Tentang bangsa yang perlahan kehilangan kedalaman moral. Mengenai dunia Islam yang terlalu lama puas menjadi penonton sejarah. Perihal NU yang, menurut beliau, sudah waktunya berhenti sekadar menjadi penjaga tradisi, lalu naik kelas menjadi subjek perubahan dunia itu sendiri. Kalimat magis itu terus tersimpan di kepalaku: “NU harus menjadi lokomotif peradaban dunia.”

JERNIH–Saudaraku,
Ada orang ketika bicara tentang masa depan, suaranya terdengar bak pidato. Penuh istilah besar, tetapi cepat hilang dari ingatan. Namun ada pula orang ketika berbicara tentang hari esok, kita seperti sedang mendengar desir zaman bergerak pelan di kejauhan.
Aku kira, Gus Hery Haryanto Azumi termasuk jenis kedua itu. Ketahuilah. Entah kenapa, setiap kali duduk bersamanya, aku selalu merasa sedang berada di satu persimpangan aneh: antara dunia pesantren nan khidmat dengan denyut global yang bergerak liar. Ada aroma kopi. Tawa kecil. Obrolan santai. Tetapi isi kepalanya melompat jauh melampaui pagar organisasi, batas kultural, bahkan sekat-sekat cara berpikir konvensional.
Mungkin karena kami lahir dari rahim serupa. Sesama alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Senasib ditempa tradisi santri. Sama-sama akrab dengan diskusi panjang sampai larut malam; tentang bangsa, agama, kemanusiaan, hingga nasib dunia.
Aku tumbuh di HMI, lalu berhenti sebatas aktivis cabang. Beliau bertumbuh di PMII, kemudian melesat menjadi Ketua Umum PB PMII. Jalan kami seolah berbeda, tetapi entah mengapa frekuensinya terasa dekat. Usia memang sering mengajarkan sesuatu secara diam-diam: semakin matang seseorang, kian kecil hasratnya membangun tembok identitas.
Ya, Gus Hery telah melewati fase itu. Cara pandangnya terasa kosmopolit, tetapi tidak tercerabut dari akar. Tetap santri, namun cakrawala pikirannya bergerak dari kitab kuning menuju geopolitik global; dari tradisi pesantren menuju percakapan peradaban dunia.
Aku beberapa kali mampir ke basecamp-nya di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Becengkrama rileks sambil menyeruput teh panas. Ditemani seorang sahabat, wartawan senior dan penulis buku top: Samsul Muarif. Tempat itu kadang sunyi. Tidak mewah. Tidak pula terasa seperti ruang politik penuh intrik. Namun justru dari ruang sederhana semacam itu, lahir percakapan-percakapan panjang tentang Indonesia.
Benar. Tentang bangsa yang perlahan kehilangan kedalaman moral. Mengenai dunia Islam yang terlalu lama puas menjadi penonton sejarah. Perihal NU yang, menurut beliau, sudah waktunya berhenti sekadar menjadi penjaga tradisi, lalu naik kelas menjadi subjek perubahan dunia itu sendiri. Kalimat magis itu terus tersimpan di kepalaku: “NU harus menjadi lokomotif peradaban dunia.”
Mula-mula aku terdiam. Menunduk. Sebab ucapan semacam itu bisa terdengar bagai ambisi besar bila keluar dari mulut orang yang salah. Namun dari Gus Hery, yang terasa justru kegelisahan seorang santri. Ada semacam keresahan batin saat melihat umat kehilangan arah, sementara dunia modern bergerak tanpa jiwa. Barangkali karena itulah beliau memandang pesantren bukan sebagai masa lalu, melainkan masa depan.
Menarik. Di tengah dunia yang sibuk mengejar teknologi, manusia justru makin kesepian. Artificial intelligence berkembang luar biasa, tetapi hati banyak orang terasa kosong. Hampa. Media sosial membuat manusia saling terhubung, namun diam-diam tercerabut dari dirinya sendiri. Ruang publik pun keruh: terluka.
Gus Hery seperti membaca gejala itu jauh lebih awal. Beliau melihat pesantren bukan sekadar ruang menghafal kitab, melainkan sumber etika global. Tempat manusia belajar kembali tentang adab, kesederhanaan, makna hidup, serta hubungan langit dan bumi. Kemajuan tanpa akhlak, kata beliau suatu malam, hanya akan melahirkan keserakahan dengan wajah baru.
Aku diam cukup lama mendengar kalimat itu. Sebab benar juga. Dunia hari ini dipenuhi orang pintar, tetapi miskin kebijaksanaan. Kejujuran menjadi barang langka. Ketamakan dirayakan dimana-mana. Banyak tokoh besar terlihat hebat di panggung, namun rapuh saat berhadapan dengan dirinya sendiri.
Tepat. Gus Hery justru terasa sebaliknya. Wawasannya luas. Pembicaraannya melintasi keislaman, keindonesiaan, kebudayaan, politik, ekonomi global, hingga arah geopolitik dunia. Jejaringnya pula tidak kecil; aktivis, ulama, intelektual, pengusaha, bahkan lingkar internasional. Namun hal paling mengesankan darinya justru bukan itu. Melainkan sikap rendah hati dan kesederhanaannya.
Aku masih ingat ketika beliau mampir ke kantor kami, Reborn Initiative, di kawasan Tanjung Mas Raya, Jakarta Selatan. Tidak ada aura ingin dihormati. Tidak tampak jarak sosial yang dibuat-buat. Sikap beliau menyapa staf kecil di kantor, cara mendengarkan lawan bicara, bahkan gaya tertawanya, menghadirkan kesan hangat khas seorang santri yang belum kehilangan kejernihan batin.
Di situlah aku merasa: nilai-nilai sufistik itu ternyata benar-benar hidup dalam dirinya. Menyala. Bukan jargon. Bukan pencitraan. Melainkan laku sehari-hari. Dan zaman seperti sekarang sangat membutuhkan tipe manusia semacam itu. Karena terlalu banyak orang berbicara tentang umat, tetapi diam-diam sibuk membesarkan dirinya sendiri. Sedangkan Gus Hery terasa berbeda. Ada ketenangan. Ada keluasan napas. Ada cara memandang dunia yang teduh tanpa kehilangan keberanian.
Aku percaya, kepemimpinan besar tidak lahir semata dari kemampuan mengelola organisasi. Kepemimpinan besar lahir dari kemampuan membaca zaman, lalu tetap menjaga nurani di tengah pusaran kekuasaan.
Sadarlah. NU kini memasuki abad kedua. Tantangannya jauh lebih rumit dibanding masa lalu. Perang tak lagi hanya memakai senjata, melainkan algoritma. Penjajahan tak selalu datang lewat tank, melainkan lewat pikiran, budaya, serta ketergantungan ekonomi global.
NU tidak cukup hanya menjadi penonton sejarah. Ia harus hadir sebagai penentu arah. Menjadi wajah Islam yang teduh sekaligus maju. Religius tanpa sempit. Modern tanpa kehilangan ruh. Berakar kuat di bumi pesantren, tetapi pikirannya menembus langit peradaban.
Ingatlah. Setiap kali aku berbincang dengan Gus Hery, selalu muncul satu keyakinan kecil dalam batinku: lelaki ini sedang memikirkan sesuatu yang jauh melampaui dirinya sendiri. Bukan lima tahun. Bukan satu periode. Melainkan satu abad ke depan.
Mungkin karena itu, setiap selesai ngobrol dengannya, aku selalu pulang dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Seperti habis mendengar suara samar dari masa depan. Sunyi, tetapi menggema lama di dada.
Lalu aku sadar: sejarah sering bergerak diam-diam. Ia tidak selalu lahir dari orang paling gaduh. Acap justru datang dari seorang santri; duduk sederhana, menyeruput kopi perlahan, sementara pikirannya sedang menyalakan obor demi peradaban dunia.[]