak menemukan lagi ada birokrat bangsa yang tetap mempertahankan perilaku “yes men” seperti yang disampaikan atasannya. Bangsa ini nenunggu datangnya birokrat unggul yang dapat menjawab tantangan masa kini dan mendatang. Bahasa politiknya pun berubah menjadi “kata saya soto ya soto, karena memang soto”. []

*Anggota Dewan Pakar HKTI

Exit mobile version