Putusan arbitrase itu akhirnya memenangkan Indonesia. Namun ketika kemenangan itu tiba, yang terlintas dalam pikiranku justru bukan tentang putusan. Melainkan tentang keberanian memikul tanggung jawab ketika keadaan belum menjanjikan hasil maksimal.

JERNIH–Saudaraku. 27 Januari 2026. Jakarta. Bersama Samsul Muarif—jurnalis senior, penulis buku yang tulisannya sering mengguncang meja kekuasaan—aku mengetuk pintu kediaman Isran Noor. Negarawan yang menepi setelah memimpin Kutai Timur dan Kalimantan Timur. Ruang tamunya sepi: tanpa wartawan, tanpa ajudan, hanya jam dinding berdetak dan kopi mendingin. Di balik senyum teduhnya, tersimpan arsip hidup terlalu penuh. Hari itu ia memilih membukanya untuk kami berdua.
Siang itu obrolan mengalir dari Kalimantan ke Jakarta, dari pembangunan ke politik, dari masa lalu ke masa depan. Waktu berjalan begitu cepat hingga aku tidak sadar matahari mulai bergeser ke barat.
Di tengah percakapan itulah nama Churchill Mining muncul.
Benar. Perkara itu tidak asing. Perusahaan tambang asal Inggris tersebut pernah menggugat Indonesia melalui arbitrase internasional di Washington D.C. Itu terjadi pada 2012. Nilai tuntutannya konon mencapai 1,3 miliar dolar Amerika Serikat—belasan triliun rupiah jika dirupiahkan.
Namun perhatianku bukan tertuju pada angka itu. Yang membuatku terkejut justru cara Isran Noor menceritakannya. Tidak ada nada heroik. Tidak ada upaya membesarkan peran diri. Ia beberapa kali tersenyum, sesekali tertawa kecil diselingi canda, seolah sedang mengenang sebuah perjalanan panjang yang telah jauh tertinggal di belakang.
Lalu, di sela percakapan itu, ia berkata pelan: “Hampir tidak ada yang yakin kita bisa menang.”
Aku masih ingat cara kalimat itu diucapkan. Santai. Tenang. Ringan. Nyaris datar. Tanpa ekspresi menggebu yang berlebihan.
Tetapi justru karena itulah ia terasa berat.
Pak Isran kembali tersenyum. Lalu menatap ke arah jendela beberapa saat.
“Tapi ya harus dijalani,” katanya pendek.
Sesederhana itu.
Tidak ada kalimat besar. Tidak ada pidato tentang nasionalisme. Padahal yang sedang ia hadapi waktu itu adalah gugatan bernilai satu koma tiga miliar dolar terhadap negaranya.
Aku melukiskan kembali suasana bertahun-tahun sebelumnya. Saat perkara itu masih berlangsung. Saat belum seorang pun mengetahui bagaimana akhirnya. Saat kemenangan masih berupa kemungkinan yang sangat jauh.
Ketahuilah. Aku tidak pernah berada di ruang arbitrase itu. Namun siang itu, ketika mendengar cerita Pak Isran, pikiranku bak berjalan sendiri menuju Washington D.C.
Aku membayangkan sebuah pagi yang dingin. Di luar gedung, orang-orang berlalu-lalang. Normal. Tak seorang pun peduli bahwa di salah satu ruangan sedang berlangsung sengketa bernilai miliaran dolar yang melibatkan Indonesia.
Tidak ada sorotan kamera. Tidak ada kerumunan wartawan.
Terbayang olehku hanyalah sebuah ruang sidang yang tenang. Terlalu tenang.
Barangkali meja-meja panjang tersusun rapi. Berkas-berkas tebal memenuhi ruangan.
Mungkin di satu sisi duduk tim yang mewakili Indonesia. Di sisi lain para pengacara perusahaan penggugat. Di antara mereka terbentang ribuan halaman dokumen yang akan menentukan nasib perkara.
Ingat. Kadang-kadang miliaran dolar memang ditentukan oleh hal-hal yang tampak sepele. Sebuah tanda tangan. Satu tanggal yang tidak cocok. Sepotong surat yang terlupakan. Atau sebuah izin yang ternyata tidak pernah sah sejak awal.
Aku membatin. Sulit membayangkan perkara sebesar itu tanpa malam-malam panjang yang diisi pembacaan dokumen, pemeriksaan data, dan penyusunan argumen. Ketika sebagian besar orang telah pulang dan kota mulai sepi, mungkin masih ada orang-orang yang duduk di depan tumpukan berkas. Membaca halaman demi halaman. Memeriksa nama demi nama. Mencocokkan stempel. Menelusuri jejak dokumen yang diterbitkan bertahun-tahun sebelumnya.
Ya, pekerjaan yang tidak akan pernah masuk berita utama. Pekerjaan yang tidak menghasilkan tepuk tangan.
Namun justru pekerjaan seperti itulah yang sering menentukan arah sejarah.
Semakin lama aku mendengarkan cerita Pak Isran, semakin terasa bahwa taruhan sesungguhnya jauh melampaui angka gugatan.
Sebab jika klaim sebesar itu dikabulkan, yang dipertaruhkan bukan hanya uang. Di sana ada kewibawaan negara, kepercayaan terhadap tata kelola pemerintahan, dan kemampuan bangsa ini mempertahankan haknya di hadapan forum internasional.
Dan di tengah perkara sebesar itu, aku merasa tidak mudah berada di posisi Isran Noor. Sebab seorang pemimpin acap kali harus mengambil keputusan ketika hasil akhirnya belum terlihat. Ia tidak diberi kemewahan untuk menunggu semuanya aman terlebih dahulu.
Kadang ia harus melangkah di depan, justru ketika jalan yang terbentang masih dipenuhi tanda tanya.
Laksana semua pertarungan besar, jalannya tidak pernah lurus. Berbelok-belok. Penuh terjal.
Ada masa ketika keadaan terlihat tidak menguntungkan. Ada saat ketika keraguan bermunculan. Ada waktu ketika orang mulai bertanya dalam hati: benarkah kita bisa menang?
Pak Isran tidak menceritakan bagian itu secara dramatis. Justru di situlah letak menariknya. Orang yang pernah berada di tengah badai sering kali berbicara lebih tenang. Ketimbang mereka yang hanya menyaksikannya dari kejauhan.
Dalam bayanganku, ruang sidang itu berjalan dari hari ke hari. Barangkali seseorang membuka map tebal lalu meletakkannya di atas meja. Mungkin sebuah dokumen ditampilkan untuk diperiksa bersama. Beberapa orang menunduk mengikuti baris-baris tulisan yang muncul. Yang lain membuat catatan. Sesekali seorang arbiter mengangkat pandangan dari dokumen yang sedang dibacanya. Seorang pengacara menjelaskan sebuah bukti.
Lalu ruangan kembali sunyi. Tidak ada suara tinggi. Tidak ada meja yang dipukul. Tidak ada ledakan emosi seperti dalam film. Namun justru karena itulah ketegangannya terasa berbeda.
Di ruangan itu, perkara tidak ditentukan oleh siapa yang paling lantang berbicara. Ia ditentukan oleh fakta, dokumen, dan detail-detail yang mampu bertahan ketika diuji. Hari demi hari berlalu. Argumen disampaikan. Bukti diperiksa. Detail demi detail ditelusuri. Dari kejauhan gugatan itu tampak kokoh.
Namun semakin diperiksa, semakin terlihat retakan-retakan yang selama ini tersembunyi. Sampai akhirnya tibalah hari ketika putusan dibacakan.
Indonesia menang.
Sesimpel itu bunyinya. Padahal di balik dua kata tersebut tersimpan tahun-tahun panjang yang tidak pernah dilihat publik. Ada kecemasan yang tidak tercatat. Ada kerja keras yang tidak diberitakan. Ada orang-orang tetap bekerja ketika sebagian besar masyarakat bahkan tidak menyadari apa yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan.
Sepakat. Kemenangan besar memang sering menyerupai gunung es. Yang terlihat hanyalah puncaknya. Sebagian besar perjalanan yang membawanya ke sana tersembunyi jauh di bawah permukaan.
Beberapa jam setelah pertemuan itu berakhir, aku masih memikirkan satu kalimat dari Pak Isran.
“Hampir tidak ada yang yakin kita bisa menang.”
Kalimat itu terus terngiang. Bukan karena terdengar hebat. Justru karena terasa sangat jujur.
Semakin kupikirkan, semakin terasa bahwa kalimat itu bukan hanya tentang perkara Churchill Mining.
Bukankah banyak perjalanan hidup memang dimulai dari titik semacam itu?
Ketika hasil akhirnya belum terlihat.
Ketika jalan di depan masih gelap.
Ketika dukungan semakin sedikit.
Ketika keraguan terdengar lebih keras daripada harapan.
Ketika satu-satunya alasan untuk terus berjalan hanyalah keyakinan bahwa menyerah bukan pilihan.
Mungkin karena itulah kemenangan yang paling penting selalu lahir jauh sebelum putusan dibacakan.
Ia lahir pada hari ketika seseorang memutuskan untuk tetap bertahan meski belum melihat harapan.
Ia lahir pada malam ketika orang-orang tetap bekerja. Sementara hasil akhirnya masih menjadi misteri. Ia lahir pada saat keraguan datang, tetapi langkah tidak berhenti.
Putusan arbitrase itu akhirnya memenangkan Indonesia.
Namun ketika kemenangan itu tiba, yang terlintas dalam pikiranku justru bukan tentang putusan. Melainkan tentang keberanian memikul tanggung jawab ketika keadaan belum menjanjikan hasil maksimal.
Karena sejarah sering kali tidak berubah oleh orang yang selalu benar. Sejarah berubah oleh orang yang bersedia menanggung risiko ketika orang lain memilih menunggu.
Mungkin itulah yang sesungguhnya tertinggal dari cerita Pak Isran sore itu.
Bukan tentang angka satu koma tiga miliar dolar. Bukan tentang ruang arbitrase di Washington. Melainkan tentang keberanian untuk tetap melangkah ketika kemenangan masih berada di balik kabut ketidakpastian.
Karena dalam banyak peristiwa besar, kemenangan tidak pernah datang lebih dulu.
Yang datang lebih dulu adalah keberanian.
Keberanian untuk mengambil tanggung jawab.
Keberanian untuk menanggung risiko.
Keberanian untuk tetap berjalan ketika hampir tak ada yang yakin.
Wahai saudaraku, barangkali di situlah seorang pemimpin meninggalkan jejaknya—bukan ketika semua orang percaya ia akan berhasil, melainkan ketika ia tetap melangkah meski keberhasilan itu belum terlihat.[]