Site icon Jernih.co

Ancaman Musim Panas di Gaza, Penyakit Kulit Mewabah Pasokan Obat Masih Diblokade

Foto: Al Jazeera

JERNIH – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan serius mengenai krisis kesehatan masyarakat yang kini melanda Jalur Gaza. Seiring masuknya musim panas, berbagai penyakit kulit dilaporkan menyebar dengan cepat di kamp-kamp pengungsian yang sesak, memicu kekhawatiran akan terjadinya darurat kesehatan yang lebih besar.

Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) menyatakan bahwa jumlah infeksi kulit telah meningkat tiga kali lipat dalam beberapa bulan terakhir. Suhu udara yang melonjak, kepadatan penduduk yang ekstrem, serta buruknya sanitasi menjadi tempat berkembang biak yang sempurna bagi penyakit kudis (scabies), cacar air, dan infeksi kulit lainnya, terutama pada anak-anak.

Fawzi al-Najjar, seorang warga Palestina yang mengungsi, menggambarkan kondisi mengerikan di kamp-kamp tersebut. “Ada sejuta orang berdesakan satu sama lain. Kami terpaksa tinggal di atas tempat pembuangan sampah. Anjing, kucing, kutu, dan tikus… lihat tangan saya!” ujarnya sambil menunjukkan luka infeksi.

Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak Oktober 2025, Israel tetap memberlakukan blokade ketat yang sangat membatasi masuknya pasokan medis esensial. Hal ini memaksa para pengungsi beralih ke pengobatan rumahan seadanya yang seringkali tidak efektif.

Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, menyebutkan bahwa di fasilitas pengungsian milik PBB saja, jumlah kasus melonjak dari sekitar 3.000 orang pada Januari menjadi hampir 10.000 orang pada Maret.

“Kami mendesak akses yang lebih luas bagi masuknya sampo antikutu, losion, perlengkapan kebersihan, hingga pestisida dan insektisida untuk mencegah darurat kesehatan masyarakat yang lebih parah,” tegas Dujarric.

Di Khan Younis, petugas kesehatan berupaya keras menyemprotkan disinfektan ke ribuan tenda. Namun, mereka menghadapi hambatan besar karena kelangkaan bahan kimia di pasar lokal akibat blokade.

“Dalam 26 hari, kami baru bisa menyemprot sekitar 50.000 tenda dari total 200.000 yang ada. Kami kesulitan menyediakan bahan yang dibutuhkan,” ungkap Saeb Lagan, juru bicara kotamadya Khan Younis.

Dr. Salim Ramadan, seorang dokter umum di Gaza, menjelaskan bahwa penyakit kulit sangat cepat menular melalui kontak fisik yang sulit dihindari di kamp pengungsian.

“Menangani pasien saat ini sangat sulit karena obat-obatan tidak tersedia. Selain itu, kondisi pasca-perawatan seperti nutrisi yang memadai, ventilasi yang baik, dan kebersihan juga tidak terpenuhi,” jelas Dr. Salim.

Exit mobile version