Jernih.co

Pertempuran Cerdas Versus Jahiliah 

Ini tentu saja baik untuk diri Febri. Namun, tidak baik untuk masyarakat. Masyarakat tidak bisa mengetahui tentang penegakan hukum dalam kasus temuan uang Rp 67,2 M di de’Clan Signature Cafe dan Koin Money Changer. Masyarakat tidak mengetahui ke mana arah kasus ini kelak. Apakah akan menjadi tawar-menawar antara Polri dan Kejaksaan Agung seperti sinyalemen Kolonel (Purn) Sri Radjasa dalam sebuah Podcast Madilog?

Oleh     :  Ana Nadhya Abrar*

JERNIH–Pada 10 Juli 2026, Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Kusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, biacara soal penegakan hukum yang dilakukan Korps Pemerantasan Tindak Pidana Korupsi (Kortas Tipikor) Polri bersama Polda Metro Jaya baru-baru ini. Menurutnya, seperti dilaporkan afbtvkupang.com, 10 Juli 2026, Kejaksaan Agung tetap menjalankan seluruh proses penanganan perkara yang menjadi kewenangannya, baik pada tahap penyelidikan, penyidikan, hingga eksekusi barang bukti. “Bahkan saya monitor tetap, agar sesuai dengan SOP berjalan dengan cepat,” tambahnya.

Tentu kita mengerti yang disampaikan Febrie adalah pekerjaannya sebagai Jampidsus. Dia sama sekali tidak terganggu dengan penyelidikan Kortas Tipikor Polri dan Polda Metro Jaya terhadap tiga perkara dugaan korupsi yang belakangan menjadi perhatian publik. Baginya, melaksanakan tugasnya sebagai Jampidsus lebih berharga dari merespons hasil penyelidikan Kortas Tipikor Polri dan Polda Metro Jaya. Padahal namanya dikaitkan dengan hasil penggeledahan di de’Clan Signature Cafe dan Koin Money Changer, yang berhasil menyita uang sebesar Rp 67,2 milyar.

Apakah ini menunjukkan Febrie merupakan orang yang cerdas. Entahlah. Pengertian cerdas macam-macam. Menurut agama Islam, mengutip sabda Rasulullah saw, orang cerdas adalah mereka yang paling banyak mengingat kematian, dan juga yang paling terbaik persiapan untuk akhirat (HR. Ibnu Majah). Menurut ukuran akademik, orang cerdas adalah orang punya kemampuan kognitif tinggi dengan IQ di atas rata-rata dan punya prestasi dan reputasi akademik. Menurut perspektif politik, orang cerdas adalah orang yang tidak mudah terprovokasi, rasional, berkomunikasi secara objektif dan terbuka, tidak emosional, bisa mengendalikan amarah, dan tetap setia pada tugasnya.

Apabila semua kriteria kecerdasan ini dialamatkan kepada Febrie, kita segera mengatakan dia orang cerdas dari perspektif politik. Dia bisa mengendalikan emosinya dan tetap setia pada tugasnya. Dia tidak mudah terprovokasi.

Ini tentu saja baik untuk diri Febri. Namun, tidak baik untuk masyarakat. Masyarakat tidak bisa mengetahui tentang penegakan hukum dalam kasus temuan uang Rp 67,2 M di de’Clan Signature Cafe dan Koin Money Changer. Masyarakat tidak mengetahui ke mana arah kasus ini kelak. Apakah akan menjadi tawar-menawar antara Polri dan Kejaksaan Agung seperti sinyalemen Kolonel (Purn) Sri Radjasa dalam sebuah Podcast Madilog?

Kalau Febrie terlibat dugaan korupsi dalam penemuan uang sebanyak Rp 67,2 M di de’Clan Signature Cafe dan Koin Money Changer, dia telah memerosotkan martabatnya. Dia yang seharusnya sigap memberantas korupsi, malah terlibat korupsi. Dia yang idealnya meluruskan hukum, malah membengkokkan hukum. Dia yang seyogyanya mengatur dan mengawasi aturan, malah mengacaukan aturan.

Kalau sudah begini, sesungguhnya Febrie membangkitkan kembali nilai-nilai jahiliah. Dia merasa tidak terikat lagi dengan aturan dan hukum yang selama ini menjadi batu sendi masyarakat beradab. Dia hanya mengejar kepentingannya sendiri. Dia memaksakan kehendaknya dalam kerangka mempertahankan jabatannya untuk memperoleh banyak uang.

Dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya Febrie yang menampakkan nilai-nilai jahiliah. Para koruptor, manipulator dan komprador juga memperlihatkannya. Mereka tidak menunjukkan kesetiaannya pada bangsa dan negaranya. Mungkin mereka merasa hebat. Padahal sebenarnya mereka mempermalukan diri dan keluarga mereka. Bukankah kelak sejarah akan mencatat kelakuan mereka?

Dalam keadaan begini, nilai-nilai jahiliah mengambil alih pengelolaan ketertiban dan keamanan masyarakat. Semua nilai itu tidak membiarkan tunas bangsa mekar secara alami. Semuanya bahkan meredupkan nyala cita-cita bangsa di masa depan.

Kalau ada hal yang bisa melawan nilai-nilai jahiliah itu, agaknya cerdas dari perpektif agama dan akademik. Kedua cerdas ini bisa mengalahkan membuka wawasan masyarakat tentang dampak negatif nilai-nilai jahiliah. Kedua kecerdasan ini bahkan mampu membebaskan masyarakat dari keterkungkungan oleh prinsip homo homini lupus (manusia menjadi serigala terhadap manusia lain).

Maka terjadilah pertempuran antara kecerdasan merurut perspektif agama dan akademik versus jahiliah. Pertempuran ini akan terjadi di segala lini kehidupan. Kuat dugaan kita, kecerdasan menurut perspektif agama dan akademiklah yang akan menang. Kita berdoa semoga kemenangan itu segera datang.[]

*Guru Besar Jurnalisme UGM

Exit mobile version