Site icon Jernih.co

Sri Mulyani Gabung Gates Fondation

Sri Mulyani tak pernah benar-benar surut berkarir. Awal tahun, namanya melejit lagi dengan penunjukannya di Dewan Pengurus lembaga filantropi terbesar di dunia. Apa makna strategis di balik keputusan ini?

WWW.JERNIH.CO –  Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan yang mengundurkan diri, secara resmi ditunjuk sebagai anggota Dewan Pengurus (Governing Board) Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF).

Penunjukan ini diumumkan pada 13 Januari 2026, menandai babak baru dalam perjalanan kariernya setelah puluhan tahun berkecimpung di pemerintahan dan lembaga keuangan internasional.

Gates Foundation dikenal sangat selektif dalam memilih anggota dewan, mengingat peran strategis mereka dalam menentukan arah salah satu lembaga filantropi terbesar di dunia.

Rekam jejak global Sri Mulyani menjadi alasan utama keterpilihannya. Pengalamannya sebagai Direktur Pelaksana (COO) Bank Dunia periode 2010–2016 memberinya perspektif luas tentang pembangunan lintas negara, khususnya di negara berkembang.

CEO Gates Foundation, Mark Suzman, secara terbuka menilai bahwa kepiawaian Sri Mulyani dalam merancang kebijakan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan sangat relevan dengan misi jangka panjang yayasan.

Selain itu, kepemimpinannya di masa krisis menjadi poin penting. Ia tercatat sukses mengawal perekonomian Indonesia melewati krisis keuangan global 2008 serta pandemi COVID-19, dua periode yang menguji ketahanan fiskal dan kapasitas negara secara ekstrem.

Faktor lain yang tak kalah signifikan adalah kolaborasi jangka panjang Sri Mulyani dengan Gates Foundation yang telah terjalin hampir satu dekade, terutama dalam program-program berbasis teknologi untuk mendorong pembangunan inklusif di negara berkembang.

Perjalanan karier Sri Mulyani sendiri mencerminkan konsistensi dan dedikasi sebagai ekonom dan teknokrat kelas dunia. Ia memulai langkahnya sebagai akademisi dan peneliti di Universitas Indonesia serta LPEM UI.

BACA JUGA: Reshuffle Kabinet, Prabowo Lantik Empat Menteri Satu Wamen, Sri Mulyani dan Budi Arie Diganti

Karier internasionalnya berlanjut ketika ia dipercaya menjadi Direktur Eksekutif IMF (2002–2004), mewakili 12 negara Asia Tenggara. Di dalam negeri, ia mengemban amanah sebagai Kepala Bappenas (2004) dan kemudian Menteri Keuangan (2005–2010) pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Puncak kiprah globalnya tercapai saat ia menjadi orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia di Washington D.C. (2010–2016). Setelah itu, ia kembali ke Tanah Air dan menjabat sebagai Menteri Keuangan sejak 2016 hingga 2025, melintasi dua periode pemerintahan Presiden Joko Widodo dan berlanjut pada awal pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Di Gates Foundation, Sri Mulyani kini berperan sebagai anggota Governing Board, duduk sejajar dengan tokoh-tokoh dunia, termasuk Bill Gates sendiri. Dalam kapasitas ini, ia tidak terlibat dalam operasional harian, melainkan memegang peran strategis tingkat tinggi.

Tugas dan wewenangnya mencakup pemberian panduan serta persetujuan atas arah strategis yayasan, pengawasan tata kelola dan pengelolaan dana abadi agar efektif dan transparan, serta advokasi kebijakan dengan perspektif ekonomi untuk program pengentasan kemiskinan dan kesehatan global.

Ia juga terlibat dalam pengambilan keputusan krusial, termasuk komitmen besar yayasan untuk mendistribusikan seluruh dana abadinya dalam dua dekade ke depan demi dampak kemanusiaan yang maksimal.

Gates Foundation yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat dikenal memiliki berbagai kepentingan pula di beberapa negara. Termasuk Indonesia.  Dengan dana abadi mencapai miliaran dolar, yayasan ini memandang Indonesia sebagai “laboratorium sukses” sekaligus mitra strategis yang krusial.

Indonesia dianggap sebagai wilayah yang paling ideal untuk membuktikan bahwa kombinasi antara inovasi teknologi dan dana hibah yang tepat sasaran dapat secara efektif mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Salah satu fokus utama Gates Foundation di tanah air adalah menjadikan Indonesia sebagai pusat (hub) produksi vaksin dunia. Melalui penguatan kemitraan dengan BUMN farmasi seperti Bio Farma, BMGF berambisi melakukan diversifikasi produksi agar pasokan vaksin global tidak lagi terpusat di negara-negara Barat.

Hal ini telah dibuktikan dengan kucuran hibah puluhan juta dolar untuk pengembangan vaksin Polio dan Measles-Rubella (MR), dengan tujuan menjadikan Indonesia pemasok utama bagi negara-negara berpenghasilan rendah di seluruh dunia.

Di sisi teknologi dan tata kelola, yayasan ini sangat vokal dalam mendorong implementasi Identitas Digital (Digital ID) dan infrastruktur publik digital. Kepentingan mereka adalah memastikan bahwa distribusi bantuan sosial, subsidi, dan layanan kesehatan dapat dilakukan dengan data yang akurat guna meminimalisir kebocoran anggaran.

Bagi BMGF, keberhasilan Indonesia dalam menerapkan sistem ID digital yang terintegrasi akan menjadi model percontohan (blueprint) yang dapat mereka terapkan di negara-negara berkembang lainnya di kawasan Afrika dan Asia.

Selain itu, Gates Foundation membidik inklusi keuangan dan pengendalian penyakit endemik. Dengan populasi besar yang memiliki ponsel namun belum tersentuh layanan perbankan (unbanked), Indonesia adalah pasar utama untuk digitalisasi ekonomi UMKM.

Secara paralel, BMGF memanfaatkan Indonesia sebagai lokasi uji klinis teknologi medis terbaru, seperti nyamuk Wolbachia untuk demam berdarah dan pengembangan vaksin TBC generasi terbaru. Bahkan, pada periode 2025/2026, mereka mulai melirik dukungan pada program nutrisi nasional seperti Makan Bergizi Gratis untuk mempelajari korelasi antara asupan pangan dengan kecerdasan anak.

Jika dibandingkan dengan peran Sri Mulyani di Bank Dunia, terlihat pergeseran yang menarik. Di Bank Dunia, ia adalah eksekutif operasional penuh waktu, memimpin ribuan staf dan mengelola pembiayaan miliaran dolar melalui instrumen pinjaman dan kebijakan makro untuk membangun sistem ekonomi negara.

Di Gates Foundation, perannya bersifat governance dan strategis, dengan fokus pada hibah, inovasi, dan dampak langsung pada manusia—mulai dari akses vaksin, nutrisi, hingga teknologi digital. Jika sebelumnya ia adalah “arsitek” yang memastikan mesin ekonomi negara berjalan, kini ia berperan sebagai “penjaga kompas” yang mengarahkan dana filantropi swasta terbesar di dunia agar tepat sasaran dan berdaya guna.

Transisi ini menjadi semakin menarik karena terjadi bersamaan dengan penunjukannya sebagai World Leaders Fellow di Oxford University pada 2026.(*)

BACA JUGA: Dari Soemitro ke Sri Mulyani; dari Mata Air ke Air Mata

Exit mobile version