Site icon Jernih.co

Sabida Thaiseth, Wajah Baru Inklusivitas dan Kekuatan Budaya Thailand

Sabida Thaiseth membuktikan bahwa identitas dan tradisi bisa berjalan beriringan dengan modernitas. Mewarisi darah politik yang kuat namun tampil dengan visi yang segar, ia kini menjadi ujung tombak ekonomi kreatif Thailand.

WWW.JERNIH.CO –  Di tengah dinamika politik Thailand yang kerap didominasi oleh wajah-wajah lama, munculnya Sabida Thaiseth sebagai Menteri Kebudayaan membawa angin segar yang melampaui sekadar pergantian jabatan.

Perempuan kelahiran 1984 ini selain politisi muda juga simbol dari pergeseran paradigma di Negeri Gajah Putih. Sebagai perempuan Muslim pertama yang memegang kursi Menteri Kebudayaan dalam sejarah Thailand, Sabida menjadi bukti nyata bahwa identitas agama dan latar belakang etnis bukanlah penghalang untuk menjaga dan memajukan warisan nasional sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama Buddha.

“Thailand adalah rumah bagi banyak identitas. Tugas saya bukan hanya menjaga satu warna, melainkan memastikan seluruh spektrum warna budaya kita—dari kuil hingga masjid, dari pegunungan hingga pesisir—menjadi kekuatan tunggal yang diakui dunia,” ujarnya.

Karier Sabida tidak tumbuh di ruang kosong. Juga tidak dididik lewat proses karbitan, meski ia adalah putri dari Chada Thaiseth. Chada adalah tokoh politik berpengaruh dari Provinsi Uthai Thani yang dikenal dengan pengaruhnya yang kuat di wilayah Sakae Krang.

Namun, Sabida bukanlah sekadar bayang-bayang sang ayah. Berbekal pendidikan hukum tingkat Magister (LLM) dari Assumption University, ia telah mengasah ketajaman birokrasinya melalui posisi strategis sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri sebelum akhirnya dipercaya memimpin kementerian yang mengurusi “jiwa” bangsa Thailand.

Penunjukannya merupakan langkah cerdas dari Perdana Menteri Paetongtarn Shinawatra untuk memperkuat persatuan nasional melalui representasi kelompok minoritas.

Di dalam kabinet Thailand saat ini—yang terdiri dari 35 menteri dan satu Perdana Menteri—Sabida menempati posisi yang sangat krusial. Saat ini, Thailand sedang gencar mempromosikan strategi Soft Power untuk memulihkan ekonomi pasca-pandemi.

Di sinilah sosok Sabida dianggap sebagai jembatan yang sempurna. Ia memiliki energi masa kini untuk merangkul ekonomi kreatif, namun tetap memiliki kedekatan emosional dengan akar budaya tradisional. Sebagai penganut Islam keturunan Pathan, ia membawa perspektif baru tentang bagaimana keberagaman justru bisa menjadi komoditas budaya yang unik dan bernilai tinggi di mata dunia.

Kini, tugas besar menanti di pundak Sabida. Melalui visinya yang dikenal dengan semangat “Thai Thai”, ia berambisi untuk tidak hanya melestarikan candi atau tarian tradisional, tetapi juga mengemas kebudayaan Thailand menjadi kekuatan ekonomi global.

Di bawah kepemimpinannya, kementerian kebudayaan diharapkan tidak lagi hanya menjadi penjaga museum, melainkan mesin penggerak industri kreatif yang inklusif bagi seluruh rakyat Thailand, tanpa memandang latar belakang mereka. Sabida Thaiseth kini bukan hanya menteri bagi kaum Muslim, melainkan penjaga gerbang kebudayaan bagi seluruh bangsa Thailand.

alah satu fokus utama Sabida adalah memperkuat posisi Thailand sebagai pusat festival dunia. Ia gencar mempromosikan perayaan tradisional seperti Songkran dan Loy Krathong agar tidak hanya menjadi ritual lokal, tetapi juga destinasi wajib bagi wisatawan global.

Namun, yang membuat strateginya berbeda adalah inklusivitasnya; Sabida juga mulai memperkenalkan potensi budaya Muslim Thailand ke dunia internasional, seperti kerajinan tangan khas wilayah Selatan dan festival kuliner halal yang autentik. Dengan cara ini, ia menunjukkan bahwa wajah budaya Thailand sangatlah beragam dan kaya warna.

Di ranah digital, Sabida mendorong kolaborasi antara pemerintah dan kreator konten untuk mempromosikan aset negara melalui media sosial dan platform streaming. Ia percaya bahwa Soft Power yang efektif adalah yang mampu menyentuh keseharian masyarakat global secara organik—mulai dari pakaian sutra Thailand yang didesain secara modern hingga diplomasi kuliner melalui kedai-kedai makanan di luar negeri.

Bagi Sabida, keberhasilan kebudayaan bukan hanya diukur dari seberapa banyak orang yang datang berkunjung, tetapi seberapa besar pengaruh gaya hidup Thailand mampu mewarnai tren dunia.

“Kekuatan budaya kita tidak terletak pada seberapa ketat kita menguncinya di masa lalu, melainkan pada seberapa berani kita membawanya ke masa depan. Budaya adalah modal hidup yang harus dirasakan manfaatnya secara ekonomi oleh masyarakat, tanpa menghilangkan identitas spiritualnya,” tandas Sabida.(*)

BACA JUGA: Konflik Bersenjata Thailand-Kamboja: Cara Lama Khmer Merah Menghindari Perpecahan Internal

Exit mobile version