Jika tidak, saya khawatir sejarah mungkin hanya akan mengingat Anda sebagai presiden yang mengecewakan, yang menggerogoti demokrasi dan keadilan di negerinya sendiri, melemahkan moral bangsa, dan meninggalkan rakyatnya dalam ketidakpercayaan terhadap hukum dan ketidakberdayaan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.
Oleh : Muhammad Yudisthira*
JERNIH–Pak Jokowi, di mana Anda sekarang ketika Nadiem Makarim sedang berada dalam penderitaan yang begitu berat?
Bukankah dulu Anda yang mengelu-elukannya, lalu memeluknya ke dalam lingkar kekuasaan? Bukankah Anda yang meminta dia melakukan digitalisasi pendidikan? Bukankah ia menjalankan persis agenda yang Anda kehendaki?
Tapi sekarang, ketika ia dikuyo-kuyo, dipermalukan di ruang publik, dan diseret ke dalam pusaran tuduhan yang sampai hari ini pun jauh dari terbukti secara meyakinkan, Anda seperti diam saja.
Mungkin Anda sudah berusaha melakukan sesuatu. Saya tidak tahu. Tapi jika benar demikian, tampaknya Anda melakukannya terlalu senyap. Sebab yang terlihat di hadapan publik justru seorang mantan menteri yang perlahan dihancurkan, sementara orang yang dulu memberinya mandat suaranya tak terdengar sedikit pun.
Apa salah Nadiem? Apa salah Ibam? Sampai tuntutan jaksa kemarin, publik belum sama sekali belum bisa melihat di mana letak kesalahan mereka. Apalagi sampai harus dituntut dan divonis sebegitu berat? Saya sudah capek menuliskan kembali kejanggalan dan inkoherensi dalam tuduhan-tuduhan terhadap mereka. Sudah terlalu banyak yang menulis dan bicara mengenai hal ini. Sudah terlalu cetho welo-welo.
Tuduhan berubah-ubah. Narasi bergeser. Tak satu pu didukung argumentasi yang meyakinkan. Pendapat para saksi ahli pun sudah menjadikan semua kelemahan tuduhan itu secara terang benderang.
Saya tidak perlu mengajari Anda apa yang seharusnya dilakukan. Anda pernah menjadi Presiden Republik Indonesia selama dua periode. Anda dekat dengan Presiden Prabowo. Dan bagaimanapun juga, lembaga kejaksaan dan kehakiman berada dalam orbit kekuasaan negara yang dipimpin Presiden sahabat Anda itu. Tentu ada lebih tahu bahwa selalu ada jalan untuk memastikan keadilan berjalan tanpa harus melanggar hukum. Tentu ada cara untuk mencegah seseorang dihancurkan oleh proses yang sejak awal terasa tak berjalan di jalur yang benar.
Pak Jokowi,
Ketika Anda pertama muncul sebagai calon gubernur DKI Jakarta, saya adalah pendukung mati-matian Anda. Nyaris fanatik total. Ketika Anda maju sebagai presiden, saya bahkan pasang badan untuk membela Anda. Saya harus berhadapan dengan banyak sahabat saya sendiri demi mendukung Anda.
Dan pada masa awal pemerintahan Anda, saya sungguh percaya bahwa harapan itu tidak salah. Tetapi entah pengaruh apa yang kemudian merasuki perjalanan kekuasaan Anda, saat secara perlahan saya melihat sesuatu yang lain. Pemangkasan wewenang KPK. Pembuatan undang-undang yang buru-buru dan tak berpihak pada rakyat. Campur tangan terhadap Mahkamah Konstitusi. Hingga mendesakkan kehendak politik untuk meloloskan anak Anda menjadi wakil presiden. Dan banyak hal lain yang membuat saya perlahan kehilangan kekaguman dan rasa hormat.
Sampai ada masa ketika saya bahkan tidak sanggup melihat wajah Anda di televisi. Saya terlalu kecewa.
Sekarang—di tengah kasus Nadiem dan Ibam ini—sesungguhnya Anda memiliki kesempatan terakhir untuk memperbaiki sesuatu. Bukan hanya reputasi politik Anda di mata manusia, melainkan terutama kualitas moral Anda di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.
Belalah mereka jika memang Anda tahu mereka tidak bersalah. Bersuaralah jika memang hati nurani Anda melonjak ingin membela yang benar. Bicara tegaslah, Pak. Jangan abu-abu. Ajak bicara Presiden kita. Dengan akal sehat, dan hati nurani. Gunakan seluruh sisa pengaruh yang masih Anda miliki untuk mencegah kezaliman terjadi.
Jika tidak, saya khawatir sejarah mungkin hanya akan mengingat Anda sebagai presiden yang mengecewakan, yang menggerogoti demokrasi dan keadilan di negerinya sendiri, melemahkan moral bangsa, dan meninggalkan rakyatnya dalam ketidakpercayaan terhadap hukum dan ketidakberdayaan sebagai pemegang kedaulatan tertinggi.
Saya mohon, Pak. Saya mohon…[ ]
*Sandi asma,alias nama pena seorang tokoh nasional
