Zakat bukan sekadar amal yang dianjurkan—ia adalah salah satu dari lima rukun di mana bangunan Islam ditegakkan. Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu.” (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim). Ketika seorang pemimpin agama meremehkan pentingnya zakat, pada dasarnya mereka sedang melemahkan salah satu tumpuan fundamental agama Islam.
Oleh : Fasbensalem*
JERNIH– Telah sampai kepada perhatian saya bahwa seorang tokoh agama di Indonesia telah membuat pernyataan meresahkan bahwa “Zakat itu tidak penting, yang penting itu Sedekah.” Pernyataan ini bertentangan dengan ajaran jelas Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang otentik.
Kedudukan Zakat dalam Islam
Zakat bukan sekadar amal yang dianjurkan—ia adalah salah satu dari lima rukun di mana bangunan Islam ditegakkan. Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) bersabda: “Islam dibangun di atas lima perkara: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan haji ke Baitullah bagi yang mampu.” (Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim).
Ketika seorang pemimpin agama meremehkan pentingnya zakat, pada dasarnya mereka sedang melemahkan salah satu tumpuan fundamental agama Islam.
Zakat dalam Al-Qur’an: Sebuah Perintah dari Allah
Zakat disebutkan 30 kali dalam Al-Qur’an, dengan 27 penyebutan secara langsung berpasangan dengan shalat. Pengulangan pasangan ini menunjukkan sifat tak terpisahkan dari dua kewajiban ini. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya lagi hanif (lurus), dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Qur’an, Surah Al-Bayyinah 98:5).
Perintah untuk mendirikan shalat dan menunaikan zakat muncul di seluruh Al-Qur’an sebagai ciri khas orang-orang beriman: “Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudaramu seagama.” (Al-Qur’an, Surah At-Taubah 9:11).
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa zakat begitu fundamentalnya sehingga mereka yang menolaknya tidak dianggap sebagai saudara dalam iman.
Peringatan Keras bagi yang Meninggalkan Zakat
Al-Qur’an mengandung peringatan keras bagi mereka yang mengabaikan kewajiban ini: “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menginfakkannya di jalan Allah, maka berikanlah kabar gembira kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih, pada hari ketika emas dan perak itu dipanaskan dalam neraka Jahanam, lalu dengannya disetrika dahi mereka, lambung mereka, dan punggung mereka (seraya dikatakan) kepada mereka, ‘Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.'” (Al-Qur’an, Surah At-Taubah 9:34-35).
Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjelaskan peringatan ini: “Setiap pemilik emas dan perak yang tidak menunaikan zakatnya, maka pada hari kiamat akan dibuatkan baginya lempengan-lempengan api yang dipanaskan di Neraka Jahanam, lalu disetrikakan ke dahi, lambung, dan punggungnya.” (Shahih Muslim).
Membedakan Zakat dari Sedekah
Meskipun zakat dan sedekah sama-sama bentuk amal, keduanya tidak dapat dipertukarkan:
1. Zakat itu wajib (fardhu) – Ia adalah hak tetap orang miskin atas harta orang kaya.
2. Sedekah itu sukarela (nafilah/sunnah) – Ia dianjurkan tetapi tidak wajib.
Allah memerintahkan: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (Al-Qur’an, Surah At-Taubah 9:103).
Ayat ini secara khusus merujuk pada zakat sebagai kewajiban yang diambil oleh otoritas Islam.
Konsekuensi Menolak Zakat
Sejarah Islam mengajarkan kita betapa beratnya akibat meninggalkan zakat. Sepeninggal Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam), ketika beberapa kabilah menolak membayar zakat, Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq (radhiyallahu ‘anhu) menyatakan: “Demi Allah, sungguh aku akan memerangi siapa pun yang membedakan antara shalat dan zakat, karena zakat adalah hak harta.” (Shahih al-Bukhari).
Para sahabat dengan bulat menyetujui pendirian ini, menetapkan bahwa menolak zakat adalah tindakan kemurtadan yang pantas diperangi.
Hikmah di Balik Zakat
Zakat membersihkan baik harta maupun jiwa pemberinya: “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka.” (Al-Qur’an, Surah At-Taubah 9:103).
Nabi (shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjelaskan bahwa zakat bukan sekadar bantuan finansial tetapi pembersihan spiritual: “Tidak ada suatu hari pun di mana seorang hamba memasuki waktu pagi, kecuali dua malaikat turun. Salah satunya berkata, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak,’ dan yang lainnya berkata, ‘Ya Allah, berilah kebinasaan bagi orang yang menahan (hartanya).'” (Shahih al-Bukhari).
Kesimpulan
Mengklaim bahwa “Zakat itu tidak penting, yang penting itu Sedekah” mewakili penyimpangan berbahaya dari ajaran Islam. Pernyataan semacam itu mengacaukan yang wajib dengan yang sukarela dan berpotensi menyesatkan umat Islam dari memenuhi rukun fundamental agama mereka.
Kami menasihatkan kaum Muslimin untuk mencari ilmu dari para ulama yang mumpuni dan berhati-hati terhadap pernyataan-pernyataan yang bertentangan dengan nash (teks) Al-Qur’an dan Sunnah yang otentik.
Semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang lurus dan melindungi kita dari kesesatan. “Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (Al-Qur’an, Surah An-Nisa 4:115).
Saya harap ini menjelaskan pentingnya zakat yang kritis dalam Islam. [ ]
*Tak banyak keterangan lain yang menerangkan penulis yang tulisannya banyak bertebar di berbagai WA grup ini.
