Di negeri ini, terlalu banyak acara berakhir sebagai formalitas. Orang datang, memberi sambutan, berfoto, lalu pulang membawa dokumentasi. Tetapi sore itu terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih manusiawi. Bukan sekadar karya yang hadir. Melainkan hati manusia yang berbicara apa adanya. Yang terasa paling kuat adalah cinta seorang ayah mewujud tulisan. Ada rindu yang mencari jalannya sendiri melalui puisi dan lagu. Bahkan dukanya pun terasa lembut. Seolah kesedihan sedang dipeluk perlahan agar tidak jatuh terlalu dalam.

JERNIH–Saudaraku. Senin sore, 20 April 2026 itu, sebuah ruangan di Gedung DPR RI dipenuhi suara puisi, lagu, dan kesunyian yang sulit dijelaskan. Orang-orang duduk tenang. Sebagian menundukkan kepala. Sebagian lain mencoba tersenyum meski matanya menyimpan sesuatu yang belum selesai.
Tak ada hiruk-pikuk sebagaimana lazimnya acara peluncuran buku. Sore itu justru terasa seperti ruang doa. Tempat cinta, rindu, dan kehilangan duduk berdampingan tanpa banyak suara.
Muhammad Sarmuji menggelar acara bertajuk Ekspresi Cinta, Karya, dan Doa. Sebuah peluncuran buku, puisi, serta lagu untuk mengenang putra tercintanya: Muhammad Sutojoyo Sulthana Nashir.
Aku sendiri tidak berada di ruangan itu. Tetapi anehnya, suasananya terasa begitu dekat. Mula-mula hadir melalui cerita Muhammad Sarmuji. Lalu mengalir lewat potongan-potongan video di media sosial. Lama-kelamaan menjelma sesuatu yang pelan-pelan mengendap di dada. Terutama ketika puisi dibacakan dengan suara tertahan. Pun saat lagu diperdengarkan seperti bisikan pelan kepada kerinduan yang tak kunjung pulang.
Kadang memang demikian. Ada peristiwa yang tak perlu didatangi untuk terasa akrab. Tidak semua hal tiba melalui langkah kaki. Sebagian justru sampai melalui hati.
Sejak pertama mendengar nama itu—Muhammad Sutojoyo Sulthana Nashir—dadaku langsung terasa teduh. Nama itu terasa seperti disusun dari doa-doa panjang. Bukan sekadar rangkaian kata. Melainkan harapan yang dirawat perlahan oleh cinta seorang ayah.
Barangkali itu sebabnya setiap kali nama tersebut disebut, hati ingin diam sejenak. Seolah ada cahaya kecil turun perlahan ke dalam diri. Tidak gaduh. Tidak meledak-ledak. Namun hangatnya tinggal lama di dalam diri.
Kebetulan beberapa waktu terakhir aku juga sedang menulis novel yang terinspirasi dari kisah nyata Sulthan. Judulnya: “Cahaya Sulthan”.
Ketika mendengar cerita demi cerita tentang acara itu, rasanya seperti diajak masuk ke renungan panjang. Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang doa. Juga tentang manusia yang tetap hidup bahkan setelah kepergiannya.
Di negeri ini, terlalu banyak acara berakhir sebagai formalitas. Orang datang, memberi sambutan, berfoto, lalu pulang membawa dokumentasi.
Tetapi sore itu terasa berbeda. Lebih hangat. Lebih manusiawi. Bukan sekadar karya yang hadir. Melainkan hati manusia yang berbicara apa adanya.
Yang terasa paling kuat adalah cinta seorang ayah mewujud tulisan. Ada rindu yang mencari jalannya sendiri melalui puisi dan lagu. Bahkan dukanya pun terasa lembut. Seolah kesedihan sedang dipeluk perlahan agar tidak jatuh terlalu dalam.
Saat menonton video-video acara itu, aku tiba-tiba sadar. Kehilangan ternyata tidak selalu melahirkan kehancuran. Sebagian orang justru menjadi lebih lembut setelah patah. Menjadi lebih teduh sesudah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Cinta sejati rupanya tidak benar-benar pergi bersama kematian. Ia hanya berganti bentuk. Kadang tinggal dalam doa yang lirih disebut setiap malam. Kadang bersemayam di puisi yang ditulis dengan mata basah. Kadang menjelma lagu sederhana yang memelihara rindu sangat panjang.
Di tengah suasana itulah, judul buku karya Muhammad Sarmuji terus berputar di kepalaku: Kekuasaan yang Menolong. Entah kenapa, judul tersebut terasa sangat dalam.
Belakangan, kekuasaan terlalu sering hadir dalam wajah yang keras. Jabatan. Pengaruh. Fasilitas. Kemampuan mengatur orang lain. Atau membuat manusia tunduk oleh rasa takut dan kekaguman.
Padahal Al-Qur’an menghadirkan ungkapan yang begitu lembut: “Wa-j‘al lī min ladunka sulthānan nashīrā.” “Ya Allah, jadikanlah untukku kekuasaan yang menolong.”
Imam Al-Qurthubi memaknai sulthan sebagai kekuatan untuk menjaga kebenaran dan melindungi manusia dari ketidakadilan. Sayyid Qutb dalam “Fi Zhilalil Qur’an” juga menjelaskan bahwa kekuasaan semestinya menjadi jalan hadirnya kemaslahatan dan rasa aman bagi kehidupan manusia.
Semakin kupikirkan, kian terasa bahwa Sulthanan Nashira tidak hanya berbicara tentang jabatan atau kuasa politik. Maknanya ternyata jauh lebih sunyi. Bagaikan cahaya kecil yang membuat seseorang tetap ingin berbuat baik. Tidak ramai. Tidak merasa besar. Namun kehadirannya membuat hidup orang lain terasa lebih ringan.
Ada orang-orang tertentu yang bahkan sebelum berbicara, keberadaannya sudah membuat dada terasa lapang. Ada pula manusia yang tanpa sadar menghadirkan ketenangan bagi sekitarnya. Mereka tidak sibuk menunjukkan diri sebagai penolong. Tetapi selepas perjumpaan, hidup terasa sedikit lebih kuat untuk dijalani.
Barangkali di situlah letak sulthan paling mulia. Bukan kuasa yang membuat manusia gemetar oleh ketakutan. Melainkan daya menghadirkan rasa aman bagi orang lain untuk bersandar.
Bukan kekuatan yang sibuk meninggikan diri. Melainkan kemampuan menyalakan harapan ketika hati orang lain hampir runtuh.
Sadar. Tidak semua pemilik jabatan mampu menghadirkan keteduhan. Sebaliknya, begitu banyak manusia biasa justru diam-diam menjadi penolong bagi kehidupan di sekitarnya. Melalui kesediaan mendengar. Dengan ketulusan membantu tanpa merasa lebih tinggi. Sering kali muncul lewat hal-hal sederhana: menjaga harapan orang lain agar tidak ikut padam.
Aku merasa, itulah warisan paling indah yang disampaikan Muhammad Sarmuji melalui buku dan karya-karyanya. Keyakinan bahwa cinta sejati selalu melahirkan keberpihakan kepada manusia.
Ingat. Dunia hari ini terlalu ramai oleh orang-orang yang ingin terlihat besar. Namun terasa makin sepi dari orang-orang yang sungguh bersedia menjadi teduh bagi sesamanya. Mungkin itu pula alasan mengapa acara sore tersebut terasa begitu menggetarkan.
Di tengah dunia yang digempur ambisi dan pencitraan, hadir hal sederhana namun langka: cinta seorang ayah yang tidak berhenti meski kematian datang lebih dulu.
Menjelang senja ketika video acara itu selesai kutonton sendirian, aku terdiam cukup lama. Ada sesuatu yang perlahan menyesaki dada. Tetapi sulit dijelaskan dengan kata-kata. Bukan semata air mata seorang ayah. Bukan hanya puisi yang dibacakan dengan suara bergetar. Bukan pula lagu-lagu yang lahir dari kehilangan.
Akan tetapi, ada kesadaran yang tiba perlahan: rupanya manusia bisa tetap tinggal, bahkan setelah tiada. Ia hidup melalui cinta yang ditinggalkannya. Hidup lewat doa-doa yang terus diucapkan diam-diam oleh para perindu. Hidup melalui kebaikan yang mengalir tanpa suara. Hidup di hati manusia lain yang berubah menjadi lebih lembut setelah mengenangnya.
Agaknya itulah makna terdalam Sulthanan Nashira. Kekuasaan paling mulia bukanlah kemampuan membuat manusia tunduk. Tetapi kesanggupan menjaga kasih sayang tetap hidup di tengah dunia yang keras. Kecakapan menghadirkan harapan ketika banyak hati mulai patah. Kemampuan membuat orang lain merasa tidak sendirian saat hidup terasa gelap dan melelahkan.
Pada akhirnya, manusia tidak dikenang dari seberapa besar kuasa yang pernah dimilikinya. Orang akan mengingat seberapa banyak hati yang berhasil ia tolong.
Di luar sana, azan magrib perlahan terdengar. Langit mulai gelap. Aku membayangkan. Ada nama-nama yang mungkin tak lagi berjalan di bumi, tetapi cahayanya masih lama beredar di langit manusia.[]