
Hodgson tidak melihat kemunduran dunia Islam sebagai akibat tunggal agama atau teologi, melainkan proses kompleks yang dipengaruhi politik, ekonomi, budaya, militer, dan perubahan global. Rekonstruksi dunia Islam tidak cukup dengan romantisme masa lalu. Dunia Islam harus terbuka terhadap ilmu modern, beradaptasi dengan perubahan global, dan aktif menghasilkan ilmu serta inovasi.
Oleh : Yudi Latif

JERNIH–Ada banyak buku yang membahas kemunduran tradisi ilmiah (scientific temper) di dunia Islam. “The Venture of Islam” karya Marshall G. S. Hodgson merupakan salah satu karya terpenting yang bisa jadi rujukan.
Hodgson tidak melihat kemunduran dunia Islam sebagai akibat tunggal agama atau teologi, melainkan proses kompleks yang dipengaruhi politik, ekonomi, budaya, militer, dan perubahan global.
Pada masa klasik, dunia Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan. Baghdad, Damaskus, Kairo, Bukhara, dan Cordoba berkembang sebagai pusat intelektual karena stabilitas politik, perdagangan, patronase, dan keterbukaan terhadap ilmu berbagai peradaban.
Pada masa Abbasiyah, ilmu Yunani dan berbagai pengetahuan lain diterjemahkan dan dikembangkan ilmuwan Muslim, melahirkan Ibn Sina, Al-Khwarizmi, dan Ibn al-Haytham. Ini menunjukkan bahwa ilmu dan agama pernah berdampingan, sehingga anggapan Islam sejak awal “anti-sains” bersifat ahistoris.
Kemunduran terjadi akibat fragmentasi politik, konflik, dan melemahnya dukungan terhadap ilmu. Serangan Mongol dan jatuhnya Baghdad pada 1258 menghancurkan banyak pusat intelektual. Pendidikan lantas lebih berfokus pada hukum dan agama, sementara filsafat, astronomi, dan eksperimen makin terbatas.
Kemajuan ilmu membutuhkan institusi kuat: pendidikan, perpustakaan, riset, patronase, dan budaya akademik. Hodgson menolak anggapan dunia Islam mengalami “kegelapan total”; aktivitas intelektual tetap berlangsung, tetapi pusat inovasi bergeser ke Eropa melalui revolusi ilmiah dan industri.
Kebangkitan Eropa juga tak terlepas dari kontribusi dunia Islam dalam meneruskan pengetahuan Yunani serta mengembangkan matematika, astronomi, dan navigasi.
Rekonstruksi dunia Islam tidak cukup dengan romantisme masa lalu. Dunia Islam harus terbuka terhadap ilmu modern, beradaptasi dengan perubahan global, dan aktif menghasilkan ilmu serta inovasi.
Kebangkitan scientific temper membutuhkan keterbukaan intelektual, institusi riset kuat, adaptasi terhadap modernitas, serta hubungan harmonis antara agama dan rasionalitas. Kejayaan ilmiah Islam bukan sekadar masa lalu, tetapi bukti potensinya berkontribusi kembali pada ilmu modern.[]






