Site icon Jernih.co

100 Jurnalis Internasional Minat Izin Memasuki Gaza untuk Saksikan Rakyat Palestina Mati Kelaparan

JERNIH — Lebih 100 jurnalis internasional mendesak Israel mengizinkan pekerja media memasuki Gaza, untuk menyaksian kematian ratusan rakyat Palestina akibat kelaparan buatan manusia dan penyakit.

The Freedom To Report Initiative baru-baru ini mengajukan petisi ke pemerintah Israel agar diberi akses langsung ke Gaza, dan tanpa pengawasan, seiring peringatan PBB tentang kelaparan buatan manusia di Gaza yang diprediksi dapat membunuh ribuan orang.

New Arab melaporkan sedikitnya 180 warga Palesetina meninggal akibat kelaparan sejak pengepungan di wilayah kantong itu. Dari jumlah kematian itu, 93 adalah anak-anak. Muncul kekhawatiran jumlah korban tewas akibat kelaparan akan meningkat dalam beberapa pekan mendatang, kecuali bantuan penuh tanpa hambatan diizinkan memasuki Gaza.

Israel membantah Gaza berada di tengah bencana keleparan buatan manusia. Israel tidak mengizinkan media memasuki Gaza. Mereka yang nekad memasuki Gaza, dipastikan akan diburu dan dibunuh.

“Akses tanpa batas dan independen jurnalis asing sangat dibutuhkan,” kata The Freedom To Report Initiative. “Tidak hanya untuk mendokumentasikan kekejaman yang sedang berlangsung, tapi juga memastikan kebenaran perang tidak didikte oleh mereka yang mengendalikan senjata dan narasi.”

Gaza, menurut organisasi itu, adalah kasus paling mendesak tapi bukan satu-satuya. Gaza mencerminkan pola paling parah terhadap pembungkaman jurnais dan kebebasan pera.

“Jika dunia demokrasi benar benar ingin melawan erosi kebebasan, mereka tidak boleh menutup mata terhadap Gaza,” kata organisasi itu.

Di antara penandatangan petisi terdapat nama-nama besar. Mehdi Hasan sang pendiri Zeteo, Christiane Amanpour (CNN), dan fotografer perang Don McCullin.

Israel melarang jurnalis asing memasuki Gaza, kecuali membonceng kendaraan tempur Israel. Jurnalis tidak diizinkan bepergian sendirian selama di Gaza, tapi harus ditemani serdadu Israel.

Exit mobile version