Jernih.co

Mengapa Trump Urung Serang Iran?

Ancaman sudah dilontarkan, pangkalan siaga, dan kawasan Timur Tengah menahan napas. Namun di menit-menit akhir, rudal Amerika tak pernah meluncur. Apa yang sebenarnya membuat Donald Trump ragu menghadapi Iran?

WWW.JERNIH.CO –  Saat Donald Trump mempertimbangkan kemungkinan serangan terhadap Iran pada pekan ini, para pekerja kota di Israel kembali membuka tempat-tempat perlindungan bom umum yang telah lama berdebu sejak perang singkat pada Juni lalu.

Situasi regional tampak memanas: Trump disebut sudah “siap tempur”, kawasan Timur Tengah bersiap menghadapi putaran baru serangan udara, dan sejumlah pejabat Inggris bahkan mulai mengevakuasi pangkalan serta kedutaan mereka.

Namun menjelang akhir pekan, suasana di Washington berubah drastis. Serangan yang ditunggu-tunggu itu tak kunjung terjadi. Sesuatu membuat presiden Amerika Serikat ragu untuk melangkah lebih jauh.

Iran Siap Perang

Sebagian jawabannya ada di dalam Iran sendiri. Alih-alih melemah, rezim di Teheran justru tampak lebih kokoh dibandingkan sebelumnya. Unjuk rasa pro-pemerintah memenuhi jalan-jalan ibu kota, sementara aparat keamanan terlihat kembali memegang kendali penuh.

Di saat yang sama, Iran meningkatkan kesiapan militernya. Seorang komandan elite Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa negaranya berada di puncak kesiapan, dengan persediaan roket yang bahkan meningkat sejak konflik 12 hari melawan Israel musim panas tahun lalu.

Meski sempat berperang, Iran masih memiliki kekuatan militer yang signifikan untuk merepotkan musuh-musuhnya di kawasan, terutama sebelum bala bantuan besar Amerika Serikat tiba. Yang paling mengkhawatirkan adalah persediaan besar rudal balistik jarak pendek yang mampu menjangkau pangkalan dan aset militer AS di Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Arab Saudi.

Iran juga berpotensi menargetkan infrastruktur energi di Teluk, seperti yang pernah dilakukannya terhadap Arab Saudi. Perkiraan terbaik menyebutkan Iran memiliki sekitar 1.750 rudal balistik jarak pendek, termasuk Fateh-110, Fateh-313, Zolfaghar, dan Qiam-1.

Israel Hati-hati

Di sisi lain, Amerika Serikat memang memiliki baterai pertahanan udara Patriot di Timur Tengah, tetapi sistem ini terutama efektif pada fase akhir lintasan rudal. Untuk menekan serangan sejak awal, Washington membutuhkan lebih banyak kapal perusak dan jet tempur di kawasan. Tak mengherankan jika para pemimpin negara-negara Teluk mendesak Trump untuk menahan diri.

Menurut Matthew Savill dari Royal United Services Institute, negara-negara Arab tidak keberatan melihat Iran melemah, tetapi mereka jauh lebih memilih Iran yang lemah daripada risiko pembalasan besar-besaran yang bisa mengguncang kawasan. Apalagi, peran mereka sangat penting dalam keberhasilan inisiatif perdamaian Gaza yang diprakarsai Trump.

Israel pun menunjukkan sikap yang lebih berhati-hati. Selama sepekan terakhir, retorika publik Tel Aviv terhadap Iran melunak. Terungkap bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, seperti para pemimpin Arab lainnya, juga mendesak Trump untuk tidak menyerang saat ini.

Dalam perang Juni lalu, Iran diyakini hanya menggunakan sekitar separuh dari rudal balistik jarak menengahnya, dengan sisa persenjataan diperkirakan masih sekitar 1.500 unit. Sementara itu, Israel menghadapi kekhawatiran serius terkait stok rudal pencegatnya.

Beberapa estimasi menyebutkan bahwa jumlah rudal yang ditembakkan Israel pada Juni lalu setara dengan kapasitas produksi selama dua tahun, dan seiring berjalannya konflik, semakin banyak rudal Iran yang berhasil menembus pertahanan udara.

Meskipun pemerintah dan publik Israel siap menanggung trauma serangan lanjutan jika hasilnya jelas menguntungkan keamanan nasional, kekhawatiran khusus muncul terkait stok pencegat Arrow anti-balistik.

Sejumlah kalangan di lembaga keamanan Israel menilai ini bukan waktu ideal untuk eskalasi baru. Mantan Penasihat Keamanan Nasional Israel, Zachi Hanegbi, menulis bahwa sebelum perintah tempur dikeluarkan, kekuatan dunia membutuhkan perencanaan matang dan konsentrasi penuh atas kemampuan pertahanan udara, intelijen, logistik, hingga komando dan kendali.

Militer Terbatas

Dari sisi militer, kehadiran Amerika Serikat di kawasan saat ini terbilang terbatas. Hanya tiga kapal perusak dan tiga kapal tempur pesisir yang dikerahkan, tanpa satu pun kelompok tempur kapal induk—sesuatu yang tidak lazim untuk Timur Tengah. Kapal induk AS justru tersebar di Jepang, Laut Cina Selatan, dan lepas pantai Venezuela.

Meski USS Abraham Lincoln dilaporkan mengubah haluan menuju barat, kekosongan ini secara signifikan mengurangi opsi ofensif Gedung Putih. Jumlah jet tempur canggih berbasis darat, seperti F-22 dan F-35, juga sangat terbatas di kawasan.

Dengan aset yang ada, AS mungkin hanya mampu melancarkan serangan terbatas dan bersifat simbolis, misalnya melalui rudal Tomahawk dari kapal perusak atau kapal selam. Operasi yang lebih besar dan berkelanjutan hampir pasti membutuhkan kapal induk, belum lagi menghadapi sekitar 200.000 personel IRGC dan jutaan aparat keamanan serta milisi Basij.

Meski Amerika unggul secara teknologi, skala dan kompleksitas tantangan membuat kemenangan cepat seperti yang diinginkan Trump menjadi sangat tidak realistis.

Trump sendiri menjelaskan jeda dalam ancaman militernya dengan menyebut bahwa rezim Iran telah menghentikan pembunuhan dan menunda sekitar 800 eksekusi demonstran sebagai bukti efektivitas tekanannya.

Di saat bersamaan, utusannya, Steve Witkoff, mulai menekankan preferensi pemerintah terhadap jalur diplomasi. Meski tekanan untuk menyerang tetap datang, termasuk dari putra mahkota Iran di pengasingan, Reza Pahlavi, realitas militer di lapangan berbicara lain.

Maka kendati menggelar operasi terbatas—apalagi upaya menjatuhkan rezim—akan membutuhkan pengerahan aset besar, risiko tinggi, dan potensi eskalasi luas.

Pengalaman serangan terhadap fasilitas nuklir Fordow pada Juni lalu, yang melibatkan sekitar 125 pesawat untuk mendukung hanya tujuh pembom B-2, menjadi gambaran jelas kompleksitas tersebut. Menghadapi kekuatan militer Iran yang besar, kemampuan balasan yang signifikan, dan minimnya dukungan regional untuk eskalasi, tampaknya Trump memilih menahan diri.

Tanpa perang darat—opsi yang jelas tidak ia inginkan—menjatuhkan rezim Iran nyaris mustahil, terlebih kini rezim tersebut tampak kembali kokoh tanpa ancaman protes jalanan yang berarti. Iran bukan Venezuela. (*)

BACA JUGA: Trump ‘Kompori’ Pengunjuk Rasa Iran untuk Mengambil Alih Lembaga-lembaga Negara

Exit mobile version