PersonaVeritas

KH Abdul Hakim Mahfudz, Nahkoda Baru PBNU

Tak hanya mewarisi darah ulama besar sebagai cucu Pendiri NU Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari, Pengasuh Pesantren Tebuireng ini juga membawa rekam jejak panjang sebagai kiai entrepreneur di dunia korporasi.

WWW.JERNIH.CO  – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung di Jombang, Jawa Timur, resmi melahirkan kepemimpinan baru untuk masa khidmat 2026–2031. Melalui musyawarah majelis Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA), KH Abdul Hakim Mahfudz—yang akrab disapa Gus Kikin—terpilih secara mufakat menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendampingi KH Miftachul Akhyar yang kembali dipercaya sebagai Rais ‘Aam.

Terpilihnya Gus Kikin menandai babak baru perjalanan jam’iyyah NU, sekaligus membawa angin segar yang memadukan tradisi kuat pesantren dengan kepemimpinan modern.

Gus Kikin lahir dari trah pesantren yang sangat kuat dan terpandang. Dari jalur ibunya, Nyai Hj. Abidah Ma’shum, ia merupakan cucu dari Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim, yakni putri sulung Pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari.

Sementara dari jalur ayahnya, KH Mahfudz Anwar, nasabnya tersambung kepada KH Anwar bin Alwi, pendiri Pesantren Tarbiyatun Nasyi’in Paculgowang, Jombang. Kehadiran darah ulama besar dalam dirinya menjadikan Gus Kikin sebagai sosok yang tumbuh dan bernapas dalam tradisi keilmuan serta spiritualitas Nahdliyin sejak kecil.

Pendidikan keagamaan Gus Kikin ditempuh melalui gemblengan ketat di lingkungan pesantren salaf. Selain menguasai literatur keislaman klasik (kitab kuning), ia juga menempuh pendidikan formal dan memiliki wawasan manajerial yang luas.

Keunikan Gus Kikin terletak pada latar belakang profesionalnya, di mana ia dikenal luas sebagai sosok kiai entrepreneur yang sukses di dunia korporasi. Sebelum mengabdi penuh di ranah pengorganisasian umat, ia berpengalaman memimpin berbagai usaha strategis, seperti perusahaan di bidang minyak dan gas (migas) PT Energi Mineral Langgeng (EML) serta media penyiaran BBS TV.

Kombinasi latar belakang spiritual pesantren dan pengalaman tata kelola bisnis ini memberi warna tersendiri pada gaya kepemimpinannya yang rasional, terukur, namun tetap berakar kuat pada tradisi.

Sebelum amanah tertinggi Ketua Umum PBNU berada di pundaknya, Gus Kikin telah memegang berbagai posisi strategis dalam struktur Nahdlatul Ulama dan pesantren. Ia dipercaya meneruskan kepemimpinan almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, yang di bawah kepemimpinannya mengalami modernisasi tata kelola serta perluasan berbagai cabang di Indonesia.

Selain itu, ia pernah mengemban tugas penting sebagai Penjabat (Pj) Ketua PWNU Jatim untuk menjaga stabilitas dan konsolidasi organisasi di basis terbesar NU, serta aktif di tingkat pusat sebagai salah satu Ketua PBNU yang membidangi penguatan ekonomi dan tata kelola organisasi.

Sebagai Ketum PBNU periode 2026–2031, Gus Kikin mengusung beberapa fokus serta misi utama. Misi tersebut meliputi upaya menguatkan kembali fondasi jam’iyyah sesuai nilai-nilai dasar yang diwariskan oleh Mbah Hasyim Asy’ari (Qanun Asasi), serta memanfaatkan pengalaman bisnisnya untuk membangun ekosistem ekonomi berbasis pesantren dan pemberdayaan ekonomi Nahdliyin (Nahdlatut Tujjar).

Ia juga berkomitmen menerapkan tata kelola dan transformasi digital melalui manajemen modern yang transparan, profesional, dan responsif terhadap perkembangan teknologi tanpa merusak akar tradisi ulama. Di samping itu, penataan organisasi yang solid terus dijaga untuk memelihara keharmonian antara jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah agar PBNU tetap menjadi benteng kebangsaan yang teduh dan independen.

Dengan rekam jejak, keilmuan, serta visi kemandiriannya, terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz diharapkan mampu membawa PBNU menjadi organisasi keagamaan yang semakin mandiri, modern, dan memberikan manfaat nyata bagi seluruh umat.(*)

BACA JUGA: Muktamar NU ke-35; dari One Man One Vote ke AHWA

Back to top button