JERNIH — Raksasa kedirgantaraan asal Amerika Serikat, Boeing, secara resmi menyatakan telah menghentikan kampanye penjualan jet tempur F-15EX ke Indonesia. Keputusan ini mengakhiri negosiasi panjang selama bertahun-tahun, tepat di tengah meningkatnya spekulasi mengenai ketertarikan Jakarta terhadap jet tempur J-10C buatan China.
Pengumuman ini disampaikan langsung oleh Wakil Presiden Pengembangan Bisnis dan Strategi Boeing Defence, Bernd Peters, di sela-sela ajang Singapore Airshow, Selasa (3/2/2026). “Terkait kemitraan (F-15) kami dengan Indonesia, hal itu bukan lagi kampanye aktif bagi kami,” tegas Bernd Peters kepada awak media.
Keputusan Boeing ini mengejutkan banyak pihak, mengingat Indonesia telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) untuk pengadaan hingga 24 unit F-15EX (F-15IDN) saat kunjungan Prabowo Subianto ke AS pada tahun 2023. Namun, karena sifat MoU yang tidak mengikat secara hukum, Jakarta urung melanjutkan kontrak tersebut.
Padahal, pada April 2025, Boeing sempat menawarkan skema investasi yang sangat menggiurkan untuk memikat Indonesia, termasuk janji konten lokal sebesar 85 persen.
“Jika Indonesia memilih F-15EX, Boeing akan memenuhi komitmen konten lokal dan offset sebesar 85 persen, selaras dengan prioritas pertahanan dan industri nasional,” ujar Presiden Boeing Asia Tenggara, Penny Burtt, dalam pengarahan media tahun lalu.
Sejumlah analis menduga tantangan pembiayaan menjadi faktor utama mandeknya kesepakatan ini. Boeing sendiri dikabarkan sempat mengkhawatirkan kemampuan finansial Indonesia untuk memenuhi kewajiban kontrak jangka panjang tersebut.
Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto sejak Oktober 2024, Indonesia secara agresif melakukan modernisasi militer namun dengan strategi diversifikasi pemasok guna menghindari ketergantungan pada satu negara.
Setelah sukses mendatangkan tiga unit pertama jet tempur Rafale asal Prancis pada 27 Januari 2026, kini sorotan tertuju pada jet tempur J-10C milik China. Tawaran China ini disebut-sebut lebih ekonomis dan telah “teruji tempur”.
Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, memberikan sinyal kuat mengenai potensi akuisisi ini pada Oktober 2025 lalu. “Mereka (J-10C) akan segera terbang di atas Jakarta,” ungkap Sjafrie, menggarisbawahi ambisi modernisasi TNI AU.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, menambahkan bahwa saat ini semua opsi masih dalam pengkajian mendalam. “Saat ini kami mempertimbangkan semua platform yang dapat memenuhi kebutuhan kami untuk menjaga kedaulatan dan integritas wilayah,” jelasnya.
Jika Indonesia benar-benar mengakuisisi J-10C, Indonesia akan menjadi negara Asia Tenggara pertama yang mengoperasikan jet tempur modern buatan China. Namun, para pengamat mengingatkan adanya tantangan besar dalam integrasi sistem.
Pengoperasian armada yang beragam—mulai dari F-16 (AS), Sukhoi (Rusia), Rafale (Prancis), hingga potensi J-10C (China) dan KAAN (Turki)—akan membuat manajemen logistik dan biaya perawatan menjadi sangat kompleks dan mahal. Selain itu, aspek geopolitik juga membayangi; pakar militer memprediksi AS kemungkinan akan enggan melakukan operasi gabungan jika Indonesia mengintegrasikan teknologi tempur China ke dalam sistem pertahanannya.
