Islam di Nusantara kala itu bukan agama kalah. Tapi tenaga peradaban. Energi politik. Sumber keberanian melawan imperialisme. Bagaimana mungkin negeri sebesar Indonesia kehilangan keberanian geopolitiknya? Bagaimana mungkin bangsa Muslim terbesar di dunia gagal menjadikan Islam sebagai energi etika dan keberanian dalam percaturan global?
Oleh : Deden Ridwan

JERNIH—Saudaraku…Suatu sore menjelang senja. Langit Jakarta muram. Gerimis tipis turun bagai ingatan lama yang belum selesai. Telepon genggamku berdering. Dari seberang sana, suara sahabatku, wartawan senior: Samsul Muarif.
“Kang, malam ini ada waktu? Kita ketemu Ama Banapon.”
“Siapa dia?” tanyaku.
“Oh, sahabatku asal Ternate. Dekat dengan Sultan Hidayatullah Sjah II,” jawabnya singkat.
Malam itu kami bertemu di Jambo Kupi, Cilandak. Aroma kopi Aceh menyeruak. Kuah kari mengepul hangat. Di meja kecil itu, sejarah seperti ikut duduk bersama kami. Tentang Ternate. Tentang laut. Tentang martabat bangsa.
Entah mengapa, sejak malam itu, nama Sultan Hidayatullah Sjah II terus membekas di benak kepalaku laksana gema adzan dari kejauhan.
Ketahuilah. Beliau bukan sekadar pewaris takhta. Bukan pula simbol budaya untuk dipajang di panggung seremoni. Tidak!
Ada semacam nyala kesadaran dalam dirinya. Nyala yang terasa panjang usianya. Seolah tumbuh dari jejak sejarah berabad-abad; dari zaman ketika kehormatan bangsa dijaga dengan sumpah, darah, dan keyakinan kepada Tuhan.
Aku membayangkan beliau berdiri di tepian laut Ternate menjelang maghrib. Angin berembus keras. Langit memerah. Laut Maluku terbentang mirip kitab sejarah yang belum selesai dibaca.
Laut itu tampak tenang. Tapi aku yakin, ombak di kepala beliau tak pernah benar-benar diam. Karena menjadi Sultan Ternate hari ini bukan sekadar menjaga tradisi. Terlalu kecil. Terlalu dangkal.
Ingatlah. Yang sedang beliau jaga sesungguhnya adalah nyala kesadaran: bangsa ini pernah berdiri sebagai kekuatan maritim paling disegani di Timur. Dari pulau kecil itu, arah perdagangan dunia ditentukan. Harga rempah dikendalikan. Laut dijaga bukan sekadar jalur ekonomi, melainkan urat nadi kedaulatan.
Benar. Islam di Nusantara kala itu bukan agama kalah. Bukan agama pinggiran. Tapi tenaga peradaban. Energi politik. Sumber keberanian melawan imperialisme.
Jujur saja. Itulah kerinduan terbesar negeri ini; bahkan sampai hari ini. Bukan sekadar pembangunan. Melainkan nyali.
Ya, keberanian berdiri di kaki sendiri. Keberanian berkata “tidak” pada ketidakadilan global. Keberanian mengelola kekayaan negeri tanpa mental jongkok kepada kekuatan asing.
Yakin. Aku merasa Sultan Hidayatullah Sjah II memahami luka itu. Mungkin karena beliau hidup di atas puing sejarah yang terlalu agung untuk dilupakan.
Sadarlah. Hari ini, laut Indonesia sering terasa bak halaman belakang terbuka bagi siapa saja. Bangsa maritim justru takut pada lautnya sendiri. Bangsa besar justru ragu pada kekuatannya sendiri. Ironis.
Dan Sultan Hidayatullah Sjah II seperti tak pernah lelah mengingatkan hal itu. Tenang. Berwibawa. Tajam.
Aku bagaikan melihat beliau sedang melawan bentuk imperialisme baru: penjajahan mental. Bangsa besar dibuat minder di tanahnya sendiri. Generasi muda lebih hafal narasi asing dibanding sejarah bangsanya. Lebih bangga menjadi penonton daripada pemain utama peradaban.
Mungkin itu alasan aura beliau terasa berbeda. Beliau tidak bicara tentang kejayaan Ternate dengan mabuk nostalgia kosong. Aku justru menangkap kegelisahan yang sangat modern.
Bagaimana mungkin negeri sebesar Indonesia kehilangan keberanian geopolitiknya? Bagaimana mungkin bangsa Muslim terbesar di dunia gagal menjadikan Islam sebagai energi etika dan keberanian dalam percaturan global?
Tepat. Pertanyaan-pertanyaan itu hidup dalam cara beliau memandang sejarah. Dari situlah aku menemukan sesuatu yang lama hilang dari negeri ini: Islam politik berkeadaban.
Bukan Islam penuh amarah tanpa arah. Bukan pula Islam jinak pencari tepuk tangan dunia. Tetapi Islam bermartabat. Islam yang mampu berdialog sekaligus melawan. Islam yang menjadikan moral dan etika sebagai fondasi kekuasaan.
Dahulu, para Sultan Ternate memahami itu. Mereka membangun armada laut. Menyatukan pulau-pulau. Mengendalikan perdagangan dunia. Tapi tetap menjaga etika perang, kehormatan manusia, dan nilai agama.
Aku merasa, nyala itu masih hidup dalam diri Sultan Hidayatullah Sjah II hari ini. Nyala sunyi. Tetapi panjang.
Kadang aku berpikir, negeri ini memang membutuhkan lebih banyak penjaga ingatan seperti beliau. Karena tanpa ingatan, sebuah bangsa akan mudah dipermainkan dunia. Mudah dipecah. Diadu-domba. Mudah dijadikan pasar. Bahkan dijadikan buruh di tanah sendiri.
Padahal sejarah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia bahan bakar harga diri. Dan harga diri bangsa tak pernah lahir dari utang luar negeri, pujian asing, atau tepuk tangan forum internasional. Tidak!
Ia lahir dari keberanian menjaga kehormatan sendiri. Ternate pernah mengajarkan itu kepada dunia. Melalui Sultan Hidayatullah Sjah II, gema pelajaran itu terasa belum ingin berakhir. Bahkan terus menyala.
Sebab selama ombak masih pecah di Laut Maluku, selama adzan masih berkumandang dari pulau-pulau Timur Nusantara, sesungguhnya bangsa ini belum benar-benar kehilangan arah jalan pulang.
Akhirnya, renungkanlah. Wahai saudaraku, yang hilang mungkin hanya keberanian untuk mengingat: bahwa kita pernah menjadi raksasa. Dan raksasa yang lupa sejarahnya, perlahan akan dipaksa hidup sebagai kurcaci di rumahnya sendiri.[]