Site icon Jernih.co

Empat Sektor Bulutangkis Indonesia Terlalu Lama Puasa Gelar All England

Tidak seperti ganda putra yang kerap panen, empat sektor paceklik berpuluh tahun. Akankah 2026 berhasil menjebol paceklik gelar khususnya tunggal putri?

WWW.JERNIH.CO – Membahas masa “puasa gelar” Indonesia di All England memang memberikan perspektif menarik tentang naik-turunnya prestasi kita di kancah dunia. Meskipun Indonesia dikenal sebagai raksasa bulu tangkis, ada beberapa sektor yang harus menunggu puluhan tahun untuk kembali naik ke podium tertinggi di Birmingham.

Berikut adalah daftar masa penantian atau “puasa gelar” terlama yang pernah dialami Indonesia per sektor:

 Sektor Tunggal Putri (31 Tahun)

Ini adalah rekor puasa gelar terlama bagi Indonesia di satu sektor spesifik. Juara terakhir adalah Susy Susanti pada tahun 1994. Hingga gelaran All England 2025 ini, Indonesia belum pernah lagi mencicipi gelar juara di tunggal putri.

Meskipun sempat ada harapan melalui Mia Audina atau Lindaweni Fanetri, dominasi pemain seperti Carolina Marin, Tai Tzu Ying, hingga An Se-young membuat sektor ini menjadi yang paling sulit ditembus oleh srikandi Indonesia selama lebih dari tiga dekade.

Sektor Tunggal Putra (30 Tahun)

Sebelum kemenangan dramatis pada tahun 2024, sektor ini pernah mengalami masa kekosongan yang sangat panjang. Juara sebelumnya yakni Hariyanto Arbi pada tahun 1994.

Jonatan Christie pada tahun 2024 memecahkan telur. Rentang waktu 30 tahun. Selama tiga dekade tersebut, Indonesia berkali-kali mengirimkan pemain top seperti Taufik Hidayat, namun langkah mereka selalu terhenti di final atau semifinal oleh pemain seperti Lin Dan atau Lee Chong Wei.

Sektor Ganda Campuran (33 Tahun)

Sektor ini sempat mengalami kevakuman prestasi yang sangat lama sebelum era emas Tontowi/Liliyana. Juara sebelumnya adalah Christian Hadinata/Imelda Wiguna pada tahun 1979.

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir pada tahun 2012 kembali merebut. Artinya dalam rentang waktu selama 33 tahun.

Kemenangan Tontowi/Liliyana di tahun 2012 tidak hanya memutus kutukan, tapi mereka langsung mencetak hat-trick juara (2012, 2013, 2014), sebuah pencapaian langka di ganda campuran.

Sektor Ganda Putri (45 Tahun ke Atas)

Sektor ini memiliki catatan yang cukup unik dan menyedihkan bagi sejarah bulu tangkis kita di All England. Juara terakhir yaitu Verawaty Fadjrin/Imelda Wiguna pada tahun 1979.

Hingga 2025 belum ada lagi pasangan ganda putri Indonesia yang berhasil juara sejak saat itu. Artinya, Indonesia sudah puasa gelar ganda putri selama 47 tahun.

Greysia Polii/Apriyani Rahayu memang berhasil meraih emas Olimpiade 2020, namun mereka belum sempat mencicipi gelar All England sebelum pensiun. Harapan kini ada di pundak Siti Fadia/Amallia Cahaya Pratiwi.

Sementara di sektor Ganda Putra adalah yang paling mengangumkan. Terutama pada era 2022 hingga 2024. Muhammad Shohibul Fikri/Bagas Maulana, juara sebagai debutan 2022. Tahun 2023 Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto jadi juara pertama kali. Lalu mereka mempertahankannya pada 2024.(*)

BACA JUGA: Indonesia Kirim 25 Atlet Bulutangkis ke All England 2026

Exit mobile version