Saya sulit menerima pandangan, seolah-olah kita mampu menghasilkan apa saja, padahal faktanya kedelai, daging sapi dan lainnya masih impor. Jangankan kita, Amerika Serikat yang begitu digdaya saja masih membutuhkan ikan tuna segar, udang dan kepiting dari pasokan luar, termasuk Indonesia.
Oleh : Marlin Dinamikanto

JERNIH– Indonesia sepertinya salah perencanaan soal pangan sejak nenek moyang. Contohnya tempe. Dia dihasilkan dari biji-bijian asli sub-tropis bernama kedelai. Maka saat kebutuhan tempe meluas konsekuensinya impor kedelai ke AS, wilayah yang memang kedelai tumbuh subur.
Satu lagi mie instan. Kendati mampu mengreasi makanan cepat saji dalam bentuk mie instan yang digemari orang-orang Afrika Barat, namun bahan dasarnya tepung terigu tidak dihasilkan di kepulauan Nusantara. Mau tidak mau kita import dari negara penghasil terigu.
Sebaliknya Amerika Serikat, negara adi daya penghasil terigu, biji-bijian termasuk jagung dan kedelai, pisang dan buah-buahan, sebut saja apel Washington yang menjadi populer sebagai kata sandi para koruptor, boleh jumawa dalam soal pertanian. Tapi tidak dalam hal kelautan.
Sebab dalam hal kelautan, 85 hingga 90 persen kebutuhan ikan warganya dipasok dari impor. Indonesia termasuk pemasoknya. Artinya, kita impor kedelai dan jagung dari sana, tapi sebaliknya mereka butuh ikan tuna, udang, kepiting dan rumput laut dari perairan nusantara.
Jadi sudah benar kalau mantan Menteri Susi Pudjiastuti yang tomboy itu menjaga habis-habisan laut Indonesia dari pencurian. Sebab kalau sebelumnya AS mendapatkan ikan dari China atau Thailand yang menjarah perairan Indonesia, kini mereka harus mendapatkan kebutuhan ikannya dari pemilik aslinya yang sah, Indonesia.
Sejak itu ikan menjadi komoditas unggulan Indonesia, bukan saja terhadap Amerika Serikat yang biji kedaleinya amat disukai pengrajin tempe Indonesia, melainkan juga Jepang, Korea dan lainnya. Perang untuk kedaulatan pangan bukan hanya di darat, melainkan juga di laut.
Tapi kedaulatan tidak harus semua dihasilkan dari tanah di kepulauan nusantara, kecuali untuk tanam-tanaman rempah dan biji-bijian tropis yang memang asli kepulauan nusantara. Bagaimana dengan tempe yang faktanya berasal dari kedelai yang memang tumbuhan sub-tropis.
Seberapa pun luas lahan yang ditanam, apalagi kebutuhan pangan bukan hanya untuk membuat tempe atau tahu, akan sulit mengejar tingginya kebutuhan. Di sini sebenarnya pentingnya kerja-sama antar bangsa. Karena memang dunia ini saling melengkapi satu sama lain.
Maka saya sulit menerima pandangan, seolah-olah kita mampu menghasilkan apa saja, padahal faktanya kedelai, daging sapi dan lainnya masih impor. Jangankan kita, Amerika Serikat yang begitu digdaya saja masih membutuhkan ikan tuna segar, udang dan kepiting dari pasokan luar, termasuk Indonesia.
Tapi yang kebangetan memang garam. Kita sebagai negara dengan panjang pantai kedua setelah Kanada mosok harus impor garam. Nah, di sini memang bisa dipastikan ada mafianya, karena hal-hal yang tidak masuk akal terus saja terjadi. Kadang barangnya pun asli Indonesia tapi diputer-puter dari tangan ke tangan sehingga seolah-olah kita impor.
Di sini sebenarnya pentingnya ketegasan pemimpin dalam penegakan hukum. Bukan justru pemimpin yang merupakan bagian dari mafia itu sendiri. Tanpa itu sampai kapanpun kita tidak akan pernah berdaulat di bidang apapun.
Tentu kita tidak mau didikte asing. Tapi salah besar kalau mengkambing-hitamkan asing sebagai sumber masalah. Karena acap kali sumber masalahnya ada di orang kitanya sendiri, terutama para pemimpin yang lebih nyaman menjadi calo (komprador) kepentingan asing.
Bung Karno sendiri tidak antiasing. Tapi menempatkan komoditas asing sebagai pengganti kalau sekiranya memang tidak bisa didapat, atau pun kalau bisa didapat hasilnya tidak mencukupi, seperti halnya kedelai. Kalau bisa diusahakan di dalam negeri ya kenapa harus impor?
Karena memang sejak zaman sebelum Majapahit, tatkala perekonomian masih subsisten, kebutuhan manusia sudah saling ketergantungan. Lebih-lebih sekarang saat “gaya hidup” manusia di belahan dunia yang satu tidak berbeda jauh dengan manusia di belahan lainnya.
Apalagi kita sebagai bangsa pelaut yang melanglang buana, sejumlah bukti arkeologis sudah menunjukkan kita juga mengkonsumsi pangan yang sebelumnya tidak ada di kepulauan nusantara. Sebut saja domba yang tulang-belulangnya ditemukan di NTT.
Di sini sebenarnya kita tidak bisa xenophobia terhadap apapun yang berasal dari asing. Yang diperlukan adalah keyakinan terhadap diri sendiri, kita tidak akan kalah dengan bangsa-bangsa lain dalam mewarnai peradaban, sejauh dalam diri kita sendiri terbebas dari sifat-sifat culas, komprador dan menindas.
Karena saya berkeyakinan, nantinya yang membedakan martabat kemanusiaan bukan kita dan asing. Melainkan penindas dalam tubuh kita sendiri, dan penindas dari dalam diri orang-orang asing.
Konflik sesungguhnya bukan Kita Vs Asing yang bagi saya adalah kesadaran Palsu, melainkan Penindas Vs Tertindas entah dari manapun latar belakangnya. Apakah dia bule, mata sipit atau sawo mateng, kalau dia melanggengkan penghisapan itulah musuh saya.
Sebaliknya, apakah dia Bule, Arab, India, Mongolid, Negro dan lainnya, kalau sama-sama berjuang membangun tatanan dunia yang lebih adil dan tidak menghisap, itulah sekutu saya yang sesungguhnya.
Sejarah perlawanan yang beginian tidak boleh mati seperti yang diramalkan Fukuyama, atau bergeser menjadi pertarungan agama seperti yang disebut Hutington. Tapi tentu saja, bentuk dan cita-cita perjuangannya mungkin tidak sama persis dengan perjuangan kaum sosialis Abad XX.
Cita-cita sosialis ke depan mungkin bukan Diktator Proletariat, melainkan terwujudnya kelas menengah tanpa batas. Kaum pekerja tetap yang harus memimpin perubahan lewat prosedur demokrasi yang lebih partisipatif, bukan sekedar prosedural seperti sekarang.
Tentang bagaimana cara dan prosedur pelaksanaannya, biarlah anak-anak muda yang lahir di Abad XXI yang merumuskannya. Karena ini memang generasi mereka.[]
* Catatan dibuat di Facebook lama, posting 27 Maret 2017