JERNIH — Ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk memasuki babak baru yang krusial. Sebuah bukti foto satelit terbaru beresolusi tinggi bocor ke publik, memperlihatkan adanya kerusakan fisik yang signifikan di pangkalan udara militer AS di Kuwait akibat serangan Iran pada Rabu (3/6/2026).
Bukti ini sekaligus membantah keras (contradicting) klaim sepihak militer AS yang sebelumnya sesumbar telah berhasil menggagalkan total serangan tersebut. Citra satelit yang dirilis oleh platform akses terbuka Soar Atlas menunjukkan hancurnya sebuah bungker/hanggar perlindungan pesawat (aircraft shelter) di Pangkalan Udara Ali Al Salem, yang terletak di sebelah barat Kota Kuwait.
“Hanggar pelindung tersebut tampak hancur total, dengan beberapa kawah bekas hantaman rudal (impact craters) yang terlihat jelas di sekitar lokasi ledakan,” tulis rilis resmi Soar Atlas berbasis analisis citra satelit mereka.
Pangkalan Udara Ali Al Salem sendiri merupakan pangkalan udara utama milik Amerika Serikat sekaligus menjadi pusat logistik paling kunci bagi seluruh operasi militer US CENTRAL COMMAND (CENTCOM) di kawasan Timur Tengah.
Munculnya bukti foto satelit ini berbanding terbalik 180 derajat dengan narasi resmi yang dikeluarkan Komando Pusat AS (CENTCOM). Sebelumnya, CENTCOM secara agresif mengklaim bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil menjatuhkan seluruh rudal dan drone yang mendekat, serta memastikan tidak ada aset Amerika yang tersentuh.
“Serangan hari Rabu gagal mengenai sasaran yang ditargetkan. Pertahanan udara kami berhasil menjatuhkan beberapa pesawat tanpa awak (drone) dan memastikan tidak ada personel maupun aset Amerika yang terluka atau rusak,” bunyi pernyataan resmi CENTCOM.
Namun, rekam jejak digital mencatat ini bukan pertama kalinya pangkalan tersebut kebobolan. Berdasarkan laporan berita pasca-serangan pada tanggal 30 Mei sebelumnya, puing-puing rudal Iran yang jatuh di pangkalan yang sama sempat melukai lima tentara Amerika Serikat.
Pihak Teheran sendiri menyatakan bahwa gelombang serangan udara ke Kuwait dalam beberapa hari terakhir merupakan aksi retaliasi (balas dendam) atas tindakan agresif AS sebelumnya.
Iran menuduh militer AS telah meluncurkan serangan udara ke kapal tanker minyak milik Iran serta fasilitas militer mereka di Pulau Qeshm. Berdasarkan intelijen Iran, serangan jet tempur AS ke wilayah mereka tersebut diterbangkan langsung dari pangkalan militer yang berada di Kuwait dan Bahrain.
Hantam Bandara Internasional, Korban Sipil Berjatuhan
Selain menyasar fasilitas militer AS, serangan udara Iran pada hari Rabu tersebut juga menghantam infrastruktur sipil, termasuk Bandara Internasional Kuwait. Kementerian Pertahanan Kuwait mengutuk keras serangan yang mereka sebut sebagai “agresi kriminal Iran” tersebut.
Dampak dari eskalasi serangan di sektor sipil ini dilaporkan cukup masif. Serangan di bandara menyebabkan 1 orang tewas dan 60 orang lainnya luka-luka. Rekaman kamera pengawas memperlihatkan detik-detik pesawat tanpa awak yang diduga kuat merupakan Drone Kamikaze Shahed menghantam atap bangunan Terminal 1, memicu ledakan bola api yang sangat besar. Kementerian Luar Negeri Kuwait menyatakan beberapa kantor misi diplomatik asing juga ikut mengalami kerusakan akibat reruntuhan material pasca-ledakan.
Merespons agresi militer yang mulai menyasar wilayah kedaulatannya, Pemerintah Kuwait langsung mengambil langkah diplomatik yang tegas. Kementerian Luar Negeri Kuwait resmi memerintahkan dua diplomat Iran untuk segera angkat kaki meninggalkan negara tersebut dan langsung memanggil Kuasa Usaha (Charge d’Affaires) Iran untuk menerima nota protes keras.
Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah keras bahwa mereka bertanggung jawab atas serangan yang menghantam kawasan bandara sipil tersebut.
