Amerika menempatkan dirinya sebagai “polisi dunia”, seolah tanpa kehadirannya dunia akan tenggelam dalam ketidakberadaban. Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Dunia tidak membutuhkan dominasi satu pihak, melainkan keseimbangan, penghormatan, dan kemampuan untuk hidup berdampingan. Stabilitas tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah bisa dibangun di atas reruntuhan yang dihasilkan oleh bom.
Oleh : Haidar Bagir

JERNIH–Selama beberapa dekade terakhir, Amerika Serikat tampak seperti seseorang yang memegang palu dan melihat segala sesuatu di hadapannya sebagai paku. Setiap masalah dianggap dapat diselesaikan dengan kekuatan—dengan serangan, tekanan, atau intervensi militer. Negara-negara yang tidak tunduk diposisikan sebagai ancaman yang harus “ditertibkan”.
Logika yang bekerja sederhana: hajar lebih dulu, stabilitas akan mengikuti. Tetapi sejarah justru menunjukkan sebaliknya.
Sulit untuk menyebut satu pun intervensi besar Amerika dalam beberapa dekade terakhir sebagai kemenangan. Irak dibuat kacau dalam kenyataan pengaruh AS justru makin melemah, Afghanistan berakhir dengan penarikan yang memalukan setelah dua puluh tahun perang. Di Lebanon, pengaruh Hizbullah yang ingin ditekan justru bertahan dan bukan tidak mungkin bangkit lagi dan menjadi lebih kuat.
Dan kini, dalam menghadapi Iran, terlihat kembali pola lama: kepercayaan diri berlebihan Amerika, yang tidak sepenuhnya ditopang oleh realitas di lapangan. Amerika mungkin mampu menghancurkan (untuk sementara), tetapi gagal membangun tatanan yang berkelanjutan.
Lebih dari itu, dunia tidak menjadi lebih aman. Justru sebaliknya. Setiap intervensi membuka luka baru, menciptakan kekosongan kekuasaan, dan melahirkan siklus kekerasan yang tak berujung.
Pada kenyataannya, apa yang tampak sebagai “penegakan ketertiban” sering kali hanyalah pelampiasan syahwat kekuasaan—sebuah dorongan untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, bukan untuk menciptakan perdamaian yang sejati. Dan seperti dicatat dalam banyak peristiwa sejarah, setiap tindakan semacam ini pada akhirnya memicu pukulan balik, cepat atau lambat.
Akar dari semua ini tampaknya terletak dalam sesuatu yang lebih dalam: kecongkakan yang terlembagakan. Ada dorongan laten untuk terus membuktikan diri sebagai kekuatan yang tak terkalahkan, sebagai bangsa yang unggul, sebagai pusat dunia. Ini bukan hanya soal geopolitik, tetapi juga soal psikologi kolektif—tentang kebutuhan untuk diakui sebagai yang paling dominan.
Dalam banyak kasus, dorongan ini bahkan dibungkus dengan narasi moral: membasmi terorisme, menegakkan demokrasi, melindungi dunia dari kekacauan. Namun sering kali, narasi itu lebih dekat kepada jingoisme—nasionalisme agresif yang membenarkan hampir segala cara demi kepentingan sendiri.
Amerika menempatkan dirinya sebagai “polisi dunia”, seolah tanpa kehadirannya dunia akan tenggelam dalam ketidakberadaban.
Padahal, kenyataannya jauh lebih kompleks. Dunia tidak membutuhkan dominasi satu pihak, melainkan keseimbangan, penghormatan, dan kemampuan untuk hidup berdampingan. Stabilitas tidak lahir dari ketakutan, tetapi dari kepercayaan. Dan kepercayaan tidak pernah bisa dibangun di atas reruntuhan yang dihasilkan oleh bom.
Di balik semua ini, bayang-bayang lama tampaknya belum benar-benar hilang. Gagasan tentang superioritas kulit putih atas bangsa-bangsa lain masih menyisakan jejak dalam cara pandang setidaknya elite kekuasaan yang hanya tampaknya saja naik karena mekanisme demokratis– padahal kenyataannya disokong dan dicengkeram oleh kelompok lobi politik, dan bisnis oligarkis. Hasilnya adalah keinginan untuk mendominasi—demi syahwat kekuasaan dan keserakahan.
Lebih dari satu abad lalu, Rudyard Kipling menulis dalam The Ballad of East and West: “Oh, East is East, and West is West, and never the twain shall meet…” (Wahai Timur dan Barat, tak pernah keduanya akan berjumpa).
Sebuah kalimat yang sering dikutip untuk menggambarkan jurang peradaban yang tak terjembatani. Dan ironisnya, dalam praktik geopolitik modern, keyakinan itu tampaknya masih bekerja di alam bawah sadar—bahwa ada dunia “kita” dan dunia “mereka”, yang hanya bisa ditertibkan melalui kekuatan, bukan dipertemukan melalui kebijaksanaan.
Akhirnya, seperti Kipling, terdapat secercah harapan: bahwa ketika dua manusia bertemu sebagai pribadi yang setara, batas-batas itu bisa runtuh. Sebab pada akhirnya, masa depan dunia tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang paling bijak.
Amerika, seperti juga kekuatan-kekuatan lain, perlu belajar bahwa keberhasilan bukanlah kemampuan untuk menaklukkan, melainkan kemampuan untuk menahan diri. Bukan menjadi yang paling ditakuti, melainkan yang paling mampu membangun kebijaksanaan. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak palu. Dunia membutuhkan tangan-tangan yang mampu merawat, memperbaiki, dan menjembatani.
Jika pelajaran ini tidak segera disadari, sejarah akan terus berulang—dengan biaya yang harus dibayar terus menjadi semakin mahal. Tetapi jika disadari, mungkin kita masih bisa berharap pada sebuah masa— yang kini tampak nyaris utopis–yang di dalamnya manusia tidak lagi memandang yang lain sebagai paku yang harus dipukul, melainkan sebagai sesama yang harus diperlakukan dengan kebaikan. [ ]