Hampir setengah dari total populasi Muslim di Inggris saat ini berusia di bawah 25 tahun. Hal ini menjadikan mereka sebagai salah satu kelompok dengan pertumbuhan tercepat dan usia paling muda di negara tersebut.
JERNIH – Peta politik dan sosial Britania Raya di masa depan diprediksi akan mengalami pergeseran besar yang digerakkan oleh generasi baru pemilih Muslim muda. Kelompok demografi ini tumbuh dan matang jauh lebih cepat daripada yang disadari oleh para politisi di Westminster.
Laporan terbaru bertajuk “British Muslims in Numbers” yang dirilis oleh Dewan Muslim Inggris (MCB) minggu ini mengungkapkan fakta mengejutkan: komunitas Muslim kini mencakup 6,5 persen dari total populasi Inggris dan Wales. Menariknya, mereka memiliki nilai tengah (median) usia yang sangat muda, yaitu 27 tahun—selisih 13 tahun lebih muda dibandingkan rata-rata nasional warga Inggris lainnya.
Hampir setengah dari total populasi Muslim di Inggris saat ini berusia di bawah 25 tahun. Hal ini menjadikan mereka sebagai salah satu kelompok dengan pertumbuhan tercepat dan usia paling muda di negara tersebut.
Para peneliti menilai pergeseran demografi ini akan menjadi sangat signifikan secara politik jika wacana penurunan usia memilih menjadi 16 tahun disahkan oleh parlemen. Langkah yang digagas oleh pemerintahan Partai Buruh tahun lalu itu saat ini tengah diperdebatkan di House of Commons (Dewan Perwakilan Rakyat) dan House of Lords (Dewan Bangsawan). Jika disetujui, aturan baru ini akan langsung menambah sekitar 150.000 pemilih Muslim baru ke dalam daftar pemilu.
“Ini adalah generasi muda yang lahir di Inggris, berpendidikan tinggi, dan para politisi yang masih menganggap Muslim sebagai orang asing berarti membaca naskah kuno yang sudah kedaluwarsa 20 tahun lalu,” tegas Miqdad Asaria, profesor madya kebijakan kesehatan di London School of Economics (LSE) mengutip Al Jazeera. “Setengah dari Muslim Inggris berusia di bawah 25 tahun. Mereka tidak sedang menunggu izin dari siapa pun untuk mulai berpartisipasi dalam kehidupan publik.”
Laporan yang menganalisis data sensus dari tahun 2001, 2011, hingga 2021 ini juga mematahkan stereotip lama dalam analisis politik barat yang sering kali menggeneralisasi suara Muslim.
Asaria menekankan bahwa komunitas Muslim Inggris sangat beragam secara etnis, politik, dan budaya. Komunitas ini membentang luas mulai dari warga keturunan Pakistan di Bradford, komunitas Somalia di Cardiff, keluarga asal Bangladesh di Tower Hamlets, warga mualaf kulit putih Inggris, hingga para profesional Arab di London.
“Tidak pernah ada yang namanya blok pemilih Muslim. Yang Anda lihat hari ini adalah hampir empat juta orang dengan spektrum pandangan politik yang sangat luas dan beragam, sama seperti populasi umum lainnya,” tambah Asaria.
Dosen politik dari University of Wolverhampton, Mohammed Sinan Siyech, menambahkan bahwa anak muda Muslim saat ini sangat melek politik melalui media sosial. Hal ini didorong oleh respons mereka terhadap meningkatnya isu Islamofobia seiring bangkitnya gerakan sayap kanan di Inggris. Mereka mengonsumsi berita dari jalur alternatif dan memanfaatkan pengaruh para influencer digital untuk mengawal isu-isu politik kontemporer.
Realitas Pahit Ketimpangan Sosial
Meski menunjukkan taji di ranah politik dan digital, laporan MCB ini juga memotret realitas pahit mengenai ketimpangan sosial dan perjuangan hidup yang harus dihadapi komunitas ini. Sekitar 110.000 rumah tangga Muslim (10,3 persen) kini merupakan keluarga dengan orang tua tunggal (lone-parent) yang memiliki anak tanggungan.
Angka ini jauh lebih tinggi dari rata-rata nasional Inggris yang berada di angka 6.9 persen. Sementara angka kepemilikan rumah di kalangan Muslim hanya mencapai 41,5 persen, tertinggal jauh dari rata-rata nasional yang menyentuh angka 63 persen.
“Ini bukan cerita tentang kegagalan budaya,” sanggah Asaria tegas. “Ini adalah cerita tentang kerugian struktural yang nyaris tidak bergeser selama 20 tahun terakhir.” Ia menjelaskan bahwa Muslim Inggris harus bekerja ekstra keras melawan arus diskriminasi lapangan kerja, kualitas hunian yang buruk, serta minimnya investasi pemerintah di wilayah-wilayah padat penduduk Muslim.
Di balik tantangan berat tersebut, secercah harapan muncul dari data mobilitas sosial yang terdokumentasi dengan baik. Aktivitas ekonomi perempuan Muslim tercatat melonjak hingga 37 persen dalam dua dekade terakhir.
Selain itu, hampir sepertiga dari total populasi Muslim Inggris kini telah mengantongi gelar sarjana. Bahkan untuk kelompok usia 16–24 tahun, persentase anak muda Muslim yang meraih gelar pendidikan tinggi telah melampaui rata-rata nasional Inggris.
Abdul-Azim Ahmed, Wakil Direktur Pusat Studi Islam di Inggris, menyimpulkan bahwa komunitas Muslim berkembang dan matang lebih cepat daripada pemahaman publik awam selama ini.
“Muslim Inggris semakin berpendidikan, berjiwa wirausaha, aktif secara ekonomi, dan menjadi warga negara yang terlibat penuh. Profil usia mereka yang lebih muda juga menegaskan betapa vitalnya posisi mereka sebagai pembayar pajak masa depan untuk menopang sisa roda perekonomian Inggris yang menua,” tambah Ahmed.
Bagi tim peneliti di balik laporan ini, pertanyaan besarnya kini bukan lagi tentang apakah warga Muslim diakui sebagai bagian dari Inggris, melainkan apakah institusi-institusi negara di Britania Raya sudah siap menyambut skala perubahan demografi dan sosial yang masif ini.
