JERNIH – Lebih dari 400 aktivis kemanusiaan pro-Palestina yang ditahan oleh militer Israel setelah kapal mereka dicegat di perairan internasional kini mulai dipindahkan untuk proses deportasi. Langkah ini diambil di tengah gelombang kecaman global atas munculnya laporan mengenai penyiksaan, kekerasan fisik, hingga pelecehan seksual selama mereka berada dalam tahanan Israel.
Lembaga advokasi hukum Israel, Adalah, menyatakan pada hari Kamis bahwa pihak Layanan Penjara Israel dan otoritas negara telah mengonfirmasi bahwa sekitar 430 peserta misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) dipindahkan ke Bandara Ramon di Be’er Ora, Israel selatan, sebelum diterbangkan keluar dari negara tersebut.
Misi armada kapal bantuan ini awalnya bertujuan untuk menembus blokade ketat Israel di Jalur Gaza dan mendistribusikan bantuan logistik kemanusiaan darurat bagi warga sipil yang kelaparan di sana.
Pihak Ankara mengonfirmasi telah mengambil langkah cepat untuk memulangkan para aktivis setelah sekitar 50 kapal kemanusiaan yang berangkat dari Turki pekan lalu dicegat secara paksa oleh pasukan angkatan laut Israel di lepas pantai Siprus.
“Kami berencana membawa warga negara kami serta para peserta dari negara ketiga ke Turki melalui penerbangan charter khusus yang kami organisasikan hari ini,” tegas Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam pernyataan resminya.
Di sisi lain, Adalah memperingatkan bahwa seluruh rangkaian operasi militer Israel—mulai dari pencegatan ilegal di perairan internasional hingga penahanan sewenang-wenang dan penyiksaan aktivis damai—merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
Kemarahan publik internasional meledak setelah para aktivis dibawa ke pelabuhan Ashdod. Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben-Gvir, mengunggah sebuah video di platform X dengan takarir “Welcome to Israel”.
Dalam rekaman tersebut, puluhan aktivis dipaksa berlutut dengan tangan terikat ke belakang dan dahi ditekan ke lantai beton, sementara lagu kebangsaan Israel diputar sebagai latar belakang. Ben-Gvir juga terlihat mengibarkan bendera Israel sambil meneriaki para tahanan yang tidak berdaya.
Sampai saat ini, otoritas resmi militer maupun pemerintah Israel belum memberikan tanggapan publik terkait berbagai tuduhan pelanggaran hak asasi manusia tersebut.
Salah satu figur yang teridentifikasi dalam video penyiksaan tersebut adalah Malcolm Ducker (72), seorang veteran sekaligus mantan pilot Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF). Putrinya, Clare Azzougarh, mengonfirmasi bahwa sang ayah berada dalam posisi stres ekstrem yang dikategorikan sebagai tindakan penyiksaan.
Azzougarh mengecam keras kelalaian pemerintah Inggris yang dinilai gagal melindungi warga negaranya demi kepentingan politik. “Fakta bahwa ayah saya, seorang veteran RAF berusia 72 tahun, ditempatkan dalam posisi stres berat yang setara dengan penyiksaan—kepalanya dipaksa menempel ke beton dan tangannya diikat rante plastik di belakang leher—sementara pemerintah tidak mengambil tindakan serius, adalah sebuah penghinaan. Jelas sekali bahwa pemerintah membiarkan politik impunitas untuk Israel mengintervensi kewajiban mereka dalam melindungi warga negaranya sendiri,” ujar Azzougarh berang.
Merespons tekanan publik yang meluas, Kementerian Luar Negeri Inggris akhirnya resmi memanggil Kuasa Usaha (Charge d’Affaires) Israel di London untuk dimintai keterangan. Langkah diplomatik serupa juga telah diambil oleh pemerintah Spanyol dan Polandia yang warga negaranya turut menjadi korban dalam insiden pencegatan tersebut.
Misi Sumud Flotilla ini menjadi upaya ketiga dalam kurun waktu satu tahun terakhir yang mencoba mendobrak blokade puluhan tahun Israel atas Gaza, di mana masyarakat Palestina terus menghadapi kelangkaan katastrofik atas makanan, air bersih, obat-obatan, dan bahan bakar akibat perang.
