Site icon Jernih.co

Di Balik Aksi Tommy Soeharto Menjual Saham Senilai Rp288 Miliar

Resmi melepas 10,40% kepemilikan langsungnya di PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS), apa yang hendak dilakukan Tommy Soeharto? Benarkah ini tanda mundurnya keluarga Cendana dari sektor pelayaran?


WWW.JERNIH.CO –  Hutomo Mandala Putra, atau yang lebih dikenal sebagai Tommy Soeharto, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemegang saham langsung di PT Humpuss Intermoda Transportasi Tbk (HITS).

Langkah ini menandai berakhirnya era kepemilikan langsung sang pangeran Cendana di salah satu emiten pelayaran paling legendaris di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, di balik angka-angka transaksi yang fantastis, terdapat strategi korporasi yang jauh lebih besar daripada sekadar penjualan aset biasa.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada 2 Februari 2026, Tommy Soeharto telah menjual seluruh 738,69 juta lembar saham HITS miliknya, yang merepresentasikan 10,40% hak suara perusahaan. Saham tersebut dilepas pada harga Rp391 per saham, sehingga Tommy mengantongi dana segar sekitar Rp288,82 miliar.

Langkah ini ternyata merupakan aksi kolektif. Induk usahanya, PT Humpuss, juga turut melepas kepemilikan jumbo sebesar 3,4 miliar saham (47,89%) dengan harga Rp152 per saham, yang mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp516,95 miliar.

Dengan tuntasnya transaksi ini, nama Tommy Soeharto dan PT Humpuss secara administratif resmi hilang dari daftar pemegang saham HITS, menyisakan tanda tanya besar di kalangan investor mengenai arah masa depan perusahaan.

Banyak yang berspekulasi bahwa penjualan ini adalah tanda mundurnya keluarga Cendana dari bisnis maritim, namun fakta di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Penjualan saham ini merupakan bagian dari peta jalan (roadmap) perusahaan untuk melakukan delisting atau keluar dari bursa saham.

Sejak Juni 2025, HITS telah mendapatkan restu dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk berubah status menjadi perusahaan tertutup (go private).

Keputusan untuk keluar dari lantai bursa diambil karena saham HITS dianggap tidak lagi likuid dan harga pasarnya sering kali tidak mencerminkan nilai fundamental perusahaan yang sebenarnya.

Dengan menjadi perusahaan tertutup, manajemen memiliki keleluasaan lebih besar dalam mengambil kebijakan strategis tanpa harus terbebani oleh kewajiban transparansi publik yang ketat serta biaya administrasi emiten yang tinggi.

Langkah Tommy menjual sahamnya adalah cara untuk “membersihkan” struktur kepemilikan agar transisi menuju perusahaan privat berjalan lebih mulus.

Analisis mendalam menunjukkan bahwa Grup Humpuss sedang melakukan restrukturisasi strategis. Fokus bisnis transportasi energi kini mulai digeser ke entitas yang lebih muda dan dinamis, yakni PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI). HUMI, yang tetap bertahan sebagai perusahaan publik, diposisikan sebagai “wajah baru” bisnis maritim keluarga Cendana yang lebih efisien dan modern.

Dana segar hasil penjualan saham HITS tersebut diyakini akan diputar kembali oleh Tommy Soeharto untuk memperkuat lini bisnis lainnya. Selain memperkokoh posisi HUMI di sektor pelayaran LNG dan kimia, Tommy belakangan ini juga sangat aktif menggarap sektor properti dan rekreasi premium melalui PT Intra Golflink Resorts.

Ini menunjukkan bahwa sang pengusaha sedang melakukan konsolidasi aset untuk memprioritaskan sektor-sektor yang memiliki pertumbuhan arus kas lebih cepat.

Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah HITS tidak dijual karena sedang merugi. Sebaliknya, perusahaan ini merupakan salah satu pemain kunci dalam transportasi energi nasional sejak berdiri tahun 1992.

Sebagai emiten perkapalan pertama yang melantai di BEI pada tahun 1997, HITS memiliki rekam jejak yang panjang dalam melayani pengangkutan LNG, minyak bumi, dan bahan kimia.

Kondisi keuangan HITS pada tahun 2025 tercatat cukup solid. Pada Semester I-2025, perusahaan membukukan kenaikan pendapatan yang signifikan dengan laba bersih kuartal I-2025 mencapai Rp48,8 miliar. Alasan utama hengkangnya HITS dari bursa murni karena masalah likuiditas perdagangan, bukan karena kegagalan operasional. Bagi manajemen, status perusahaan terbuka justru dianggap menghambat fleksibilitas pendanaan di tengah kondisi pasar modal yang volatil.

Pasca-penjualan oleh Tommy, peta kepemilikan saham HITS kini didominasi oleh entitas yang disiapkan untuk proses tender offer. PT Menara Cakra Buana masih bertahan dengan porsi sekitar 32,83%, sementara sisa saham publik sedang diserap secara bertahap.

Sebagian besar kendali operasional kini beralih ke PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) dan entitas pengendali baru seperti PT Glory Sentosa yang bertindak sebagai penyerap saham dalam proses go private.

Secara substansi, meski nama Tommy Soeharto tidak lagi muncul di lembar saham HITS, kendali perusahaan tetap berada dalam ekosistem Grup Humpuss. Fenomena ini sering disebut sebagai aksi “tukar kantong”, di mana pemilik lama memindahkan kepemilikannya ke entitas lain dalam grup yang sama dengan struktur yang lebih menguntungkan untuk tujuan jangka panjang.(*)

BACA JUGA: Feisal Hamka, Sosok di Balik Gurita Jalan Tol yang Kini Kuasai Saham CMNP

Exit mobile version