Kesepakatan gencatan senjata yang baru saja diteken Amerika Serikat dan Iran bukan sekadar jeda perang biasa. Di balik layar, terdapat pergeseran geopolitik sangat signifikan. Donald Trump tampaknya mulai melunak terhadap tuntutan-tuntutan maksimal Teheran demi mengakhiri konflik enam minggu yang menghancurkan ini.
JERNIH – Dunia sempat menahan napas pada Selasa (7/4/2026) malam ketika ketegangan mencapai puncaknya. Hanya beberapa jam setelah Donald Trump mengancam akan melenyapkan “seluruh peradaban Iran”, sebuah pengumuman mengejutkan muncul: AS menerima proposal gencatan senjata 10 poin dari Iran sebagai dasar negosiasi.
Melalui mediasi ketat dari Pakistan, kedua negara sepakat untuk melakukan gencatan senjata selama dua pekan. Namun, pemeriksaan lebih dalam terhadap poin-poin kesepakatan menunjukkan adanya potensi konsesi besar dari pihak Washington yang sebelumnya dianggap mustahil.
Meskipun Trump mengeklaim militer AS telah mencapai semua tujuannya, detail proposal yang dirilis Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran justru menunjukkan narasi yang berbeda. Teheran merasa berada di atas angin dengan mengajukan tuntutan yang sangat berani.
Seperti pengakuan hak pengayaan uranium dan pencabutan seluruh sanksi, penarikan total pasukan AS dari kawasan Timur Tengah, kontrol penuh atas Selat Hormuz tetap berada di tangan Iran, pembayaran kompensasi atas kerugian yang dialami Iran selama perang serta jaminan hukum melalui resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengikat secara hukum.
Sebagai imbalannya, Iran berkomitmen untuk tidak membangun senjata nuklir—sebuah janji yang menurut media Iran telah memaksa “Amerika yang kriminal” untuk menyerah.
Donald Trump mencoba meredam kesan bahwa AS sedang mundur. Pada Rabu (8/4/2026) pagi, ia menegaskan melalui Truth Social, “Tidak akan ada pengayaan Uranium,” dan mengeklaim Iran akan menyerahkan stok material yang diperkaya.
Namun, fakta bahwa Gedung Putih bersedia membahas proposal 10 poin Iran menandai perubahan arah yang drastis. Sebelum perang, Trump menuntut Teheran memutuskan hubungan dengan proksi regional dan menghentikan program rudal secara total. Kini, isu-isu sensitif seperti status Selat Hormuz dan penarikan militer AS—yang selama dekade menjadi pilar stabilitas energi dunia bagi AS—kini justru masuk dalam agenda pembahasan.
Teka-Teki Selat Hormuz: Protokol “Safe Passage”
Masih ada ketimpangan informasi mengenai pembukaan Selat Hormuz. Trump mengeklaim pembukaan “total dan segera”, namun media semi-resmi Iran, Fars, menyebutkan adanya protokol “Safe Passage” yang sangat terbatas.
Passage hanya berlaku terbatas selama dua minggu di bawah pengawasan hukum spesifik Iran. Laporan menyebut Iran akan tetap menarik biaya transit sebesar US$2 juta per kapal, yang berpotensi menghasilkan miliaran dolar pendapatan baru bagi Teheran. Oman dikabarkan akan berbagi hasil, meskipun Muscat telah membantah keterlibatan dalam pemungutan biaya tersebut.
Titik paling rawan yang bisa merusak gencatan senjata ini adalah Lebanon. Meskipun PM Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan gencatan senjata berlaku “di mana saja termasuk Lebanon”, kenyataan di lapangan berkata lain.
Israel terus membombardir Lebanon Selatan dan bersikeras bahwa mereka tidak terikat oleh kesepakatan AS-Iran. Teheran telah memperingatkan akan mengakhiri gencatan senjata jika serangan Israel ke Lebanon tidak dihentikan dalam beberapa jam ke depan.
Negosiasi formal dijadwalkan dimulai pada Jumat (10/4/2026) di Islamabad. Fokus dunia kini tertuju pada apakah tim negosiasi Trump akan bertemu langsung dengan delegasi Iran atau tetap melalui perantara. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyatakan opsi pertemuan langsung masih dalam pertimbangan.
