JERNIH – Ambisi Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang dengan Iran melalui skema negosiasi kilat mendapati jalan buntu. Laporan analisis mendalam dari The Guardian mengungkap bahwa Gedung Putih kini menghadapi lawan yang menolak tunduk pada tekanan diplomasi Washington, memicu kebuntuan (standoff) di mana kedua belah pihak saling mengunci demi mengamankan posisi tawar (leverage).
Krisis diplomasi ini meruncing setelah Trump berulang kali mengklaim bahwa negosiasi baru dengan Teheran tengah berlangsung dan kesepakatan sudah di depan mata. Tudingan tersebut langsung dibantah mentah-mentah oleh pemerintah Iran.
Donald Trump sebelumnya mengklaim bahwa kesepakatan baru dapat dicapai hanya dalam hitungan hari. Ia bahkan menyatakan bahwa “parameter kesepakatan” mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan program nuklir Iran telah berhasil dirumuskan.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah keras klaim Gedung Putih tersebut. “Kami sama sekali tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat,” tegas Baghaei.
Baghaei menjelaskan bahwa fokus diplomasi Iran saat ini berpusat di Oman khusus untuk membahas keamanan navigasi di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa setiap kesepakatan potensial di masa depan tidak akan mengembalikan status Selat Hormuz ke kondisi semula. Teheran bertekad menerapkan mekanisme baru untuk mencegah koridor energi strategis tersebut dimanfaatkan oleh negara-negara yang telah melakukan agresi militer terhadap Iran.
Analisis The Guardian garis bawahi bahwa dinamika utama perang sebenarnya belum bergeser. Teheran tetap memegang kendali penuh untuk melumpuhkan atau mengganggu jalur pelayaran Selat Hormuz—urat nadi yang mengalirkan porsi signifikan pasokan energi global. Meski AS memiliki keunggulan daya gempur militer masif, Pentagon menghadapi kesulitan besar dalam mengidentifikasi target-target strategis baru yang mampu memaksa Teheran berlutut.
Pemerintahan Trump dilaporkan telah berupaya mengakhiri perang ini sejak April 2026, namun tiga kali kesepakatan gencatan senjata terbukti gagal di tengah jalan.
Situasi ini kian menghimpit posisi politik dalam negeri Trump menjelang Pemilu Sela (Midterm Elections). Hasil jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan bahwa dukungan publik AS terhadap Perang Iran berada di titik terendah: kurang dari sepertiga warga AS yang mendukung operasi militer ini, sementara 69% menilai Trump gagal menjelaskan tujuan strategis keterlibatan militer AS di kawasan tersebut.
Seni berperang Teheran saat ini mengandalkan doktrin “Ketidakpastian sebagai Alat Tawar” (uncertainty as a negotiating tool). Dengan menjaga harga minyak dunia tetap bergejolak dan menekan sekutu-sekutu AS di Teluk, Iran berhasil menaikkan posisi tawarnya tanpa harus terlibat dalam negosiasi formal yang merugikan.
Analis senior dari Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai pendekatan Teheran dirancang khusus untuk memukul balik psikologis Washington.
“Iran berada di titik di mana mereka menganggap duduk diam dan melakukan putaran diplomasi tanpa akhir bukanlah jalan keluar terbaik,” ujar Vatanka. “Mereka memaksa Washington untuk mengkaji ulang posisinya dan mencari jalan keluar yang berbeda.”
Meski demikian, perang gesekan ini juga memakan korban di pihak Iran. Blokade ekonomi yang digalang AS terus mempersempit jalur perdagangan internasional Teheran, menciptakan urgensi domestik bagi otoritas Iran dalam memperhitungkan kalkulasi langkah geopolitik mereka selanjutnya.
