[JERNIH PIALA DUNIA 2026] Teater Comeback Argentina Bikin Inggris Menangis

Dalam dua laga Argentina kecolongan. Lawan selalu deposit gol lebih dulu. Tapi mereka punya resep jitu melakukan comeback, dan itu di menit-menit mendebarkan.
WWW.JERNIH.CO – Jangan pernah merasa aman saat unggul lebih dulu dari Argentina. Sudah dua korban mengalami peristiwa sama. Sang Juara Dunia kembali menunjukkan mentalitas baja mereka dalam laga sarat gengsi melawan Inggris. Lewat drama yang menguras emosi, Argentina sukses membalikkan keadaan sekaligus menegaskan bahwa mereka adalah pawang terbaik untuk situasi kritis.
Ini adalah kedua kalinya Argentina melakukan comeback sensasional, setelah sebelumnya mereka memamerkan trik magis serupa saat menjinakkan Mesir.

Jurus comeback Argentina ini sebenarnya sangat membahayakan—bukan hanya bagi lawan, tetapi juga bagi kesehatan jantung para pendukungnya. Argentina seperti sengaja membiarkan lawan masuk ke dalam perangkap kenyamanan.
Ketika musuh berhasil mencetak gol dan merasa di atas angin karena memiliki “deposit gol”, di situlah petaka dimulai. Lawan cenderung menurunkan intensitas, bermain lebih defensif, dan kurang waspada. Begitu garis pertahanan lawan mengendur, Argentina langsung menaikkan gigi, menghukum kelengahan tersebut dengan determinasi tinggi yang sulit dibendung.
Namun, ada perbedaan besar antara laga melawan Mesir dan Inggris. Saat bersua Mesir, Argentina harus jatuh bangun menyamakan level permainan. Sementara saat melawan Inggris, armada Albiceleste sebenarnya tampil jauh lebih superior sejak awal laga. Inggris justru tampil antiklimaks dan gagal mengimbangi agresivitas anak asuh Lionel Scaloni.
Meskipun skor akhir pertandingan terlihat ketat, statistik di atas lapangan menceritakan dominasi mutlak yang membuat Inggris kehilangan taringnya. Argentina benar-benar mendikte permainan dari segala lini lewat penguasaan bola yang mencapai 64% berbanding 36%, serta aliran 578 operan akurat yang jauh mengungguli 381 operan milik Three Lions.
Kepincangan performa ini kian nyata saat melihat agresivitas lini serang Tim Tanggo yang melepaskan 14 tembakan (6 tepat sasaran) dan memenangi 6 tendangan sudut, sementara Inggris hanya mampu membalas dengan 6 tembakan (3 tepat sasaran) serta hanya mencatatkan 1 kali sepak pojok sepanjang laga.
Namun, dominasi total Argentina ini bukan tanpa cela karena mereka harus membayar mahal gaya main spartan yang diterapkan. Demi meredam momentum Inggris, anak asuh Lionel Scaloni kerap bermain terlalu agresif dan kebablasan dalam melakukan tekanan, yang berujung pada banjir pelanggaran di area pertahanan sendiri.
Akibat skema permainan menekan yang terlampau berisiko ini, wasit bahkan terpaksa mengeluarkan 3 kartu kuning untuk punggawa Argentina—sebuah catatan disiplin yang menjadi rapor merah di balik performa gemilang mereka.

Inggris sebenarnya sempat membuka asa lewat gol yang dicetak oleh Anthony Gordon. Gol ini lahir dari skema yang wajib diapresiasi tinggi, sekaligus menjadi rapor merah bagi lini belakang Argentina.
Para bek Argentina tampaknya terlalu fokus pada pergerakan bola di depan dan sama sekali tidak mengira ada pergerakan hantu dari Gordon. Pemain sayap Inggris ini muncul tiba-tiba dari spot teralpakan barisan belakang Argentina. Dengan timing yang sempurna, Gordon menyambut umpan silang matang lewat tandukan kepala yang gagal diantisipasi kiper. Gol ini murni akibat kelengahan sesaat lini belakang Argentina yang mengendurkan fokus mereka.
Merasa punya modal kemenangan, Inggris tak menaikkan tensi serangan dengan formasi anak panah seperti saat menundukkan Norwegia. Kane dan Bellingham kehilangan aura dan daya gedor ditebas oleh formasi biasa Argentina (4-4-2).
Sebaliknya, alih-alih menyerang secara membabi buta dengan umpan lambung spekulatif, Argentina tetap setia pada identitas mereka: mengalirkan bola dari kaki ke kaki dengan cepat memanfaatkan keunggulan jumlah operan. Mereka mengurung Inggris di sepertiga pertahanan sendiri, memaksa lini belakang Inggris melakukan kesalahan koordinasi akibat kelelahan fisik dan mental.
Sepertinya Argentina tinggal menunggu waktu yang tepat. Separuh babak itu permainan seolah hanya setengah lapangan di area Inggris. Argentina menekan dengan berbagai spekulasi, baik tendangan jarak jauh hingga sundulan kepala.

Badai serangan baru berbuah pada menit ke-85, Enzo Fernández menyamakan kedudukan lewat aksi magisnya; setelah menerima sodoran bola, ia melepaskan sepakan melengkung spektakuler dari luar kotak penalti yang bersarang telak di pojok atas gawang Jordan Pickford.
Belum sempat Inggris pulih dari guncangan mental, Tim Tango menyempurnakan comeback mereka pada menit ke-90+2 ketika sang kapten, Lionel Messi, mengirimkan umpan silang super presisi yang langsung disambut tandukan tajam Lautaro Martínez di antara kepungan bek lawan, mengunci kemenangan dramatis 2-1 untuk sang Juara Dunia.
Inggris tak belajar dari Mesir. Selanjutnya harus berhadapan dengan Prancis yang pernah dikalahkan Argentina di Piala Dunia 2022 guna meraih peringkat 3. (*)
BACA JUGA: [JERNIH PIALA DUNIA 2026] Prancis Kalah Konyol di Tangan Spanyol






