Site icon Jernih.co

Diplomasi Islamabad Gagal, Perang Bergeser ke Laut, AS Siapkan Blokade Total Selat Hormuz

Foto: Getty

Jika sebelumnya perang ini didominasi oleh serangan udara dan darat, kegagalan diplomasi di Islamabad secara resmi menggeser episentrum konflik ke perairan strategis. Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur dagang, melainkan medan tempur utama.

JERNIH – Harapan akan perdamaian di Timur Tengah resmi terkubur seiring runtuhnya perundingan di Islamabad. Dampaknya, peta peperangan kini mengalami pergeseran drastis: dari serangan udara dan darat, kini menuju front maritim yang lebih luas dan berbahaya.

Presiden Donald Trump telah menginstruksikan Komando Pusat AS (CENTCOM) untuk memulai blokade total terhadap seluruh pelabuhan Iran mulai Senin ini pukul 14.00 GMT. Langkah ini dipandang sebagai upaya Washington untuk mengambil alih kendali Selat Hormuz secara paksa.

Konflik yang semula terkonsentrasi di Lebanon dan wilayah udara Iran kini meluas ke laut. Blokade AS ini akan menyasar seluruh kapal yang keluar-masuk wilayah pesisir Iran, baik di Teluk Arab maupun Teluk Oman.

Trump mengeklaim langkah ini bertujuan untuk “membersihkan ranjau” dan menjamin kebebasan navigasi. Namun, Iran merespons dengan keras dan menyebut pergeseran front ke laut ini sebagai tindakan “bajak laut kriminal”. Iran menegaskan akan menerapkan “mekanisme permanen” untuk tetap menguasai Selat Hormuz, meski harus menghadapi blokade AS.

Pergeseran perang ke laut membawa risiko keamanan bagi seluruh negara di kawasan Teluk. Militer Iran telah mengeluarkan peringatan terbuka, jika pelabuhan mereka tidak aman akibat blokade AS, maka tidak ada satu pun pelabuhan milik sekutu AS di Teluk Arab maupun Teluk Oman yang akan aman dari serangan balasan.

Tanda-tanda ketegangan maritim ini mulai terlihat nyata ketika beberapa kapal tanker internasional, termasuk dua tanker asal Pakistan, melakukan manuver putar balik darurat sesaat setelah perundingan diplomatik dinyatakan gagal.

Meski fokus bergeser ke laut, ancaman dari udara tidak meredup. Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, telah memerintahkan status kesiapan tertinggi bagi pasukannya. Israel kini hanya menunggu “lampu hijau” dari Gedung Putih untuk kembali meluncurkan bombardemen ke infrastruktur strategis Iran.

Trump sendiri telah memberikan sinyal bahwa target berikutnya adalah fasilitas vital seperti pembangkit listrik dan kilang desalinasi Iran yang menurutnya sangat mudah untuk dihancurkan.

Di tengah persiapan blokade laut, pertempuran di darat tetap berkecamuk. Pasukan Israel masih berupaya mengepung kota strategis Bint Jbeil di Lebanon Selatan untuk memutus jalur logistik Hizbullah. Eskalasi ini terjadi bahkan saat utusan Lebanon dan Israel dijadwalkan bertemu di Washington pada Selasa esok, sebuah diplomasi yang kini diragukan efektivitasnya.

Exit mobile version