Radikal! Pertamina resmi melebur tiga kekuatan besarnya—Patra Niaga, Kilang Pertamina Internasional, dan Pertamina International Shipping—ke dalam satu payung Subholding Downstream. Langkah efisiensi birokrasi plus strategi tempur untuk memangkas biaya logistik nasional.
WWW.JERNIH.CO – Akhirnya Pertamina ambil langkah berani. Tiga anak perusahaan di-merger. Hal ini sekaligus menjadi salah satu langkah strategis terbesar BUMN energi kita di awal tahun 2026 ini. Keputusan ini menandai babak baru dalam sejarah industri migas nasional, di mana integrasi vertikal menjadi kunci utama untuk bertahan di tengah gejolak pasar energi global.
Tepat pada 1 Februari 2026, PT Pertamina (Persero) secara resmi melakukan penggabungan tiga anak perusahaan besarnya di sektor hilir menjadi satu entitas tunggal yang kini disebut sebagai Subholding Downstream.
Struktur baru ini menyatukan tiga kekuatan utama: PT Pertamina Patra Niaga (PPN), PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan PT Pertamina International Shipping (PIS). Dalam skema ini, Pertamina Patra Niaga bertindak sebagai surviving entity atau entitas yang menerima penggabungan.
Penyatuan ini bukan hanya soal administratif, melainkan penggabungan ekosistem besar yang mencakup produksi di kilang, pengangkutan melalui armada laut, hingga distribusi ke tangan konsumen melalui SPBU dan agen LPG di seluruh pelosok negeri.
Langkah ini diambil dengan alasan utama untuk merespons dinamika energi global yang semakin menuntut kecepatan dan efisiensi. Dengan adanya merger, Pertamina berupaya menghapus redundansi atau tumpang tindih birokrasi yang selama ini sering kali menghambat pengambilan keputusan strategis.
Sebelum merger, koordinasi antara bagian kilang (produksi) dengan logistik laut (PIS) dan distribusi darat (PPN) sering kali memerlukan proses panjang. Kini, dengan integrasi rantai pasok, seluruh proses dari hulu ke hilir berada di bawah satu komando, membuat operasional perusahaan menjadi jauh lebih lincah (agile).
Selain itu, merger ini menjadi motor penggerak transisi energi. Melalui Subholding Downstream, pengembangan bahan bakar rendah karbon seperti Biofuel dan Petrokimia dapat dilakukan secara terpadu. Hal ini sejalan dengan ambisi pemerintah Indonesia untuk mencapai Net Zero Emission.
Dengan mengikuti model bisnis perusahaan minyak internasional (IOC) yang sukses mengintegrasikan lini hilir, Pertamina diproyeksikan akan memiliki daya saing global yang jauh lebih kuat, terutama dalam hal efisiensi biaya produksi dan distribusi.
Melihat ke belakang sebelum penggabungan, ketiga perusahaan ini sebenarnya berada dalam kondisi keuangan yang sehat namun memiliki karakteristik tantangan yang berbeda. Pertamina Patra Niaga memegang beban omzet terbesar karena bersentuhan langsung dengan masyarakat, namun margin keuntungannya sangat dipengaruhi oleh kebijakan subsidi negara.
Di sisi lain, Kilang Pertamina Internasional (KPI) tengah mengelola investasi masif untuk proyek RDMP (Refinery Development Master Plan) guna meningkatkan kapasitas pengolahan. Sementara itu, Pertamina International Shipping (PIS) muncul sebagai “bintang” baru yang mencetak laba signifikan berkat ekspansi agresif ke pasar logistik energi internasional.
Melalui merger strategis ini, pemerintah menetapkan standar target yang komprehensif melalui prinsip 4A + S untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Fokus utama dari integrasi ini adalah menjamin ketersediaan energi tanpa putus (Availability) dan memperluas akses hingga ke wilayah Terluar, Terdepan, dan Terpencil (Accessibility).
Selain itu, penggabungan ini diharapkan mampu menjaga harga tetap kompetitif (Affordability) melalui penghematan biaya logistik yang drastis, sembari memastikan produk yang dihasilkan semakin ramah lingkungan (Acceptability) demi menjaga keberlangsungan bisnis energi di masa depan (Sustainability).
Untuk menakhodai raksasa baru ini, Menteri BUMN bersama Direksi Utama Pertamina telah menunjuk jajaran eksekutif berpengalaman yang bertugas mengawal masa transisi. Struktur kepemimpinan Subholding Downstream kini dipimpin oleh Riva Siahaan sebagai Direktur Utama yang membawahi visi strategis integrasi hilir secara menyeluruh.
Ia didampingi oleh Taufik Aditiyawarman sebagai Direktur Strategi & Pengembangan Bisnis yang fokus pada transisi energi dan ekspansi petrokimia, serta Yoki Firnandi selaku Direktur Operasi Terintegrasi yang memegang kendali penuh atas sinergi antara operasional kilang, armada kapal, dan jaringan distribusi.
Guna memastikan kesehatan organisasi dan finansial entitas baru ini, posisi Direktur Keuangan dipercayakan kepada Mars Ega Legowo Putra yang bertanggung jawab atas konsolidasi laporan keuangan serta optimalisasi efisiensi biaya pasca-merger.
Sementara itu, aspek fundamental sumber daya manusia dikelola oleh Mia Krishna Anggraini sebagai Direktur SDM & Penunjang Bisnis. Fokus utamanya adalah melakukan penataan ulang fungsi SDM secara strategis dengan komitmen penuh untuk menjaga stabilitas karier karyawan tanpa adanya kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK), sehingga transformasi organisasi dapat berjalan harmonis.
Masa depan pasca-merger ini diprediksi akan membawa perubahan signifikan pada lanskap bisnis energi nasional. Biaya operasional diperkirakan akan turun secara konsisten karena sentralisasi pengadaan barang dan sinkronisasi jadwal pengiriman laut dengan jadwal produksi kilang.
Bagi masyarakat, integrasi ini menjanjikan distribusi BBM dan LPG yang lebih presisi berkat pemanfaatan sistem digital terpadu dari kilang hingga ke nosel SPBU.
Secara struktur organisasi, Pertamina kini menjadi jauh lebih ramping dengan fokus pada empat pilar utama: Hulu (Upstream), Hilir (Downstream), Gas, dan EBT (Power & NRE).
Dengan pengawasan di bawah badan pengelola investasi baru, Danantara, merger ini diharapkan mampu meningkatkan valuasi Pertamina di kancah global dan memberikan kontribusi dividen yang lebih besar bagi kas negara.(*)
BACA JUGA: Drama Tiga Babak Anak Pertamina
