Jernih.co

Persib, Ekosistem Bisnis, dan Industri Sepak Bola di Indonesia

Persib telah bergerak menjadi ikon budaya. Persib menjadi cara bagi sebagian masyarakat untuk mengekspresikan harapan, di tengah memudarnya harapan pada sektor-sektor lain. Kesadaran itu mulai tampak di manajemen Persib. Profesionalisme klub mulai terlihat sejak Persib mendapatkan hak pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 2018 untuk jangka waktu 30 tahun ke depan.

Oleh     :  Kurnia Fajar*

JERNIH– Disadari atau tidak, salah satu keunggulan bangsa Indonesia adalah membangun intangible industry. Pariwisata, misalnya. Kita punya Bali yang sudah mapan dengan industri pariwisatanya. Kita juga memiliki sektor ekonomi kreatif yang perlahan bergerak menuju industri. Sekarang, yang sedang memiliki potensi besar menuju industri adalah sepak bola.

Jika mau jujur, barangkali ada satu sektor lain yang bisa dikategorikan sebagai industri, yakni Indonesia sebagai negara pengekspor tenaga kerja (TKI/TKW). Pemerintah seharusnya menyadari kekuatan dan potensi ini. Kekalahan kita di sektor industri manufaktur dan teknologi sudah selayaknya diimbangi dengan penguatan sektor intangible tersebut.

Kita bisa mengambil contoh Korea Selatan dengan K-Pop-nya yang berhasil mencuri perhatian dunia. Bahkan, menurut saya, mampu menyaingi Hollywood dan Bollywood dalam memimpin industri hiburan dan perfilman. K-Pop berhasil membawa banyak sektor lain ikut tumbuh menjadi industri, seperti kecantikan, perawatan kulit, film/drama, hingga industri makanan dan minuman (food and beverage).

Korea Selatan bahkan berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan asing berkat K-Pop yang mendunia. Dari sekitar 9 juta wisatawan pada 2010, meningkat menjadi 17 juta wisatawan pada 2019. Setelah sempat anjlok pada masa pandemi Covid-19, pada 2025 jumlahnya kembali pulih menjadi 18 juta wisatawan. Artinya, sudah melampaui angka sebelum pandemi.

Hal itu terjadi karena adanya kesadaran pemerintah Korea Selatan terhadap potensi budayanya. Memang kontribusi langsung K-Pop hanya sekitar 1 persen terhadap PDB Korea Selatan. Jika dibandingkan dengan industri otomotif dan teknologi yang menyumbang sekitar 20 persen terhadap PDB Korsel, angkanya terlihat kecil. Namun, sesungguhnya K-Pop-lah yang menjadi backbone.

Berdasarkan data Korea Creative Content Agency (KOCCA), setiap ekspor konten budaya senilai USD 100—termasuk K-Pop—akan memicu ekspor produk konsumen lain, seperti kosmetik (K-Beauty), makanan (K-Food), dan gawai, sebesar USD 248. Perusahaan seperti Samsung dan Hyundai justru menggunakan K-Pop untuk mendongkrak nilai merek mereka.

Contoh nyata, Samsung berkolaborasi dengan BTS untuk lini Galaxy Z Flip, sementara Hyundai menjadikan BTS dan NewJeans sebagai duta global untuk mobil listrik seri IONIQ mereka. Nilai K-Pop tidak bisa hanya diukur dari penjualan album atau tiket konser, melainkan dari bagaimana industri ini membangun nation branding atau citra negara. K-Pop mengubah Korea Selatan dari negara industri biasa menjadi pusat tren global yang dicintai anak muda di seluruh dunia.

Sekarang, mari kita kembali ke Persib Bandung. Sebagai klub sepak bola, Persib memang anomali. Klub ini begitu dicintai masyarakat Jawa Barat secara khusus dan beberapa wilayah lain secara umum. Hal itu tidak terlepas dari posisi Kota Bandung yang sejak awal abad ke-20 berhasil menjadi kota akulturasi dan pusat perdagangan komoditas internasional, sehingga sepak bola yang dibawa orang-orang Eropa menjadi sarana komunikasi dan diplomasi.

Persib telah bergerak menjadi ikon budaya. Persib menjadi cara bagi sebagian masyarakat untuk mengekspresikan harapan, di tengah memudarnya harapan pada sektor-sektor lain. Kesadaran itu mulai tampak di manajemen Persib. Profesionalisme klub mulai terlihat sejak Persib mendapatkan hak pengelolaan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada 2018 untuk jangka waktu 30 tahun ke depan.

Hal itu juga diikuti prestasi klub yang terus membaik dalam tiga tahun terakhir. Saat tulisan ini dibuat, Persib sedang bertanding melawan Persijap untuk mempertahankan gelar juaranya. Sejak pagi hari, Kota Bandung sudah meriah oleh atribut Persib. Tua dan muda menyatu dalam euforia yang sama.

Setidaknya, saya menghitung Persib dicintai oleh empat hingga lima generasi sejak berdiri. Kakek saya yang lahir pada 1920 mengajarkan kecintaan terhadap Persib kepada uwa saya yang lahir pada 1952. Dari uwa, kecintaan itu turun kepada saya yang lahir pada 1980. Kemudian saya wariskan lagi kepada anak saya yang lahir pada 2008.

Itulah Persib yang secara organik akhirnya memiliki basis pendukung militan, yang tidak bisa diukur dengan logika semata. “Bahasa hate,” kata orang Sunda mah.

Suka atau tidak, Persib memiliki potensi mendongkrak banyak sektor di Bandung khususnya, dan Jawa Barat pada umumnya. Manajemen Persib harus mau dan pada akhirnya mampu mendorong ekosistem bisnis di sekitarnya agar tumbuh. Jangan berhenti hanya pada penjualan atribut Persib, tetapi juga membangun kecintaan terhadap Kota Bandung, kulinernya, pariwisatanya, dan berbagai identitas lain yang dimiliki kota ini.

Di lubuk hati saya, keyakinan itu ada. Saya memperkirakan, jika Persib mampu menjadi juara di level Asia, Kota Bandung akan diperhitungkan sebagai destinasi wisata internasional. Ketika hal itu terjadi, apakah ekosistem kota ini sudah siap?

Pemerintah kota dan pemerintah provinsi sudah seharusnya bersiap dan bersikap lebih progresif dalam melihat potensi intangible industry ini. Jika saat itu tiba, saya berharap efek domino ekonomi dari sebuah klub bernama Persib Bandung tidak hanya dirasakan oleh manajemen Persib semata, melainkan juga oleh seluruh komponen ekosistem bisnis lainnya.

Jung maju Maung Bandung! []

*) Menonton Persib di stadion sejak 1986.

Exit mobile version