JERNIH — Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza telah menyentuh titik nadir yang mengancam ketahanan hidup jangka panjang penduduknya. Laporan terbaru dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO) merilis temuan mutakhir berbasis analisis citra satelit bahwa hanya 3 persen lahan pertanian di Gaza yang masih dapat diakses dan tidak mengalami kerusakan.
Padahal, sebelum letusan konflik pada Oktober 2023, sektor pertanian menyumbang sekitar 10 persen dari total perekonomian Gaza dan menjadi penopang utama mata pencaharian bagi lebih dari 560.000 jiwa.
Laporan tersebut menyoroti bahwa sejak klaim gencatan senjata rapuh disepakati pada Oktober 2025, luas lahan pertanian yang utuh dan aman dipangkas lagi sebesar 25,5 persen—menyusut drastis dari 601 hektar menjadi tersisa 448 hektar.
Direktur Kantor Darurat dan Ketahanan FAO, Rein Paulsen, menegaskan bahwa tanpa intervensi darurat untuk memulihkan akses aman bagi para petani, peluang Gaza untuk memproduksi pangannya sendiri akan sirna sepenuhnya.
“Tanpa tindakan mendesak untuk memulihkan akses yang aman dan memberikan dukungan yang dibutuhkan para petani, peluang untuk memulihkan produksi pangan lokal akan terus memudar,” ujar Paulsen.
Penyusutan tajam akses lahan ini utamanya disebabkan oleh perluasan ekspansi ke arah barat dari Yellow Line (Garis Kuning)—garis demarkasi yang memisahkan zona pemukiman warga dari wilayah yang dikuasai penuh oleh militer Israel.
Data PBB mengungkapkan bahwa di balik klaim gencatan senjata sejak Oktober 2025, militer Israel dilaporkan masih melancarkan serangan harian yang menewaskan lebih dari 1.300 jiwa, serta mempertahankan kontrol penuh atas hampir 70 persen wilayah Gaza. Total korban jiwa sepanjang konflik ini tercatat telah menembus lebih dari 73.000 orang.
Dengan kehancuran fasilitas fisik seperti rumah kaca yang menyusut hingga 224 hektar serta pemblokiran impor pakan ternak, Gaza kini tidak hanya berhadapan dengan bahaya serangan militer langsung, melainkan krisis kelaparan sistematis yang sengaja diciptakan akibat hancurnya fondasi agrikultur lokal.
