Jernih.co

Mengapa Teheran Tak Gentar Menghadapi Gertakan Amerika Serikat?

Bagi Iran, melawan Amerika bukan tentang menghancurkan militer AS secara keseluruhan, melainkan tentang “menaikkan biaya perang” hingga AS merasa bahwa melanjutkan konflik tidak lagi sebanding dengan keuntungan yang didapat.

WWW.JERNIH.CO –  Di koridor-koridor kekuasaan di Teheran, retorika perang yang ditiupkan oleh Washington tidak dianggap sebagai lonceng kematian, melainkan sebagai lagu lama yang kehilangan nadanya.

Sementara media Barat sibuk menghitung jumlah kapal induk di Teluk Persia, Iran sedang memainkan permainan catur jangka panjang yang didasarkan pada satu keyakinan fundamental: Amerika Serikat tidak mampu membayar harga untuk sebuah perang total.

Memasuki Januari 2026, ketegangan ini mencapai titik didih baru seiring kembalinya retorika agresif dari pemerintahan Donald Trump. Namun, di balik kepulan asap ancaman tersebut, Teheran berdiri tegak dengan kalkulasi strategis yang matang, memandang pengerahan armada tempur AS tak lebih dari sekadar “diplomasi kapal perang” yang usang.

Bagi Republik Islam Iran, ketegangan ini bukanlah soal agresi, melainkan soal pertahanan harga diri dan kedaulatan nasional. Sejak Revolusi 1979, Teheran telah mengecap pahitnya pengkhianatan diplomatik dan tekanan ekonomi. Pengalaman tersebut menempa keyakinan bahwa tunduk pada kehendak Barat hanya akan berujung pada pelemahan bangsa.

Iran melihat kehadiran militer AS di depan pintunya bukan sebagai manifestasi kekuatan absolut, melainkan sebagai tanda keputusasaan hegemoni yang mulai memudar di panggung global.

Para pemimpin Iran, termasuk Wakil Presiden Mohammad Reza Aref, telah berulang kali menegaskan bahwa meski mereka tidak menginginkan pertumpahan darah, militer Iran berada dalam kondisi “siap tempur” yang permanen.

Bagi Teheran, diplomasi yang dilakukan di bawah bayang-bayang moncong meriam hanyalah bentuk lain dari penjajahan modern. Mereka telah melampaui fase intimidasi; setiap ancaman yang dilontarkan Washington justru memperkuat persatuan domestik dalam melawan apa yang mereka sebut sebagai “Setan Besar.”

Amerika Serikat mungkin unggul secara kuantitatif dalam teknologi jet tempur konvensional, namun Iran telah mendefinisikan ulang medan perang melalui strategi asimetris.

Teheran menyadari bahwa mereka tidak perlu menandingi jumlah kapal induk AS untuk menang. Mereka hanya perlu menciptakan situasi di mana biaya untuk mengerahkan aset-aset mahal tersebut menjadi terlalu berisiko bagi Washington. Melalui konsep “Pertahanan Aktif,” Iran telah menyiapkan ekosistem perang yang dirancang khusus untuk mengeksploitasi setiap celah kecil dari sang raksasa.

Senjata andalan pertama adalah Rudal Hipersonik dan Balistik. Dengan pengembangan mutakhir seperti Fattah-2, Iran memiliki kemampuan untuk menembus sistem pertahanan tercanggih milik AS dan sekutunya. Selain itu, Lautan Drone Iran yang murah namun mematikan telah menjadi momok bagi infrastruktur militer modern. Dengan taktik saturation attack (serangan saturasi), ratusan drone yang diluncurkan secara bersamaan mampu membuat sistem radar Patriot atau Aegis kewalahan hingga kehabisan amunisi.

Lebih jauh lagi, Iran memegang kartu as ekonomi melalui Blokade Selat Hormuz. Sebagai pemegang kunci jalur energi dunia, Teheran mampu mengirimkan gelombang kejut yang bisa meruntuhkan bursa saham global dalam sekejap—sebuah risiko yang tidak akan berani diambil oleh pemimpin AS mana pun yang peduli pada stabilitas ekonomi domestiknya.

Puluhan tahun isolasi tidak membuat Iran bertekuk lutut; sebaliknya, hal itu melahirkan apa yang disebut sebagai “Ekonomi Perlawanan”. Strategi ini bukan cuma slogan, melainkan peta jalan komprehensif untuk membangun kemandirian. Iran sudah berubah, tidak saja sebagai negara eksportir minyak mentah; mereka adalah bangsa dengan basis industri domestik yang kuat dan sumber daya manusia yang terdidik di bidang teknologi tinggi.

Di saat negara-negara tetangganya bergantung sepenuhnya pada payung keamanan asing, Iran membangun kekuatannya dari dalam, mulai dari kemandirian pangan hingga industri militer yang mandiri.

Ketangguhan ini didukung oleh jaringan sekutu regional yang dikenal sebagai Axis of Resistance. Dari Hizbullah di Lebanon hingga Houthi di Yaman, Iran memiliki jangkauan strategis yang melampaui perbatasannya. Jaringan ini memastikan bahwa jika Iran diserang, pangkalan-pangkalan AS dan kepentingan sekutunya di seluruh Timur Tengah akan menjadi target secara simultan.

Kemandirian dan jaringan proksi ini memberikan Teheran napas panjang yang tidak dimiliki oleh pasukan intervensi asing yang biasanya cepat lelah dan kehilangan dukungan publik jika konflik berlarut-larut.

Analisis di Teheran sering kali menyimpulkan bahwa ancaman Amerika hanyalah gertakan tanpa nyali untuk dieksekusi secara penuh. Ada alasan kuat di balik penilaian ini.

Pertama adalah trauma perang tanpa akhir; publik Amerika tidak lagi memiliki selera untuk terlibat dalam konflik baru yang jauh lebih besar dan berdarah daripada Irak atau Afganistan.

Kedua, adanya kekhawatiran mendalam terhadap keamanan sekutu, di mana setiap serangan ke Iran akan memicu respons balasan langsung ke jantung pertahanan mitra AS di kawasan.

Terakhir, faktor ketergantungan ekonomi global membuat Washington terkunci. Ketidakstabilan di Teluk Persia akan meroketkan harga minyak dan memicu inflasi hebat di Barat.

Per Januari 2026, dengan integrasi 1.000 drone tempur baru dan perluasan “Kota Rudal” bawah tanah, Iran telah membuktikan bahwa mereka bukan lagi target yang mudah.

Pada akhirnya, Iran berdiri bukan sebagai provokator, melainkan sebagai benteng yang menolak untuk runtuh. Keberanian mereka muncul dari perhitungan matang bahwa “Goliath” tidak akan berani melangkah lebih jauh dari sekadar gertakan di atas air karena harga yang harus dibayar terlalu mahal untuk ditanggung.(*)

BACA JUGA: Donald Trump Sebut  ‘Armada’ AS Sedang Menuju Iran

Exit mobile version