Site icon Jernih.co

Eks Pilot Jet Siluman F-35 Inggris Membelot, Latih Angkatan Udara China Cara Jatuhkan Pesawat NATO

JERNIH — Sebuah skandal spionase dan keamanan siber militer mengguncang Inggris dan aliansi NATO. Sejumlah mantan pilot tempur Angkatan Udara Kerajaan Inggris (RAF) dan Angkatan Laut Kerajaan dilaporkan telah membelot secara terselubung demi uang. Mereka direkrut oleh Beijing untuk melatih para pilot Angkatan Udara Tentara Pembebasan Rakyat China (PLAAF) mengenai taktik menjatuhkan jet tempur Barat.

Lebih mencengangkan lagi, laporan investigasi media Inggris The Daily Mail mengungkapkan bahwa beberapa dari instruktur bayaran ini adalah pilot dengan kualifikasi elite sekelas sekolah “Top Gun” AS dan beberapa di antaranya terlibat langsung dalam pengembangan jet tempur siluman tercanggih Barat, F-35B.

Mantan perwira intelijen Angkatan Darat Inggris, Kolonel Philip Ingram, mengutuk keras aksi tersebut. “Apa yang dilakukan para pilot ini… hanya bisa digambarkan sebagai tindakan yang menyerempet pengkhianatan (touching on treason). Ini menjijikkan. Mereka seharusnya sangat malu karena tindakan mereka membahayakan personel militer masa depan dan memfasilitasi potensi musuh untuk membunuh mereka,” tegas Ingram.

Menurut laporan tersebut, mengutip Eurasian Times, China telah merekrut sedikitnya 18 pilot veteran Inggris melalui agen perantara. Mereka diiming-imingi paket kompensasi yang fantastis senilai £250.000 (sekitar Rp5,1 miliar) per tahun. Tak hanya gaji selangit, mereka juga dimanjakan dengan fasilitas mewah seperti apartemen kelas atas cuma-cuma, tiket pesawat gratis pulang-pergi serta biaya sekolah anak yang ditanggung penuh oleh Beijing.

Sebagai imbalannya, para veteran ini diterbangkan ke pangkalan militer terpencil di pelosok China. Di sana, mereka menelanjangi taktik udara NATO dengan mengajarkan pilot-pilot Angkatan Udara China cara bermanuver di udara, mengebom target darat strategis, hingga teknik melumpuhkan jet tempur musuh dari jarak jauh (32–40 kilometer).

Media tersebut bahkan memublikasikan foto tiga mantan pilot RAF—diidentifikasi sebagai James Milmine, Sam Cowan, dan Duncan Forbes—yang berpose jumawa di depan jet tempur J-11 milik China di sebuah pangkalan militer rahasia. Forbes sendiri diketahui merupakan mantan instruktur di sekolah elite Top Gun San Diego, AS.

Ironisnya, badan intelijen domestik Inggris (MI5) dan badan intelijen luar negeri (MI6) sebenarnya sudah mengetahui aktivitas “jual-beli” keahlian militer ini sejak lama dan terus memantau pergerakan para pilot tersebut.

Namun, agen intelijen Inggris awalnya tidak bisa melakukan tindakan hukum atau menangkap mereka. Hal ini dikarenakan adanya celah hukum (legal loophole) yang longgar dalam regulasi keamanan nasional Inggris kala itu, di mana tidak ada larangan hukum yang tegas bagi mantan personel militer untuk membagikan keahlian perang mereka ke sektor swasta asing. Inggris baru memperketat aturan ini setelah mengesahkan National Security Act pada tahun 2023.

Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) sendiri sempat mengeluarkan “peringatan ancaman” (threat alert) setelah mengonfirmasi ada sekitar 30 mantan pilot Inggris yang berada di China. Mereka menegaskan bahwa praktik ini adalah “ancaman nyata bagi kepentingan Inggris dan Barat.”

Jaringan Global dan Modus Pembajakan Pilot NATO

Strategi China dalam berburu pilot Barat ternyata terstruktur rapi secara global melalui kedok sekolah penerbangan di Afrika Selatan, yaitu Test Flying Academy of South Africa (TFASA). Terletak di kota gurun Oudtshoorn, sekolah ini diduga kuat didirikan untuk memfasilitasi kerja sama terselubung dengan China. TFASA sendiri telah dijatuhi sanksi oleh AS.

Selain Inggris, China juga gencar memburu pilot dari negara anggota NATO lain seperti Amerika Serikat, Kanada, Italia, dan Jerman. Sebelumnya muncul kasus Gerald Eddie Brown Jr (AS), eks pilot Angkatan Udara AS dengan call sign “Runner” ditangkap oleh Departemen Kehakiman AS setelah kembali dari China atas tuduhan melatih pilot militer PLAAF tanpa izin resmi.

Ada pula Kasus Daniel Duggan (AS/Australia). Mantan pilot Korps Marinir AS (USMC) ditangkap di Australia. Duggan dibayar mahal oleh China untuk mengajarkan teknik yang sangat sulit dan mematikan, mendaratkan jet tempur di atas kapal induk (carrier landing).

Surat kabar Jerman Der Spiegel juga pernah membongkar bahwa beberapa mantan perwira Angkatan Udara Jerman menggunakan perusahaan cangkang di Kepulauan Seychelles sebagai perantara untuk melatih pilot-pilot China.

Secara kuantitas dan kecanggihan perangkat keras (alutsista), militer China berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, mereka memiliki satu kelemahan besar: kurangnya pengalaman tempur riil (real-world experience) dan pelatihan taktis yang realistis.

Melalui para pembelot NATO ini, China mencoba mencuri wawasan mendalam tentang doktrin pertempuran udara, teknik peperangan elektronik, serta taktik penekanan pertahanan udara musuh (Suppression of Enemy Air Defenses/SEAD) yang digunakan Barat.

Juga mencuri formula untuk merancang sistem penangkal (countermeasures) yang efektif guna melumpuhkan keunggulan udara Amerika Serikat dan sekutunya jika perang pecah di masa depan.

Aliansi intelijen “Five Eyes” (AS, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru) dalam pernyataan bersamanya telah menetapkan aktivitas perekrutan masif oleh China ini sebagai ancaman yang “persisten dan berbahaya” bagi keselamatan seluruh personel militer Barat.

Exit mobile version