Dari akademi Juventus, merengkuh Scudetto bersama Inter Milan, hingga kini menjadi pahlawan di bawah mistar gawang Skuad Garuda.
WWW.JERNIH.CO – Aksi heroiknya menepis eksekusi penalti Nasser Sultan pada menit ke-37 tidak hanya menjaga keunggulan Indonesia, tetapi juga membakar semangat skuad Garuda hingga sukses menyudahi pertandingan dengan kemenangan telak 3-0.
Penyelamatan krusial ini menjadi bukti nyata bahwa Indonesia kini memiliki sosok “tembok raksasa” yang sangat bisa diandalkan di bawah mistar gawang.
Emilio Audero Mulyadi nama lengkap kiper jempolan ini. Lahir pada 18 Januari 1997 di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia lahir dari pasangan beda negara yang memberikan perpaduan budaya yang unik dalam hidupnya.
Sang ayah Edy Mulyadi, seorang pria asli Indonesia yang berasal dari Lombok, NTB. Sementara ibunya Antonella Audero, seorang wanita berkebangsaan Italia.
Meskipun lahir di Indonesia, Emil tidak menetap lama di tanah kelahirannya. Pada tahun 1998, saat usianya baru menginjak satu tahun, keluarganya memutuskan untuk pindah ke Cumiana, sebuah kota kecil di wilayah Turin, Italia, yang merupakan kampung halaman ibunya.
Di sanalah Emil tumbuh besar dan mulai mengenal dunia sepak bola. Perjalanan kewarganegaraannya sempat berliku; ia sempat kehilangan status WNI pada usia 21 tahun karena hukum Indonesia yang membatasi kewarganegaraan ganda, namun ia resmi memperoleh kembali paspor Indonesia-nya pada Maret 2025 demi membela panah Merah Putih.
Bakat Emil Audero sebagai penjaga gawang sudah tercium sejak usia sangat muda. Dengan postur menjulang setinggi 192 cm, ia memiliki modal fisik yang sempurna untuk seorang kiper modern.
Karier juniornya dibangun di akademi salah satu klub terbesar di dunia, Juventus, sejak tahun 2008. Ia bahkan sempat menembus skuad utama I Bianconeri dan menjadi kiper pilihan ketiga di bawah legenda hidup Gianluigi Buffon. Emil mencatatkan debut profesionalnya di Serie A bersama Juventus pada Mei 2017 saat melawan Bologna.
Demi jam terbang, Emil sempat dipinjamkan ke Venezia dan kemudian pindah permanen ke Sampdoria dalam kesepakatan bernilai 20 juta euro — angka yang fantastis untuk seorang penjaga gawang muda. Di Sampdoria, namanya semakin melambung dengan total 169 penampilan.
Reputasinya yang apik membawanya merasakan atmosfer juara saat dipinjam oleh Inter Milan pada musim 2023-2024, di mana ia ikut mengangkat trofi Scudetto Serie A.
Secara personal, Emil dikenal sebagai sosok yang sangat disiplin, tenang, dan memiliki mentalitas pemenang. Tempaan kompetisi taktis Italia membuatnya menjadi kiper yang tidak hanya mengandalkan refleks, tetapi juga pembacaan permainan yang jeli dan komunikasi yang vokal dalam mengatur lini pertahanan.
Meskipun menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Italia dan sempat membela tim nasional kelompok umur Italia (dari U-15 hingga U-21), Emil tidak pernah benar-benar melupakan akar Indonesianya. Salah satu bukti kedekatannya dengan tanah kelahiran adalah kebiasaannya mengenakan gelang khas Lombok di pergelangan tangannya.
Pilihan hidupnya untuk kembali memeluk status WNI dan memperkuat skuad Garuda menunjukkan rasa hormat dan cinta yang mendalam terhadap tanah kelahirannya, melampaui segala polemik masa lalu.(*)
BACA JUGA: Mengukur Kekuatan Oman dan Peluang Indonesia Curi Kemenangan
