Jernih.co

Menanti Kreativitas Presiden Prabowo

Kalau saja Presiden Prabowo kreatif, tentu tidak akan muncul istilah pakak itu. Prinsip kreatif itu sederhana saja. Pertama, belajar dari pengalaman yang lampau. Bekerja baik pada masa kini. Sebagai Menteri Pertahanan Keamanan dalam kabinet kedua Joko Widodo tentu Prabowo punya pengalaman yang jelek. Dia mengetahui tata kelola negara yang amburadul dan korupsi yang merajalela. Ketika dia tidak mengulanginya, sesungguhnya Presiden Prabowo sudah kreatif.

Oleh     :  Prof. Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Patutkah seorang mahasiswa menggunakan istilah pakak ketika mengkritik Presiden Prabowo? Pakak merupakan istilah dalam Bahasa Minang. Secara harfiah, pakak berarti tuli. Namun, ia bisa pula menjadi ungkapan untuk memaki seseorang. Dalam keadaan begini, pakak berarti bodoh.

Ketika seorang anggota BEM Universitas Andalas (Unand) mengumpat Presiden Prabowo menggunakan kata pakak, jelas dia tidak sopan. Dia melanggar etiket. Namun, etiket bersifat relatif. Yang tidak sopan dalam sebuah kebudayaan bisa saja dinilai sopan dalam kebudayaan lain.

Lalu di mana posisi pakak sebagai sebuah ekspresi? Sebagai ekspresi, pakak harus menghasilkan kesan yang jelas dan mantap. Ia tidak boleh menghasilkan kesan yang berbeda dengan kenyataan. Secara teoritis, ekspresi, kata William Atkinson (2020), bermakna: (i) mengerahkan pemahaman, (ii) memuaskan imajinasi, (iii) memindahka,  gairah, dan (iv) memengaruhi kehendak. Bila sebuah ekspresi sudah menghasilkan salah satu saja dari keempat kesan tersebut, ia sudah sah.

Pertanyaannya lantas, kesan mana yang dihasilkan oleh ungkapan pakak terhadap Presiden Prabowo? Silakan nilai sendiri. Yang jelas, Andre Rosiade menyebutkan ungkapan anggota BEM Unand di atas tidak menggunakan adab. Katanya: “Kita silakan mengkritik secara objektif, tapi gunakan adab. Kritik itu vitamin bagi pemerintah, tapi jangan sampai menyebut Presiden dengan kata-kata seperti itu”, seperti dikutip detiknews,5 April 2026.

Kalau saja Presiden Prabowo kreatif, tentu tidak akan muncul istilah pakak itu. Prinsip kreatif itu sederhana saja. Pertama, belajar dari pengalaman yang lampau. Bekerja baik pada masa kini. Sebagai Menteri Pertahanan Keamanan dalam kabinet kedua Joko Widodo tentu Prabowo punya pengalaman yang jelek. Dia mengetahui tata kelola negara yang amburadul dan korupsi yang merajalela. Ketika dia tidak mengulanginya, sesungguhnya Presiden Prabowo sudah kreatif.

Kedua, kreatif tidak selalu mesti serba megah dan mencolok. Presiden Prabowo juga menykasikan banyak program Joko Widodo yang serba megah dan mencolok, seperti Ibu Kota Negara (IKN), Bandara Kerta Jati, stadion olah raga besar di Jayapura, rel LRT di Palembang, kereta api cepat Jakarta-Bandung. Namun, biaya pembangunannya sangat besar dan meninggalkan hutang yang sangat besar dan membenbani APBN. Ketika Presiden Prabowo tidak peduli dengan yang serba mencolok dan megah itu, dia juga sudah akreatif.

Ketiga,  bisa memanfaatkan sebesar mungkin dari kemampuan yang terbatas juga sikap kreatif. Ketika menjadi Presiden, Jokowi kerap mengabaikan prinsip ini. Dia terus saja berhutang dan menciptakan politik dinasti. Kalau Presiden Prabowo tidak melakukan apa yang sudah dilakukan Jokowi, dia sudah kreatif.

Namun, rakyat awam belum melihat Presidan Prabowo mengamalkan  ketiga prinsip kreativitas itu. Mereka melihat Presiden Prabowo masih tersandera oleh atmosfir pemerintahan Joko Widodo. Dia masih tersihir oleh populisme pemerintahan Jokowi. Akibatnya, seperti diungkapkan oleh beberapa pengamat—antara lain Saiful Mujani dan Islah Bahrawi—sebaiknya Presiden Prabowo diturunkan.

Menghadapi komentar ini, beberapa pengamat yang berseberangan dengan mereka, bersuara. Pendukung Presiden Prabowo juga berkomentar. Semuanya membalas balik para pengamat. Ini tentu tidak akan membuat keadaan semakin renyam. Yang lahir malah drama yang hanya enak ditonton.

Sementara itu, perjalanan yang akan ditempuh Presiden Prabowo masih panjang. Perjalanan itu berbeda dengan perjalanan presiden-presiden Indonesia sebelumnya. Untuk itu, Presiden Prabowo perlu mempraktikkan prinsip keempat kreatif, yakni melihat dan menimbang segala masalah secara menyeluruh dan berorientasi pada kemanusiaan. Tidak hanya bertindak parsial dalam menyelesaikan masalah. Kalau sudah begini, Presiden Prabowo akan memperoleh respek banyak pihak.

Pengamalan keempat prinsip kreativitas di atas tidak sederhana. Selalu ada pertentangan ketika akan mempraktikkannya. Namun, rakyat awam tetap menantinya dengan harap-harap cemas. Apakah Presiden Prabowo tega  membiarkan mereka menanti saja, ibarat menanti Godot dalam drama Samuel Becket. [ ]

*Gurubesar Jurnalisme UGM

Exit mobile version