Jernih.co

Pesawat Smart Air Ditembak KKB di Korowai Batu, Dua Pilot Gugur

Pesawat Smart Air PK-SNR yang tengah membawa belasan penumpang menjadi sasaran rentetan tembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sesaat setelah mendarat di Lapangan Terbang Korowai Batu, Papua Selatan.

WWW.JERNIH.CO –  Pesawat milik PT Smart Cakrawala Aviation (Smart Air) dengan nomor registrasi PK-SNR menjadi sasaran penembakan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau yang sering menyebut diri mereka Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM). Insiden berdarah ini terjadi di Lapangan Terbang Korowai Batu, Kabupaten Mappi, Papua Selatan, pada Rabu, 11 Februari 2026.

Peristiwa ini menambah daftar panjang kekerasan terhadap maskapai sipil yang menjadi tulang punggung logistik dan transportasi masyarakat di wilayah pedalaman Papua. Serangan ini mengakibatkan korban jiwa dari pihak awak pesawat, sementara belasan penumpang dilaporkan berhasil menyelamatkan diri.

Pesawat Smart Air PK-SNR berangkat dari Bandara Tanah Merah (TMH) menuju Lapangan Terbang Korowai Batu (DNW). Pesawat tersebut membawa 12 penumpang dewasa dan satu bayi, serta dua orang kru.

Insiden terjadi sesaat setelah pesawat mendarat di landasan pacu Korowai Batu sekitar pukul 08.26 WIT. Ketika pesawat sedang melakukan proses taxi atau baru saja berhenti sempurna, rentetan tembakan dilepaskan oleh kelompok bersenjata dari arah semak-semak di pinggir lapangan terbang.

Kepala Polres Boven Digoel AKBP Wisnu Perdana Putra yang dikonfirmasi membenarkan insiden tersebut.

Tembakan tersebut diarahkan langsung ke bagian depan pesawat, khususnya area kokpit. Pilot, Capt. Egon, dan Co-Pilot, Capt. Baskoro, terkena tembakan fatal dan dilaporkan meninggal dunia di tempat.

Di tengah situasi mencekam, para penumpang segera berhamburan keluar dari kabin dan menyelamatkan diri dengan berlari ke arah hutan serta pemukiman warga di sekitar bandara untuk menghindari terjangan peluru.

“Namun, sekitar pukul 13.00 WIT kami mendapat informasi bahwa pilot dan co-pilot ditemukan tewas,” kata AKBP Wisnu.

Pesawat yang menjadi sasaran adalah Cessna 208B Grand Caravan EX. Ini merupakan pesawat turboprop bermesin tunggal yang sangat populer digunakan di medan ekstrem seperti Papua karena kemampuannya mendarat di landasan pendek dan tidak beraspal (unpaved runway).

Pesawat PK-SNR dilaporkan mengalami kerusakan berat pada bagian kaca kokpit dan badan pesawat akibat lubang bekas peluru. Beruntung, tangki bahan bakar tidak meledak saat serangan terjadi. Saat ini, pesawat masih berada di lokasi kejadian di bawah pengamanan ketat aparat gabungan TNI-Polri.

Cessna Caravan milik Smart Air ini dikenal memiliki performa tinggi dengan mesin Pratt & Whitney PT6A-140 yang mampu mengangkut beban hingga 1,5 ton kargo atau maksimal 14 penumpang. Pesawat dengan registrasi PK-SNR ini merupakan salah satu armada andalan Smart Air dalam mendukung program penerbangan perintis (subsidi) di wilayah Papua.

PT Smart Cakrawala Aviation atau yang lebih dikenal dengan Smart Air adalah perusahaan jasa angkutan udara niaga tidak terjadwal yang didirikan pada akhir tahun 2016. Maskapai ini berkantor pusat di Jakarta, namun basis operasional utamanya terkonsentrasi di Papua, seperti di Nabire, Timika, dan Tanah Merah.

Pemilik sekaligus pendiri Smart Air adalah Pongky Majaya. Di bawah kepemimpinannya, Smart Air tumbuh pesat menjadi salah satu pemain utama dalam penerbangan perintis di Indonesia. Perusahaan ini tidak hanya melayani angkutan penumpang dan kargo, tetapi juga aktif dalam misi pencarian dan penyelamatan (SAR), pemetaan udara, hingga modifikasi cuaca (hujan buatan).

Sejak mengantongi Air Operator Certificate (AOC) pada tahun 2018, Smart Air telah melakukan ribuan jam terbang di langit Papua. Maskapai ini tercatat melayani lebih dari 30 hingga 50 penerbangan setiap harinya di berbagai rute pedalaman Papua untuk mendistribusikan kebutuhan pokok (Sembako), obat-obatan, dan mobilisasi warga lokal. (*)

BACA JUGA: Pasca KKB Papua Bakar Pesawat di Bandara Ilaga, Puluhan Warga Mengungsi ke Pos TNI-Polri

Exit mobile version