Di sinilah relevansi bagi Indonesia—dan secara khusus bagi kepemimpinan Presiden Prabowo—menjadi sangat penting. Dunia baru ini membuka peluang sekaligus risiko. Ketergantungan yang berlebihan pada satu kekuatan akan semakin berbahaya, sementara kemampuan untuk bermanuver secara cerdas di antara berbagai kekuatan akan menjadi kunci.
Oleh : Haidar Bagir

JERNIH– Tak ada tatanan dunia yang abadi. Tak pula kekuasaan sebuah bangsa atau dinasti. Hegemoni, sekuat apa pun ia pernah mencengkeram, pada akhirnya selalu berhadapan dengan batas-batas kesejarahannya sendiri.
Apa yang kita saksikan hari ini—terutama dalam eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran—bukan sekadar perang regional, melainkan gejala dari pergeseran struktur kekuasaan global yang jauh lebih dalam.
Amerika Serikat memasuki konflik ini dengan keyakinan lama: bahwa superioritas militer dan dominasi geopolitiknya akan sekali lagi memaksakan hasil sesuai kehendaknya. Namun, seperti berulang kali terjadi dalam dua dekade terakhir—dari Irak, Afghanistan, Yaman, dan lain-lain—realitas di lapangan tidak lagi tunduk sepenuhnya pada skenario Washington. Iran, alih-alih runtuh atau mundur, justru menunjukkan kapasitas bertahan dan membalas yang mengejutkan. Bahkan, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, simbol-simbol superioritas militer Amerika dan sekutunya tampak tidak lagi kebal.
Di sinilah makna sebenarnya dari konflik ini: bukan siapa menang dalam hitungan hari atau minggu, melainkan siapa yang kehilangan citra tak terkalahkan. Dan dalam politik global, hilangnya citra itu sering kali lebih menentukan daripada hasil militer itu sendiri.
Lebih jauh, perang ini membuka kemungkinan lahirnya peta kekuatan baru di Timur Tengah.
Selama beberapa dekade, kawasan ini ditopang oleh arsitektur keamanan yang sangat bergantung pada Amerika Serikat. Negara-negara Teluk, Israel, dan berbagai rezim sekutu berdiri dalam orbit proteksi Washington. Namun, ketika kemampuan Amerika untuk menjamin keamanan itu mulai dipertanyakan—baik karena overstretch militer, tekanan ekonomi, maupun resistensi lokal—maka seluruh arsitektur tersebut mulai goyah.
Iran, dengan jaringan aliansinya di Lebanon, Irak, Yaman, dan bahkan bukan tidak mungkin juga (masih) di Suriah, telah lama membangun apa yang bisa disebut sebagai “axis of resistance” (sumbu perlawanan). Yang baru adalah: jaringan ini tidak lagi sekadar bertahan, tetapi mulai mengubah keseimbangan. negara-negara di kawasan—bahkan yang sebelumnya sangat pro-Barat—mulai melakukan kalkulasi ulang. Mereka tidak lagi sepenuhnya yakin bahwa masa depan keamanan mereka harus bergantung pada satu kekuatan saja.
Di titik ini, kita melihat munculnya kecenderungan multipolar di Timur Tengah: Turki dengan ambisinya sendiri, Iran dengan poros resistensinya, negara-negara Teluk yang mulai bermain lebih pragmatis, serta keterlibatan kekuatan eksternal seperti Rusia dan Cina yang semakin signifikan.
Di balik semua ini, ada faktor yang lebih mendasar: melemahnya fondasi ekonomi Amerika Serikat. Selama puluhan tahun, dominasi global AS ditopang bukan hanya oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh supremasi dolar dan sistem finansial global yang menguntungkannya secara struktural. Namun, semakin banyak analis yang menunjukkan bahwa sistem ini semakin bergantung pada ekspansi utang, likuiditas buatan, dan mekanisme yang oleh sebagian disebut menyerupai skema Ponzi dalam skala global—yang di dalamya stabilitas dipertahankan bukan oleh produktivitas riil semata, melainkan oleh kepercayaan yang terus dipompa melalui tirai asap propaganda. Inilah yang secara umum disebut sebagai hegemoni.
Ketika kepercayaan ini mulai tergerus, maka kemampuan Amerika untuk mempertahankan hegemoninya pun ikut tergerus.
Dalam konteks ini, kebangkitan Cina menjadi faktor yang tak bisa diabaikan. Cina tidak menantang Amerika secara frontal di medan militer global, tetapi secara sistematis membangun pengaruh melalui ekonomi, infrastruktur, teknologi, dan diplomasi. Inisiatif seperti Belt and Road bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan strategi geopolitik jangka panjang. Di Timur Tengah sendiri, Cina mulai tampil sebagai mediator dan mitra ekonomi yang relatif “netral”, menawarkan alternatif selain ketergantungan pada Barat.
Sementara itu, Rusia—meski menghadapi tekanan besar di Ukraina—tetap menunjukkan kemampuannya untuk memainkan peran strategis di kawasan lain, termasuk Timur Tengah.
Keterlibatan Rusia di Suriah, serta hubungan yang semakin erat dengan Iran, menunjukkan bahwa Moskow masih memiliki kartu penting dalam percaturan global.
Semua ini mengarah pada satu kesimpulan: dunia sedang bergerak dari unipolaritas menuju multipolaritas. Amerika Serikat mungkin masih sangat kuat—dan akan tetap menjadi kekuatan utama untuk waktu yang lama—tetapi ia tidak lagi sendirian dalam menentukan arah dunia.
Di sinilah relevansi bagi Indonesia—dan secara khusus bagi kepemimpinan Presiden Prabowo—menjadi sangat penting. Dunia baru ini membuka peluang sekaligus risiko. Ketergantungan yang berlebihan pada satu kekuatan akan semakin berbahaya, sementara kemampuan untuk bermanuver secara cerdas di antara berbagai kekuatan akan menjadi kunci.
Indonesia perlu membaca perubahan ini dengan jernih: tidak terjebak dalam romantisme lama tentang satu pusat kekuasaan global, tetapi juga tidak gegabah dalam memilih posisi. Sudah cukup lama Indonesia menjadi hegemon AS, dan tanda-tanda ke arah sana belakangan seperti makin kuat saja.
Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian strategis—untuk berdiri tegak sebagai bangsa yang merdeka dalam menentukan arah, sambil memanfaatkan peluang yang muncul dari perubahan tatanan dunia ini.
Karena pada akhirnya, sejarah tidak menunggu mereka yang ragu. Dunia sedang berubah. Dan bangsa-bangsa yang mampu membaca perubahan itu—serta berani bertindak—akan menjadi penentu, bukan sekadar yang penonton, apalagi cuma jadi “Pak Turut”. [ ]