Apakah masyarakat tenang? Tidak. Masyarakat tetap saja heboh. Apalagi berbagai alasan sebenarnya tentang kemunduran itu berseliweran di media sosial. Satu alasan yang menonjol adalah “Perry bukan mengundurkan diri secara suka rela, namun dipaksa mundur”.
Oleh : Ana Nadhya Abrar*

JERNIH– Kita kerap tidak tahu persis apa yang terjadi. Yang jelas informasi tentang peristiwa penting sering datang tiba-tiba. Begitu mengejutkan. Ia tidak sekadar hadir. Namun, membawa kehebohan.
Sebuah contoh adalah informasi tentang pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Parjiyo, pada 25 Juli 2026. Masyarakat kaget. Mereka juga heran. Tanpa ada sinyal apa-apa, Perry mundur. Mereka pun bertanya-tanya, apa sih penyebabnya?
Jawabannya diberitakan oleh cnbcindonesia.com, 29 Juli 2026. Di bawah berita bertajuk “Terungkap! Ini Alasan Perry Warjiyo Mundur dari Jabatan Gubernur BI”, Destry Damayanti, yang otomatis menjadi Gubernur BI sementara, menyatakan Perry mundur dengan suka rela.
Selanjutnya Destry berkata: “Sehubungan dengan pengunduran diri saudara Perry Warjiyo dari posisi Gubernur BI secara sukarela karena alasan pribadi pada tanggal 25 Juli 2026, sesuai dengan pasal 48 ayat 1 (a) UU 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, sebagaimana telah diubah beberapa kali terakhir dengan UU 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan, maka dewan gubernur dalam Rapat Dewan Gubernur 26 Juli 2026 menetapkan Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti sebagai pejabat Gubernur Sementara”.
Apakah masyarakat tenang? Tidak. Masyarakat tetap saja heboh. Apalagi berbagai alasan sebenarnya tentang kemunduran itu berseliweran di media sosial. Satu alasan yang menonjol adalah “Perry bukan mengundurkan diri secara suka rela, namun dipaksa mundur”. Tanpa bisa dibendung muncul berbagai berita tentang siapa yang menyuruh mundur. Sebagian besar berita itu lahir berkat bantuan Artificial Intelligence (AI). Masyarakat semakin heboh.
Kita tidak tahu persis apakah karena kehebohan masyarakat ini pemerintah belum juga menetapkan siapa Gubernur BI definitif. Yang jelas masyarakat menunggu siapa yang akan menggantikan Perry sebagai Gubernur BI. Mereka seakan-akan mengonfirmasikan pendapat mereka (yang terbentuk dari berita yang dihasilkan AI) dengan kenyataan yang ada kelak.
Lalu pada 4 Agustus 2026, giliran Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang membuat heboh masyarakat. Gegaranya, dia diberitakan media online sempat curhat ke International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (Bank Dunia) dalam kunjungan kerja ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu.
Selanjutnya Purbaya berkata, “Ketika saya pergi ke pertemuan IMF dan World Bank pada April lalu, saya mengatakan bahwa saya adalah menteri yang paling tidak beruntung di dunia,” katanya dalam acara GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang, Selasa (4/8/2026)”, tulis www.suara.com, 4 Agustus 2026.
Sama halnya dengan berita tentang mundurnya Perry, berita mengenai curhatnya Purbaya membuat masyarakat heboh. Berita-berita lanjutan tentang itu yang lahir berkat bantuan AI membuat masyarakat berpikir, Jangan-jangan pengganti Perry adalah Purbaya. Kalau jadi, nanti BI tidak independen lagi. Akan berada di bawah pemerintah.
Dalam keadaan begini, AI bisa disebut menjadi katalisator kehebohan masyarakat. Dengan semua fakta yang dimilikinya AI bisa mengaitkan mudurnya Perry dan curhatnya Purbaya. AI bahkan bertindak sebagai duta dari wisata masa lalu. Ia bisa memberikan informasi tentang Indonesia pada situasi Bank Indonesia di bawah pemerintah orde baru dan segala dampak negatifnya. Ini yang dibaca oleh masyarakat dan menimbulkan kehebohan itu.
Namun, apa sebenarnya pegangan penulis berita atau kita dalam menggunakan AI? Tentu saja imajinasi tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kalau menulis berita dengan bantuan AI. Kemungkinan itu tentu tidak satu. Pilih satu yang bisa mengurangi kehebohan warga.
Jawaban ini malah melahirkan pertanyaan baru, bagaimana penulis berita atau kita bisa membentuk imajinasi itu? Mempraktikkan filsafat sebelum menggunakan AI. Soalnya, filsafat bisa menyingkap kemanusiaan. Ia, oleh Van Peursen (1956), malah disebut berintikan kemanusiaan. Namun, sesuai dengan saran Immanuel Kant (1784), kita bukan harus belajar filsafat, tetapi berfilsafat. []
*Guru Besar Jurnalisme UGM