Jernih.co

[Locavore] 400+ Tanaman Pangan Lokal: Harta Karun Nusantara yang Terlupakan

Data resmi mencatat Indonesia memiliki setidaknya 77 jenis tanaman sumber karbohidrat, 26 kacang-kacangan, 389 buah-buahan, 228 sayuran, serta 110 jenis rempah dan bumbu. Namun FAO pada 2019, melalui laporan berjudul “The State of the World’s Biodiversity for Food and Agriculture” membunyikan alarm tanda bahaya: dunia telah kehilangan sekitar 75 persen keragaman genetik tanaman pangannya sejak 1900.

Oleh     :  Widiana Safaat*

JERNIH–Coba bayangkan, Anda masuk ke sebuah restoran prasmanan raksasa. Di sana terhidang ratusan pilihan menu alami yang sangat lezat, bergizi, dan tumbuh subur di halaman Anda. Namun anehnya, setiap kali jam makan tiba, Anda hanya memesan dua menu yang itu-itu saja secara berulang. Terdengar konyol? Sayangnya, itulah gambaran akurat tentang cara kita memperlakukan sistem pangan Nusantara saat ini.

Secara geografis, tanah kita adalah surga agraris yang luar biasa kaya. Data resmi mencatat bahwa Indonesia memiliki setidaknya 77 jenis tanaman sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayuran, serta 110 jenis rempah dan bumbu. Leluhur kita di berbagai daerah terbiasa mengonsumsi aneka pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian, sorgum, hingga buah sukun. Ratusan jenis tanaman ini sebenarnya adalah jaring pengaman alami yang diberikan bumi agar bangsa kita tidak pernah kelaparan.

Peringatan keras dari FAO

Lalu, ke mana perginya ratusan ragam makanan tersebut? Untuk menjawabnya, kita perlu melihat laporan resmi dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada tahun 2019 yang berjudul The State of the World’s Biodiversity for Food and Agriculture. Laporan tersebut membunyikan alarm tanda bahaya di seluruh dunia. FAO mengungkapkan sebuah fakta yang mengerikan: dunia telah kehilangan sekitar 75 persen keragaman genetik tanaman pangannya sejak tahun 1900.

Kekayaan alam kita pelan-pelan punah tergusur oleh sistem pertanian industri monokultur. Demi mengejar produksi massal yang seragam secara global, jutaan hektare lahan hanya ditanami segelintir komoditas komersial seperti beras, jagung, gandum, dan kedelai. Ribuan benih lokal warisan nenek moyang kita perlahan dilupakan, berhenti ditanam, hingga akhirnya lenyap tak bersisa dari ingatan generasi muda.

Bahaya lupa ingatan ekologis

Penyeragaman isi piring ini bukanlah hal yang bisa dianggap remeh. Memfokuskan kebutuhan pangan hanya pada satu atau dua komoditas pokok, seperti beras atau gandum impor, sangatlah berisiko. Ketika seluruh populasi dunia hanya bergantung pada segelintir komoditas, sistem pertahanan pangan kita menjadi sangat rapuh.

Jika kelak muncul serangan wabah penyakit tanaman yang ganas, atau terjadi kekeringan ekstrem akibat perubahan iklim global, panen bisa hancur seketika. Selain itu, makan menu yang seragam setiap hari akan menciptakan masalah kesehatan yang disebut “kelaparan tersembunyi” (hidden hunger). Perut kita mungkin terasa kenyang oleh karbohidrat instan, tetapi sel-sel tubuh kita sebenarnya kelaparan karena kekurangan ragam vitamin dan mineral esensial yang biasanya ada pada tanaman lokal.

Membangkitkan pahlawan masa depan

Di sinilah gerakan Locavore mengambil langkah nyata. Kita tidak boleh membiarkan tanaman seperti sorgum yang tahan kering, hanjeli yang kaya protein, atau aneka ubi dan sagu hanya menjadi catatan sejarah di museum. Tanaman-tanaman ini sering disebut sebagai forgotten foods atau makanan yang terlupakan. Padahal, mereka adalah pahlawan masa depan kita.

Menghidupkan kembali konsumsi pangan lokal beraneka ragam bukan berarti kita mundur ke zaman purba. Ini adalah sebuah langkah perlindungan yang sangat cerdas. Ketika Anda memutuskan untuk membeli dan memasak umbi-umbian lokal atau sayuran liar (wild foods), Anda sedang memberikan sinyal ekonomi kepada petani untuk terus menanamnya. Ingat, cara terbaik untuk menyelamatkan tanaman pangan lokal dari kepunahan bukanlah dengan memasukannya ke dalam bank benih yang dingin, melainkan dengan menaruhnya kembali di atas meja makan kita. []

*Pemerhati Human Centered Design & Systemic Design.

Exit mobile version