Site icon Jernih.co

Bantuan untuk Gaza yang Dilanda Kelaparan masih seperti Setetes Air di Lautan

Seorang anak yang menerima makanan hangat mencoba mengeluarkan wadah di antara kaki orang-orang yang mengantre untuk mendapatkan makanan (Foto: Getty)

Program Pangan Dunia telah memperingatkan bahwa bantuan kemanusiaan yang mencapai Gaza masih sangat tidak memadai untuk mengatasi kelaparan yang semakin parah dan mencengkeram daerah kantong itu.

JERNIH – Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bantuan yang diizinkan Israel masuk ke Gaza tetap seperti “setetes air di lautan”, beberapa hari setelah kelaparan secara resmi dinyatakan di wilayah Palestina yang dilanda perang itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan bencana kelaparan di Gaza pada hari Jumat (22/8/2025) menyalahkan hambatab sistematis bantuan yang dilakukan Israel selama perang hampir dua tahun di wilayah kantong tersebut.

Carl Skau, kepala operasi WFP, mengatakan bahwa selama dua minggu terakhir, telah terjadi sedikit peningkatan dalam bantuan yang masuk, rata-rata sekitar 100 truk per hari. “Itu masih setetes air di lautan jika kita bicara tentang membantu sekitar 2,1 juta orang,” kata Skau kepada kantor berita AFP saat berkunjung ke New Delhi.

“Kita membutuhkan tingkat bantuan yang benar-benar berbeda untuk dapat membalikkan arah bencana kelaparan ini.”

Inisiatif Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) yang berpusat di Roma mengatakan kelaparan mempengaruhi 500.000 orang di Gaza. Kelaparan didefinisikan sebagai kondisi ketika 20 persen rumah tangga menghadapi kekurangan pangan ekstrem, lebih dari 30 persen anak di bawah usia lima tahun mengalami kekurangan gizi akut, dan terdapat ambang batas kematian berlebih sedikitnya dua di antara 10.000 orang per hari.

Skau melukiskan gambaran suram tentang Gaza. “Tingkat keputusasaan begitu tinggi sehingga orang-orang terus mengambil makanan dari truk kami,” kata mantan diplomat Swedia tersebut.

“Dan ketika kami tidak mampu melakukan distribusi yang tertib dan tepat, kami tidak yakin bahwa kami telah menjangkau mereka yang paling rentan — para wanita dan anak-anak yang berada di kamp-kamp terpencil,” ujarnya. “Merekalah yang benar-benar perlu kita jangkau sekarang, jika kita ingin menghindari bencana skala penuh.”

320 Juta Orang di Dunia Alami Kelaparan Akut

Namun Skau juga memperingatkan bahwa Gaza hanyalah salah satu dari banyak krisis global, dengan beberapa zona kelaparan muncul secara bersamaan saat pendanaan donor runtuh. Sekitar 320 juta orang di seluruh dunia kini mengalami kerawanan pangan akut—hampir tiga kali lipat angka lima tahun lalu. Di saat yang sama, pendanaan WFP telah turun 40 persen dibandingkan tahun lalu.

“Saat ini, kita menyaksikan sejumlah krisis yang, jika terjadi di masa lain dalam sejarah, akan menjadi berita utama dan menjadi isu utama yang dibahas,” ujarnya.

Itu termasuk Sudan, di mana 25 juta orang “sangat tidak aman pangan”, termasuk 10 juta orang yang disebut Skau sebagai “fase kelaparan”. “Ini adalah krisis kelaparan dan kemanusiaan terbesar yang mungkin pernah kita saksikan dalam beberapa dekade — sejak akhir tahun 1980-an dengan bencana kelaparan di Ethiopia,” ujarnya.

“Kami memiliki 10 titik di Sudan yang telah terkonfirmasi mengalami kelaparan. Bencana ini tak terbayangkan besarnya.” Ia merinci bagaimana konvoi bantuan PBB pada bulan Juni mencoba menerobos pengepungan oleh Pasukan Dukungan Cepat (RSF) paramiliter di kota El-Fasher, Sudan, di Darfur, namun konvoi truk tersebut malah terkena serangan pesawat tak berawak yang mematikan.

Presiden AS Donald Trump memangkas bantuan luar negeri setelah menjabat, memberikan pukulan berat bagi operasi kemanusiaan di seluruh dunia. “Kami sedang mengalami krisis pendanaan, dan tantangannya di sini adalah kebutuhan yang terus meningkat”, kata Skau.

Exit mobile version