Sebelum perang, posisi Washington adalah memberikan tekanan maksimum, sanksi, pembatasan ekspor minyak, serta keberlanjutan pembekuan aset Namun, hasil akhirnya, setelah agresi, AS justru menjanjikan pencairan aset, pelonggaran sanksi, dan sebagainya. Jelas ini berarti bahwa posisi Amerika Serikat justru lebih mundur dibanding sebelum agresi.
Oleh : Haidar Bagir

JERNIH–Meski segala sesuatu masih bisa berubah sampai kesepakatan final benar-benar dijalankan, banyak pengamat menyatakan bahwa penandatanganan MoU AS dengan Iran menunjukkan bahwa AS di bawah Trump sejauh ini sudah “kalah set”.
MoU yang baru-baru ini diumumkan tersebut memuat penghentian operasi militer, pembukaan kembali jalur pelayaran internasional, dimulainya negosiasi lanjutan mengenai program nuklir Iran, serta berbagai insentif ekonomi bagi Teheran, termasuk pelonggaran sanksi dan pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan.
Kenyataannya, semua target yang Trump sendiri tetapkan ketika memutuskan menyerang Iran—yang tak kurang dari unconditional surrender (penyerahan tanpa syarat)—musuhnya, yang terjadi adalah nyaris sebaliknya. Trump menuntut berakhirnya ancaman nuklir Iran secara permanen, pelumpuhan kemampuan militer strategis Iran, penghentian dukungan Teheran terhadap jaringan proksinya, dan perubahan kepemimpinan di Iran. Ya, tidak ada satu pun dari tujuan tersebut yang tercapai. Iran tidak menyerah. “Rezim” tetap berdiri. Iran tetap/bahkan lebih menjadi aktor regional yang harus diperhitungkan. Program nuklirnya pun masih menjadi belum bisa dikutak-katik.
Malah, yang terjadi bukan sekadar kegagalan Trump mencapai targetnya. Iran justru memperoleh sebagian dari apa yang selama bertahun-tahun diperjuangkannya dan tak pernah digubris oleh AS.
Sebelum perang, posisi Washington adalah memberikan tekanan maksimum, sanksi, pembatasan ekspor minyak, serta keberlanjutan pembekuan aset Namun, hasil akhirnya, setelah agresi, AS justru menjanjikan pencairan aset, pelonggaran sanksi, dan sebagainya. Jelas ini berarti bahwa posisi Amerika Serikat justru lebih mundur dibanding sebelum agresi.
Karena itu, bila perang ini nantinya benar-benar berakhir berdasarkan kerangka MoU ini, maka sama sekali tak sulit mengambil kesimpulan bahwa AS di bawah Trump mengalami kekalahan politik dan strategis yang memalukan.
Iran memang mengalami kerusakan dan biaya perang yang tidak kecil. Namun negara itu tidak menyerah, “rezim”-nya tetap bertahan, posisinya sebagai aktor makin kuat, bahkan ia bahkan berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang tak diperolehnya sebelum perang. Dengan kata lain, Iran bukan hanya berhasil menghindari kekalahan; Iran berhasil menangguk keuntungan besar.
Kesepakatan ini jelas juga dapat dibaca sebagai pukulan politik bagi Israel, khususnya Benjamin Netanyahu. Selama bertahun-tahun, Netanyahu mendorong pelumpuhan permanen Republik Islam. Justru yang terjadi, jelas bahwa prioritas Gedung Putih berbeda dari kemauan pemerintah Israel.
Tentu masih terlalu dini untuk mengambil kesimpulan final. Detail kesepakatan masih dapat berubah dan implementasinya masih harus diuji oleh kenyataan di lapangan. Namun, sejauh ini pil pahit telah terpaksa ditelan AS dan Israel. AS di masa depan pasti akan terus berusaha menekan Iran. Apalagi Israel. Negeri Zionis ini tentu akan terus mencari cara menghabisi kemampuan Republik Islam Iran untuk mewujudkan cita-citanya menghentikan petualangan ekspansionis dan apartheid Israel. Tapi, satu hal yang pasti, keseimbangan militer dan politik di kawasan sudah bergerak ke arah yang tak diinginkan musuh-musuh Iran.
Tak ada orang yang berharap perang terus berlanjut. Meski amat sulit, perkembangan baru ini diharapkan, alih-alih melestarikan sikap jumawa dan tidak semena-mena, bisa membuat semua pihak bersikap lebih realistis. Dan problem imperialisme gaya baru yang didemonstrasikan AS dan Israel, khususnya di Timur Tengah, bisa diatasi dengan cara-cara yang dapat menghindarkan korban yang lebih besar. []